Renungan Ramadan

Dari Zikir ke Wirid

Sabtu, 17 June 2017 09:30 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

ZIKIR berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut, mengucapkan, mengagungkan, menyucikan, dan mengingat.

Dzikrullah biasa diartikan berarti menyebut-nyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya, sedangkan wirid berasal dari akar kata warada-yaridu-wuruda. Wirdun berarti datang, sampai, mendatangi, menyebutkan.

Wirid seakar kata dengan wardah yang berarti bunga mawar.

Kata dzikr dan wirid dari segi bahasa memiliki makna yang sama, yaitu menyebut atau mennyucikan.

Dalam pengertian populer, zikir lebih banyak berarti penyebutan dan penyucian nama Allah SWT. Sama dengan pengertian populer dari wirid.

Makna zikir dan wirid termasuk membaca kalam Allah, yakni Alquran.

Keduanya juga sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bedanya hanya dari segi ketentuan penyebutan dan pengungkapan.

Jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaan zikir biasanya tidak ditentukan.

Kapan pun dan di mana pun bebas menjalankan zikir.

Sementara itu, jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalan wirid biasanya ditentukan.

Bacaan yang dibaca pada waktu zikir tidak ditentukan, bergantung pada apa yang dihafal atau apa yang dikuasainya.

Sementara itu, dalam wirid, jenis bacaan sudah ditentukan, tidak bisa ditawar soal panjang pendeknya.

Wirid inilah yang lebih memerlukan alat bantu seperti tasbih, buku-buku, dan amalan-amalan tertentu.

Tentu yang lebih baik ialah wirid.

Zikir terkesan temporer, dilakukan saat hati sedang dalam keadaan khusus, misalnya ketika seorang sedang menghadapi masalah, mempunyai hajat lebih besar, atau sedang bahagia dan mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk berzikir.

Jika tidak dalam keadaan (mood) bagus, bisanya seseorang berzikir seadanya atau tidak sama sekali.

Sementara itu, wirid lebih bersifat permanen, dalam keadaan apa pun dan di mana pun seseorang selalu mengamalkan rutinitas wirid.

Jika ia meninggalkan wirid, itu seperti meninggalkan sebuah kewajiban, ada sesuatu yang kurang.

Dengan demikian, ahli wirid lebih kuat ketimbang ahli zikir.

Di dalam Alquran, zikir dan wirid sangat dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam ayat: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram (QS Al Rad/13:28).

Ayat itu menginformasikan zikir dan mengingat Allah SWT akan menenteramkan hati.

Dalam ayat lain, Allah SWT memberikan informasi lebih lanjut: Wasabbihu bukratan wa ashila (Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Ahdzab/33:42).

Ayat pertama menyerukan zikir dan ayat berikutnya menyerukan untuk meningkatkan zikir menjadi wirid.

Rasulullah SAW telah mengisyaratkan agar pengamalan zikir dilembagakan dan amalkan secara terukur menjadi wirid.

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, kumpulan hadis-hadis sahih yang disusun Imam Al-Nawawi dan hingga saat ini menjadi salah satu kitab wajib di pondok-pondok pesantren di Indonesia, disebutkan sebuah riwayat bahwa suatu ketika para pekerja dan pelayan menghadap Rasulullah SAW untuk diajari sesuatu yang bisa membuat diri mereka setara dengan tuannya, yang bukan hanya melakukan ibadah, melainkan juga bersedekah dan berinfak, sedangkan kami para pekerja dan pelayan hanya bisa beribadah, tetapi tidak punya kemampuan untuk bersedekah dan berinfak.

Rasulullah SAW mengajari mereka dengan zikir.

"Jika kalian membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali seusai salat fardu, kedudukan kalian sama dengan tuan-tuan kalian di mata Allah SWT."

Para pekerja dan pelayan mengamalkan wirid itu setiap usai salat fardu.

Tuan-tuan para pekerja dan pelayan mengamati kebiasan baru karyawan.

Akhirnya mereka juga mengamalkan wirid itu.

Kelompok pekerja dan pelayan kembali mendatangi Rasulullah SAW mengadukan tuan mereka juga mengamalkan hal yang sama. Mereka meminta sesuatu yang lain agar nanti di akhirat tidak kalah dengan tuan-tuan mereka.

Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya." Hadis itu mengisyaratkan pentingnya meningkatkan kualitas zikir menjadi wirid.

Allahualam.

Komentar