TAFSIR AL-MISHBAH

[Tafsir Al Misbah] Dekatkan Diri kepada Allah

Jum'at, 16 June 2017 10:30 WIB Penulis: Gana Buana

MI/Duta

PADA hari puasa ke-21 Ramadan, Tafsir Al Mishbah membahas Surah Al Fatir ayat 27-40. Ayat-ayat tersebut menjelaskan orang-orang berpengetahuanlah yang takut kepada Allah dan orang-orang yang paham tentang kitab Allah yang mendirikan salat, lalu bernafkah di jalan-Nya, dan mengharapkan pahala kekal dari-Nya.

Quraish Shihab menjelaskan kata takut dalam agama diartikan secara beragam. Ketika manusia takut hujan, untuk menjauhkan diri dari imbas hujan tersebut, mereka akan menyiapkan payung. Apabila takut ujian, tentu mereka akan mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut.

Namun, ketika manusia takut kepada Allah, ujarnya, justru hendaknya mereka mendekatkan diri kepada-Nya, bukan menjauh. Mereka yang takut kepada Allah, meski tidak melihat Allah, tetap menjalankan ibadah. "Meski sedang sendiri, manusia tetap harus menganggap Allah mengawasi mereka," katanya.

Manusia yang memercayai Alquran, kata Quraish, tentu akan mengikuti ajaran-Nya. Dengan amalan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak ada ruginya. Dengan demikian, Allah menyempurnakan ganjaran bagi mereka, bahkan dilipatgandakan.

Ganjaran berlipat
Allah akan melipatgandakan ganjaran hingga 700 kali bisa dilihat dari kondisi di bumi. Dengan sumber air yang sama dan jatuh ke tanah yang sama, di tanah tersebut tumbuh aneka macam tumbuhan.

Sementara itu, aneka buah berbeda ukuran, ada yang besar dan kecil. Ukuran, warna, rasa, dan bentuknya pun beragam. Bahkan, gunung pun diciptakan beragam, ada yang dengan garis putih, merah, bahkan hitam. "Begitu pun ketika Allah menciptakan manusia," kata Quraish.

Manusia, katanya, dalam penciptaan-Nya ada manusia yang berkulit hitam, putih, dan ada yang bertubuh pendek. Ada pula binatang melata dan ternak yang berbeda. "Lalu apa maknanya?" kata Quraish.

Ia melanjutkan, hidup ini beragam, termasuk suku yang beraneka ragam. Menurutnya, itulah Bhinneka Tunggal Ika, termasuk beragam dalam pandangan keagamaan.

Ia mencontohkan beragam pandangan tentang puasa. Ada yang berpendapat puasa berlangsung 29 hingga 30 hari. "Itu beragam. Tidak perlu pertengkaran. Kita hendaknya mencari titik temu. Keberagaman ini dari konteks agama, Allah SWT Mahaesa," ujar Quraish.(Gan/H-2)

Komentar