Renungan Ramadan

Dari Taslim ke Tafwidh

Kamis, 15 June 2017 05:54 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

KEPASRAHAN orang awam disebut tawakal, yang dicontohkan dengan orang-orang yang sudah terkontaminasi dengan berbagai kekhilafan, dosa, dan maksiat. Karena itu, mereka yang harus proaktif dan Tuhan lebih pasif. Berbeda dengan kepasrahan ­orang khawas yang disebut taslim, dicontohkan pada bayi yang karena kebersihan dan kesuciannya sehingga Allah SWT proaktif meskipun sang bayi serbapasif.

Masih ada satu jenis kepasrah­an lebih tinggi dan paling tinggi, yaitu pasrahnya orang khawash al-khawash, yang disebut tafwidh. Kepasrahan dalam arti tafwidh, yang bersangkutan betul-betul pasrah secara total dan karena itu Allah SWT yang Maha proaktif.

Kepasrahan ini bisa dicontohkan dengan sebuah (seorang) janin dalam rahim ibunya. Ia tidak perlu mengeluarkan tenaga menangis untuk memberikan isyarat di sekitarnya ketika ia sedang lapar, sakit, kedinginan, kepanasan, atau digigit nyamuk.

Karena kesuciannya yang tanpa terkontaminasi kelemah­an insani, Allah SWT yang Maha proaktif mengurusnya. Cukup hanya berkeinginan untuk makan atau minum maka secara otomatis nutrisi akan menyuplai ke dalam perutnya.

Suhu panas dan dingin dalam rahim ibunya teratur dan terukur secara otomatis. Sekalipun ibunya berada dalam suhu dingin minus 40 derajat celsius atau plus 40 derajat celsius tidak memengaruhi suhu dalam rahim, rumah kediaman janin. Itulah sebabnya rahim sering disebut miniatur surga karena penghuni di dalamnya seperti keadaan penghuni surga.

Alquran juga menyebut rahim sebagai rumah kediaman janin sebagai tempat paling aman dan kukuh (qararin makin/QS Al-Mu’minun/23:13).

Kepasrahan dalam arti tafwidh pernah diisyaratkan di dalam Alquran: “Kelak kamu akan i­ngat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan (yufawwidh) urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Gafir/40:44). Kata yufawwidhu dalam ayat ini diartikan sebagai puncak penye­rahan diri secara total kepada Allah SWT.

Orang yang sudah sampai pada maqam spiritual tafwidh ini perlu kita berhati-hati sebab ia sudah berada di dalam pengawasan penuh Allah SWT. Jika ia tersing­gung, Tuhannya ikut tersinggung.

Perhatikan kelanjutan ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan sikap proaktifnya terhadapnya: “Maka Allah memelihara­nya dari kejahatan tipu daya me­reka, dan Firaun beserta kaum­nya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke da­lam azab yang sangat keras.” (QS Al-Gafir/40:45-46).

Jika orang sudah sampai ke tingkat tafwidh, keajaiban demi keajaiban akan ditunjukkan dari orang itu. Kita masih ingat dalam beberapa kisah dalam Alquran. Bagaimana kejamnya Raja Namrud, melontarkan Nabi Ibrahim ke dalam lautan api, tetapi tak selembar pun bulu Nabi Ibrahim termakan api. Bahkan ia sempat berjalan tenang di atas bara api.

Bagaimana besi tajam tidak tega melukai badan Nabi Daud, karena besi tajam itu tidak tega melukai badan kekasih Tuhan­nya. Bagaimana laut membelah dua dirinya karena tidak tega menenggelamkan kekasih Tuhan bernama Nabi Musa.

Bagaimana ikan-ikan raksasa di tengah samudra berebutan untuk menyelamatkan kekasih Tuhannya bernama Nabi Yunus. Bagaimana wabah mematikan yang menimpa umat Nabi Shaleh berusaha sedemikian rupa agar Nabi Shaleh tidak terinfeksi penyakit yang dibawanya.

Bagaimana kehati-hatian burung-burung ababil menyelesaikan tugasnya memusnahkan pasukan Abrahah yang akan menghancurkan Kabah tanpa harus mencelakakan kakek Na­bi, Abdul Muthalib, yang berada di sekitar pasukan itu.

Banyak contoh sehari-hari ki­ta bisa saksikan, betapa banyak orang menderita karena me­ngecewakan kekasih Tuhannya. Allahu A’lam.

Komentar