TAFSIR AL-MISHBAH

Manusia Fakir pada Allah

Kamis, 15 June 2017 09:00 WIB Penulis: Quraish Shihab

MI/Duta

TAFSIR Al-Misbah kali ini membahas surat Al-Fatir ayat 15 hingga 23.

Ayat-ayat tersebut menyatakan dengan tegas bahwa hanya Allah yang maha terpuji.

Hanya manusialah yang akan memikul kesalahan mereka sendiri, sedangkan Rasulullah hanya diutus untuk memberikan petunjuk kepada manusia dan bukan untuk memikul dosa-dosa manusia.

Quraish Shihab menyampaikan, bila melihat ayat tersebut, bisa dipahami bahwa seluruh manusia ialah orang-orang yang fakir pada Allah.

Dalam bahasa agama, fakir berbeda dengan miskin.

Fakir ialah orang-orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya.

"Misalnya kebutuhan manusia 100, tetapi pendapatan mereka kurang dari 50. Itulah yang dinamakan fakir," kata Quraish.

Oleh karena itu, tambahnya, semakin seseorang memiliki banyak kebutuhan, ia semakin fakir.

Sebaliknya, semakin sedikit kebutuhan seseorang, maka semakin kayalah ia.

Quraish melanjutkan, manusia butuh Allah sebab tidak ada yang bisa diperoleh oleh manusia tanpa bantuan dari Allah.

Semua yang kebutuhan manusia ada pada Allah.

Seperti apakah manusia yang kaya?

Manusia kaya sering diartikan sebagai manusia yang memiliki banyak uang dan materi.

Namun dari segi bahasa Alquran, ujar Quraish, manusia kaya ialah manusia yang kebutuhannya sedikit.

Sayangnya, banyak manusia yang kaya, tetapi kikir sehingga mereka termasuk manusia yang tidak terpuji.

"Sedangkan Allah kaya dan terpuji sebab Dia memberikan apa yang Anda butuhkan, memberi apa yang Anda minta, dan merasa kecil hati bila Anda tidak meminta," kata Quraish.

Allah yang maha terpuji, lanjutnya, juga maha memuji.

Oleh karena itu, manusia yang memenuhi kriteria tentu akan dipuji oleh Allah.

Tinggal manusia yang menentukan akan menjadi manusia seperti apa.

Ada manusia yang populer di dunia, tetapi tidak populer di langit.

Ada manusia yang tidak populer di dunia, tetapi populer di langit.

Ada pula manusia yang tidak populer di dunia maupun di langit.

Ada pula manusia yang populer di dunia dan populer di langit.

Ayat ini menggarisbawahi bahwa kebutuhan makhluk jauh lebih besar daripada kebutuhan Allah pada makhluk-Nya.

Itu karena aneka potensi manusia mengantar pada pengetahuan yang luas.

Selain itu, dari ayat-ayat ini Alquran memberitahukan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas dosa masing-masing.

Bahkan Rasulullah diutus Allah hanya untuk mengingatkan manusia untuk berjalan di jalan yang benar.

"Nabi hanya ditugasi untuk memberi peringatan, tidak mampu menanggung dosa yang lain," kata Quraish. (Gan/H-2)

Komentar