TAFSIR AL-MISHBAH

Hukum Allah pada Alam Semesta

Rabu, 14 June 2017 09:23 WIB Penulis: Quraish Shihab

Quraish Shihab -- Grafis/Duta

TAFSIR Al-Mishbah episode 19 akan membahas Alquran Surah Fathir ayat 9-19. Ayat-ayat tersebut berisikan pelajaran dari Allah Subhanahu Wataala (SWT) untuk pengikut Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW) tentang kemuliaan, alam semesta, dan syukur.

“Siapa yang menghendaki kemuliaan, maka ketahuilah segala macam kemuliaan ada pada Allah,” demikian pengertian ayat kesembilan dari Surah Al Fathir diterangkan Quraish Shihab.

Kalau demikian jangan mencari kemuliaan pada manusia, pada segala sesuatu yang tidak abadi. Namun, mintalah langsung kepada pemilik kemuliaan yaitu Allah SWT. Kemuliaan itu bisa terdapat dalam segala hal tidak pula pasti berada di alamnya.

Kemuliaan itu tidak selalu berada pada harta, banyak yang kaya raya tetapi dicelehkan. Termasuk juga ilmu tidak seluruhnya menjadi wadah kemuliaan, sebab ada kalanya membuat seseorang rendah. “Hanya kepada Allah, mengarah ke atas naik kalimat terbaik.” Demikian makna ayat selanjutnya.

Kalimat yang terbaik itu seperti syahadat. Kalau kata-kata buruk itu hanya ada di bawah. Setiap kalimat bagaikan wadah, isinya adalah makna. Maka kalau amal yang baik tentu naik dan yang buruk terus mengendap. “Orang-orang yang melakukan makar yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk,” lanjutan ayat tersebut.

Ayat itu menjelaskan bahwa siapa pun yang menggali lubang maka akan terjerembap di dalamnya. Makar dalam bahasa Indonesia bermakna negatif, tetapi dalam bahasa Alquran bermakna kegiatan tersembunyi yang bertujuan mengalihkan sesuatu.

Pada ayat selanjutnya bermakna “Allah menciptakan kamu pertama kali dari tanah.” Ayat itu bisa berarti penciptaan pertama kali maksudnya Adam atau untuk seluruh manusia karena sperma akibat dari makanan yang sumber utamanya dari tanah.

Pada ayat selanjutnya Allah mengatakan, “Tidak sama dua jenis laut, tawar menyegarkan dan asin, pahit bahkan menambah kehausan.”

Bahasa Alquran itu singkat, biasa menunjukkan dua perbedaan tetapi banyak persamaannya. Contohnya ayah disebut walid kemudian ibu walidah. Namun, untuk menunjukkan keduanya disebut walidain, berarti ayah dan ibu.

Hal serupa juga disebut dalam ayat tersebut untuk menunjukkan laut dan sungai melalui kata ‘bahrain’.

“Dari setiap laut dan sungai, terbuka potensi menikmati ikan segar. Kemudian bisa mendapatkan hiasan yang bisa digunakan.”

Jadi Allah menyarankan manusia supaya memanfaatkan semua ciptaan-Nya. “Supaya kamu mendapat anugerah dan bersyukur.”

Syukur itu menggunakan anugerah Allah sesuai dengan tujuan penciptaan. (Cah/H-1)

Komentar