Renungan Ramadan

Dari tanpa Niat ke Niat Luhur

Rabu, 14 June 2017 06:05 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

MUNGKIN masih banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik, termasuk menjalani rutinitasnya, tanpa niat. Padahal, Nabi Muhammad SAW dalam hadis mutawatirnya selalu mengingatkan, Innamal a’mal bi al-niyat (sesungguhnya perbuatan yang bernilai ibadah ialah perbuatan yang disertai dengan niat karena Allah).

Hadis ini menafikan nilai ibadah setiap amal dan perbuatan tanpa niat sekalipun yang dilakukan ialah ibadah khusus.

Sebaliknya, amal perbuat­an duniawi yang baik dan dilakukan dengan niat ibadah akan bernilai ibadah di mata Tuhan.

Ulama fikih menganggap sia-sia amal perbuatan tanpa niat. Karena itu, Imam Syafi’i, pendiri mazhab Syafi’i, yang banyak dianut di Asia Tenggara dan Mesir, mengharuskan adanya niat bagi setiap perbuatan jika dikehendaki sebagai ibadah.

Kemudian, kalangan ulama kalam (teolog) meng­anggap niat itu sebagai faktor yang membedakan antara perbuatan manusia (human creations) dan perbuatan binatang (animal creations).

Senada dengan pandang­an ulama tasawuf seperti dikatakan Ibnu ‘Arabi di dalam Fushush al-Hikam-nya, bahwa perbuatan yang dilakukan dengan niat suci dan penuh penghayatan adalah perbuatan keilahian (al-af’al al-Haqqani/Divine Creations).

Niat adalah bentuk keterlibatan Tuhan dari kehendak (masyi’ah), kemampuan (istitha’ah), sampai terjadinya perbuatan (kasab). Semakin terasa keterlibatan Tuhan di dalam sebuah perbuatan, semakin kuat niat itu. Segala perbuatan yang dilakukan dengan kekuatan niat, semakin berkah pula perbuatan itu.

Pada hakikatnya niat adalah konsep matang dan penuh kesadaran dari dalam diri kita tentang suatu perbuatan yang kita akan lakukan. Dalam bahasa manajemen, niat dapat dihubungkan dengan programming. Tanpa perencanaan yang baik, sulit mengharapkan hasil baik.

Dalam ilmu manajemen modern, selalu dititikberatkan arti penting programming karena pekerjaan tanpa perencanaan yang baik pasti tidak akan menjanjikan output dan outcome lebih baik.

Niat adalah the first creation dan implementasinya ialah the second creation. Muslim ideal selalu mengerjakan amal perbuat-annya dua kali. Sekali dalam niat/program dan sekali dalam aksi.

Tuhan Yang Mahakuasa pun melakukan kehendaknya dua kali. Sekali dalam konsep, yaitu di dalam Al-Lauh al-Mahfudh dan yang kedua dalam bentuk implementasi. “Tidak gugur selembar daun dari dahannya melainkan sudah tercatat di Lauh Mahfudh,” kata Nabi. Nabi juga mengingatkan kita, Takhallaqu bi akhlaq Allah (berakhlaklah dengan mencontoh akhlak Allah).

Ketulusan dan kesucian niat melahirkan energi positif dahsyat. Seseorang yang bekerja dengan niat ikhlas tidak akan pernah lelah, kecewa, dan frustrasi. Bahkan, menjalani kematian pun ia akan tersenyum.

Niat yang baik akan melahirkan mental hard worker dan good performance, yang merupakan prasyarat masyarakat profesional. Niat yang baik tentunya menjanjikan output dan outcome yang lebih baik dan lebih besar. Ini perintah agama dan ini juga tuntutan hidup sebagai seorang muslim.

Para ahli motivasi dan manajemen meyakini bahwa orang yang memiliki niat luhur dan baik akan mengadopsi kekuatan dalam (inner power) yang bekerja luar biasa di dalam dirinya sehingga seberat apa pun tugas, pekerjaan, dan tanggung jawab yang dipikulnya, akan dirasakan lebih mudah.

Sebaliknya, perbuatan tanpa niat atau niat buruk tanpa ikhlas akan menyedot energinya sendiri. Bahkan yang bersangkutan juga akan mengalirkan fibrasi negatif ke lingkungan sekitarnya.

Di sinilah perlunya niat yang baik dan benar agar perbuatan kita mempunyai dampak spiritual lebih utama (insan kamil). Tingkatan efek spiritual inilah yang membedakan antara perbuatan manusia dan perbuatan binatang (hayawanat) dan karakter tumbuh-tumbuhan (nabatat).

Kita perlu mengingatkan pada diri kita agar selalu tersambung (connected) dengan Tuhan dalam melakukan setiap pekerjaan. Hanya dengan demikianlah seorang hamba bisa meraih martabat utama.

Komentar