celoteh

Reuni Terakbar

Selasa, 13 June 2017 07:30 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

NOTIFIKASI pesan masuk itu tidak pernah berhenti. Mode suara, mode getar, ataupun mode hening pun sama saja. Ingin rasanya saya memencet tombol mute biar hidup ini tenang. Namun, di setiap saya mau melakukannya, selalu saya mengurungkan karena meskipun terasa terganggu ternyata saya merindukan mereka. Yang ramainya melebihi pasar modal saat mau tutup ini ialah grup Whatsapp teman-teman SMP saya yang merencanakan reuni perak 25 tahun sekaligus halalbihalal pada Syawal nanti.

Umumnya kita akan merasa senang dengan reuni apalagi jika memang rentang waktu tidak berjumpanya sudah lama. Namun, mungkin saja tidak semua merasa begitu lo. Misalnya ada si anak kurang populer yang dulu sering dirundung belum tentu akan bahagia menyambut reuni. Bisa jadi kenangan buruk dulu ditertawakan teman-teman seketika tergambar jelas di depan mata. Atau mengingat kondisi sekarang mungkin sedang kurang baik, ada semacam rasa minder berjumpa dengan teman-teman lainnya. Untuk itu, ada baiknya jika kita datang ke reuni sekolah untuk meninggalkan sejenak status sosial, jabatan, dan kekayaan kita saat ini. Datanglah dengan semangat sederajat bahwa dulu kita semua ini siswa sekolah yang sama dengan seragam yang sama dan uang SPP yang besarnya juga sama hehe.

Namun, siapa sih yang mau tampil biasa saja saat ke reuni? Reuni tinggal hitungan hari. Jujur saja yang menjadi perhatian saya ialah harus mengingat kembali nama dan bentuk teman kita 25 tahun yang lalu dan mengira-ngira bagaimana bentuknya sekarang.

Karena sudah menginjak usia matang (bukan tua ya hehe), sekarang apa pun suka dipikir mendalam termasuk soal reuni ini. Sadar enggak sih kalau kita kelak akan melakukan reuni terakbar? Reuni dengan Sang Pencipta ialah reuni yang pasti akan kita lakukan suatu hari nanti. Kematian ialah reuni terakbar kita karena kembali mempertemukan pencipta dengan ciptaan-Nya, khalik dengan mahkluk-Nya. Jika untuk datang ke reuni sekolah saja kita sebaiknya meninggalkan sejenak pangkat, status, dan jabatan kita, apalagi reuni dengan Tuhan. Tidak ada artinya semua itu. Semua akan sama di hadapan-Nya, yang membedakan hanyalah iman dan takwa.

Undangan reuni sekolah disebar lewat surel atau grup Whatsapp biasanya beberapa bulan sebelum acara. Undangan reuni dengan-Nya disebar setiap hari dalam bentuk azan lima kali dalam sehari. Coba kita penuhi undangan itu, niscaya kita tidak akan canggung bertemu dengan-Nya karena kita merasa ‘kenal’ dan dekat karena setiap hari berjumpa.

Reuni sekolah biasanya ada uang patungan untuk acara yang ditransfer ke koordinator. Reuni dengan-Nya juga ada yang melibatkan rezeki kita. Tidak ada batasan jumlah yang penting niatnya. Ditransfernya bisa ke masjid, panti asuhan, anak yatim, madrasah, fakir miskin, dan orang yang membutuhkan.

Tidak perlu pakaian bagus, rambut rapi, dan mobil kinclong saat kita reuni dengan-Nya karena tidak ada gunanya kita tampil keren di hadapan yang Mahakeren. Karenanya, jika waktu reuni itu tiba, ‘pakaian’ kita hanya keimanan, ‘perhiasan’ kita hanya ketakwaan, dan ‘kekayaan’ kita hanyalah pahala dari ibadah yang kita lakukan selama di dunia.

Jika kita bisa habis-habisan untuk tampil keren di reuni sekolah nanti, kenapa kita tidak melakukan hal yang serupa untuk reuni terakbar kita? (H-5)

Komentar