TAFSIR AL-MISHBAH

Allah Maha Pemberi Nikmat

Selasa, 13 June 2017 07:09 WIB Penulis: Quraish Shihab

Quraish Shihab -- Grafis/Duta

TAFSIR Al-Mishbah di hari puasa Ramadan ke-18 membahas Alquran Surah Fathir ayat 1 hingga 8. Ayat-ayat tersebut berisi seruan Allah SWT kepada pengikut Nabi Muhammad SAW agar konsisten memahami ajaran Islam dengan seluruh konsekuensinya.

Ayat pertama dalam Surah Fathir berisi pujian kepada Sang Pemberi Nikmat. ‘Alhamdulillah’ menjadi ayat permulaan pada Surah Al Fatihah, Saba, Al Anam, dan Kahfi.

“Nikmat Allah itu pada garis besarnya ada dua, yakni nikmat mewujudkan dan memelihara. Mewujudkan dan memelihara di dunia serta akhirat. Di sini Allah berfirman ‘Segala puji bagi-Nya’,” demikian pengertian ayat pertama Surah Fathir yang diterangkan penafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab.

“Allah yang mencipta sejak pertama kali langit dan bumi, dan Dia menjadikan malaikat sebagai rasul-rasul-Nya,” demikian lanjutan ayat surat tersebut.

Malaikat merupakan jamak dari malak dan diambil dari kata alaka yang artinya utusan atau mengutus. Malaikat yaitu makhluk yang diciptakan dari cahaya, tidak berjenis kelamin, tidak makan dan minum, tidak berhubungan seks, menaati semua yang diperintahkan dan yang dilarang, serta memiliki tugas macam-macam. “Kalau kita mau melakukan pendekatan rasional, bisa jadi hukum alam yang ditetapkan Allah itu adalah sebagian dari tugas yang diemban malaikat,” katanya.

Ayat selanjutnya mengisahkah tentang hak prerogatif Allah sebagai pemilik alam semesta. Kehendaknya tidak dapat diubah meskipun dihadang seluruh manusia dan jin. “Kalau Allah menghendaki memberi sesuatu kepada Anda, tidak ada yang dapat menghalanginya dan sebaliknya,” tegasnya.

Nabi pernah berjalan dengan anak kecil dan mengatakan jadilah bersama Allah, pelihara agama Allah, niscaya Allah memeliharamu. Ketahuilah, jika seluruh makhluk manusia atau jin bersepakat untuk memberi sesuatu manfaat, tetapi tidak dapat melakukannya kecuali apa yang ditetapkan Allah. “Hai seluruh manusia, renungkanlah nikmat Allah. Tidak ada yang dapat memberi rezeki selain Allah,” jelasnya.

Penjelasan itu tidak menghalangi seseorang untuk berusaha di dunia. Pasalnya, ketetapan Allah bersifat rahasia sehingga makhluknya hanya bisa memperjuangkannya.

Ayat selanjutnya menjelaskan kepada Nabi Muhammad SAW supaya tidak berkecil hati dalam menyebarkan agama-Nya. Allah juga menjelaskan dalam ayat selanjutnya tentang janji-Nya yang pasti terjadi. “Wahai seluruh manusia bahwa janji Allah itu pasti,” tegasnya.

Dalam bahasa Alquran ada perbedaan antara wa’ad dan waid yang bermakna janji baik dan janji yang mengancam. Janji Allah itu pasti kalau janji baik, tetapi ketika janji buruk tidak pasti. (Cah/H-2)

Komentar