Renungan Ramadan

Dari Nikmat Ni'mah ke Nikmat Na'im

Senin, 12 June 2017 06:04 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

ALQURAN membedakan pengertian antara ni’mah (al-ni’mah) dan na’im (al-na’im). Jika Allah SWT menggunakan kata ni’mah, itu urusan ­kenikmatan di dunia atau sesaat. Akan tetapi, jika ­Allah SWT menggunakan kata na’im, itu urusan kenikmatan di akhirat atau kenikmatan abadi.

Kata al-na’im terulang 16 kali di dalam Alquran, semuanya menunjukkan pengertian kenikmatan akhirat. Tentu yang kita harapkan ialah al-na’im (kenikmatan abadi), bukan sekadar kenikmatan sesaat (al-ni’mah).

Contoh penggunaan kata ni’mah, antara lain, “Tanyakanlah kepada Bani Israel: ‘Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka’. Dan barang siapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS Al-Baqarah/2:211).

Contoh lain, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat ­Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka ­Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali ‘Imran/3:103).

Kedua ayat ini menggunakan kata ni’mah karena nikmat dalam konteks ayat tersebut nikmat duniawi.
Adapun contoh penggunaan kata na’im, antara lain, “Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?” (QS Al-Ma’arij/70:38).

Contoh lain: Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memasuki surga yang pe­nuh ke­nikmatan. (QS Al-Syu’ara/26:85).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh ke­nik­matan. (QS Yunus/10:9).

Ayat-ayat tersebut menggunakan kata al-na’im, yakni kesem­purnaan nikmat yang ada di akhirat.
Di dalam Alquran dimungkinkan kita mengubah nikmat dalam arti ni’mah menjadi nikmat dalam arti na’im, yang lebih abadi dan permanen.

Di antara ayat yang mengisya­­ratkan kemungkinan itu ialah: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang, ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya ialah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu ba­pak­ku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi ke­baikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat ke­pada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Qaf/46:15).

Ayat tersebut mengisyaratkan cara menjadikan nik­mat itu menjadi langgeng dan berkah, antara lain dengan cara berbuat baik kepada kedua orangtua seraya terus berdoa agar nikmat yang selama ini kita peroleh bisa lebih permanen dan lebih berkah, sampai diwarisi oleh anak keturunan.

Allah SWT mengisyaratkan kenikmatan lahiriah bisa juga meningkat sekaligus sebagai nikmat batiniah yang pada akhirnya akan menggapai nikmat al-na’im di surga.

Ini sebagaimana diisyaratkan dalam ayat: Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan. (QS Luqman/31:20). Allahu a’lam.

Komentar