celoteh

2M 2C 1T

Ahad, 11 June 2017 08:29 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

GAMBARNYA dibagi jadi dua frame, bernuansa merah putih, frame sebelah kiri bertuliskan ‘Saya Indonesia Saya Pancasila’, dan sebelah kanan dipajang foto diri. Gambar sejenis ini banyak sekali diunggah di berbagai media sosial dari 29 Mei-4 Juni dalam rangka Pekan Pancasila.

Untuk pertama kali saya merasakan libur 1 Juni yang di tahun ini ditetapkan sebagai hari libur nasional sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila. Penetapan Hari Lahir Pancasila sebagai hari libur nasional itu berdasarkan Keputusan Presiden Jokowi Nomor 24 Tahun 2016 tertanggal 1 Juni 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Sebetulnya dulu waktu zaman Presiden Soekarno 1 Juni sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional, tapi ketika Orde Baru berkuasa ini dihilangkan.

Dulu pemerintahan Orde Baru melarang adanya peringatan Hari Lahir Pancasila, kenapa coba? Hehe. Kalau kita mau membaca referensi sejarah sebenarnya, Pancasila disahkan pada 18 Agustus 1945. Namun, rangkaian pembuatan rumusan Pancasila sehingga menjadi lima poin seperti sekarang ditentukan pada 1 Juni hingga 18 Agustus 1945. Kenapa tidak tanggal 18 Agustus? Karena tanggal itu sudah ditetapkan terlebih dahulu sebagai Hari Konstitusi. Jadinya 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Sebagai orang Indonesia yang masih percaya Pancasila saya merasa berhak menikmati libur. Masalahnya sekarang ada yang berkoar menuntut pergantian Pancasila sebagai dasar negara. Katanya enggak mengakui, pas giliran libur, eh, ikutan. Kan bagaimana, ya.

edudukan Pancasila itu sangat penting. Di samping sebagai Dasar Negara, juga jiwa dan kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, ideologi negara, tujuan yang ingin dicapai, dan perjanjian luhur bangsa Indonesia saat mendirikan negara Indonesia. Makanya dulu yang seangkatan saya dan lebih senior pasti mengalami penataran P4 (pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila). Sejujurnya penataran P4 itu acara yang membosankan, kaku tidak menarik, bahasannya serius dengan penatar yang tua jarang senyum. Enggak kebayang dulu ada yang ikut penataran P4 140 jam, lama beneeer. Makanya dulu ada pelesetan singkatan P4, pinggul pegal pantat panas hehe.

Penataran P4 sudah menjadi sejarah. Meskipun dulu kita dipaksa untuk ikut, yang saya rasakan dulu gesekan antaranak bangsa tidak banyak seperti sekarang. Dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sekarang ini bineka atau keberagamannya yang dipermasalahkan, dicari cari perbedaan lalu diributkan. Ya terang saja pasti berbeda, bukankah negara ini memang beragam.

Tanggal 31 Mei sehari sebelum Hari Lahir Pancasila dirayakan, saya menjadikan tema Pancasila ini sebagai bahan siaran. Ada satu penelepon yang memberikan ilustrasi menarik tentang Pancasila. Dia bilang Pancasila itu 2M 2C 1T. Seperti rumus kimia, ya? Hehe

Pancasila itu 2M 2C 1T, artinya Pancasila itu memiliki 2 modal dan 2 cara untuk mencapai 1 tujuan. Nah semua itu ada di dalam sila-sila Pancasila. Dua Modal itu ada di sila pertama dan kedua, dua cara ada di sila ketiga dan keempat, dan tujuannya ada di sila kelima. Artinya bangsa ini punya modal ketuhanan dan kemanusiaan yang sudah mengakar dalam segala aspek kehidupan bangsa. Dua modal ini akan mempermudah dua cara, yaitu persatuan dan musyawarah untuk mewujudkan keadilan.

Mudah dipahami, kan? Namun, sayangnya tidak serta-merta mudah dilaksanakan, apalagi dicapai tujuannya. Buktinya kemarin saja postingan #SayaIndonesia dan #SayaPancasila dipermasalahkan karena ada anggapan lebih baik mengganti kata saya dengan kami, dan masalah lainnya. Bangsa ini sedang senang mempermasalahkan perbedaan kecil dan melupakan persamaan yang besar. Semoga cepat berlalu. (H-5)

Komentar