TAFSIR AL-MISHBAH

Harmonis dalam Keberagaman

Ahad, 11 June 2017 08:29 WIB Penulis: Quraish Shihab

Quraish Shihab -- Grafis/Duta

TAFSIR Al-Mishbah episode kali membahas Alquran surah Saba’ ayat 24 hingga 30. Ayat-ayat tersebut berisikan pentingnya bagi umat muslim menjaga harmoni dalam kehidupan keberagaman di masyarakat, yakni dengan menyadari bahwa kebenaran mutlak sejatinya hanya milik Allah SWT.

Ayat pertama pada pembahasan ini ialah ayat 24 QS Saba yang menyebutkan, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.”

Meski tegas menyebutkan kesesatan yang ada pada orang-orang musyrik, tidak boleh melihat ayat ini sebagai penggalan untuk melegitimasi sekelompok orang merasa benar atas kelompok yang lainnya. Pada ayat 25, Allah SWT juga menekankan bahwasanya manusia tidak akan saling ditanya mengenai dosa dan amalan yang diperbuat sesamanya, melainkan hal tersebut sudah menjadi urusan Allah SWT.

“Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami pun tidak akan diminta tanggung jawab menyangkut apa yang kamu amalkan.”

Kaum muslim memiliki dua pandangan mengenai kebenaran untuk mengaplikasikan ayat ini, yakni pandangan ke dalam dan keluar dirinya. Pandangan atau titik temu ini dimaksudkan untuk satu sisi muslim yakin akan kebenaran Islam sebagai jalan hidupnya. Namun, di sisi lain juga tidak menghakimi sesamanya yang memiliki jalan hidup lain.

“Suatu masyarakat yang ingin sejahtera harus memiliki titik temu supaya kita semua bisa berjalan. Kita semua mendambakan rezeki, ketenangan, kedamaian,” jelas Quraish.

Pada akhirnya, Allah SWT-lah penentu kebenaran hakiki dari perbedaan-perbedaan dalam suatu keberagaman. Hal itu dijabarkan pada ayat berikutnya. “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”.

Allah SWT menekankan keesaaannya dan keagungannya pada ayat-ayat Saba’. Karena itu, Allah memerintahkan manusia menyembah kepada-Nya. Allah mengutus manusia untuk menyampaikan kabar ini sebagai kabar gembira sekaligus peringatan akan adanya hari akhir dan kematian.

“Tugasmu (manusia) hanyalah memberi berita gembira atau memberi peringatan,” terang Quraish. (Fat/H-1)

Komentar