Renungan Ramadan

Dari Religiousness ke Religious Minded

Ahad, 11 June 2017 05:55 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Grafis/Duta

DALAM tradisi Islam ada dua model sese­orang di dalam menampilkan sikap kebera­gamaannya. Pertama ketika se­seorang menampilkan diri seolah-olah hidup di dalam rangkulan agama. Keseluruhan pandangan hidup dan perilakunya didominasi oleh ajaran formal agama, dengan berpegang teguh pada teks-teks keagamaan secara kaku. Seolah-olah ruang, waktu, dan dirinya merupakan satu kesatuan kental dengan ajar­an agama. Sementara nun jauh di sana (transcendent) ada Tuhan beserta para malaikat meng­awasinya .

Ruang dan jendelanya untuk mengintip dunia nyata sangat terbatas karena dikelilingi dan dipenuhi oleh spektrum ajaran agama. Di sekitarnya seolah dikelilingi daerah terlarang sehingga dinamika dan kebebasan berekspresi menjadi kaku karena terlalu banyak rambu yang berdiri tegak. Kreativitas dan inisiatifnya sebagai khalifah ditenggelamkan oleh kapasitas dirinya sebagai abid (hamba). Model seperti ini disebut religiousness.

Model kedua ialah religious minded ketika seseorang merasa merangkul agamanya. Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke mana pun ia pergi selalu bersamanya. Namun, ia tidak merangkul dirinya, tetapi dirinya yang menggenggam agama.

Dampaknya, orang akan merasa lebih merdeka dan memiliki hamparan luas dan longgar untuk ber­ekspresi dan berkreasi. Rambu-rambu pembatas itu tidak berdiri tegak di luar dirinya, tetapi melekat di dalam dirinya sehingga pandangan­nya luas tanpa terpantul oleh papan-papan verboden keagamaan. Hidup dan kehidupannya lebih dinamis karena merasa diberikan kebebasan penuh dari ajaran agamanya sendiri.

Pada prinsipnya, segala sesuatu boleh selain yang secara khusus dilarang. Jumlah larang­an itu sendiri amat sedikit.

Ia merasa lebih merdeka sebagai khalifah karena sikap penghambaan dirinya kepada Tuhan tidak menghalanginya untuk berkreasi dan berinisia­tif dalam lingkungan hidupnya.

Model religiousness cenderung lebih tertutup dan sesekali mendekati garis keras karena ia memandang hidup ini hitam-putih. Artinya, kalau bukan putih, pasti hitam atau sebaliknya.
Suasana batin ini lebih berpotensi untuk berbenturan satu sama lain karena sudah barang tentu ia harus tegas dan istikamah terhadap keyakinan agama dianutnya.

Orang lain yang tidak sefaham dirinya cenderung dianggap salah karena ia merasa lebih sesuai dengan teks-teks ajaran agama.

Sementara itu, sifat pola religious mindedness yaitu cenderung lebih terbuka dan tidak khawatir ke mana pun akan pergi, apa pun yang akan di­kerjakan.

Sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip ajaran, sepanjang itu pula boleh dilakukan. Jalan hidup tidak hanya hitam-putih, tetapi ada sejumlah warna lain dimungkinkan di dalam Islam.

Pola-pola keagamaan religious minded lebih relevan untuk dikembangkan karena akan memberi ruang otonomi dan kemerdekaan yang lebih luas kepada manusia.

Semua yang tidak bertentangan dengan Islam maka itulah Islam, sebagaimana sabda Rasulullah: “Hikmah atau kebajikan ada di mana-mana. Di mana pun Anda temukan, ambillah karena itu milik Islam.”

Pola seperti ini juga lebih relevan dengan ayat: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS Al-Hujurat/49:13).

Keistimewaan lainnya dari pola religious mindedness, yaitu juga lebih menjanjikan kedamaian, kesejukan, ketentraman, dan keadilan.

Dalam masyarakat Indonesia yang kondisi objektif budaya, agama, dan kepercayaannya sangat majemuk, maka model religious mindedness tersebut lebih relevan untuk dikembangkan.

Sesungguhnya untuk ukuran Indonesia, konsep religious mindedness lebih sesuai dengan konsep rahmatan lil ‘alamin yang sejati.

Komentar