Tifa

Pesan Keberagaman dari Indian Lakota

Ahad, 11 June 2017 05:01 WIB Penulis: Aries Munandar

MI/ARIES MUNANDAR

SERENTENG gelang-gelang­an (hoop) bisa memiliki segudang arti saat di tangan Kevin Locke. Rangkaiannya dapat menjadi beragam konfigurasi yang mewakili makna luhur. Simbol rantai, bunga, elang, hingga tangga, jembatan, dan bola dunia dengan tangkas dibentuknya. Kesemuanya bermuatan pesan mendalam.

“Ini bola besar untuk melihat masa depan. Kelihatannya masa depan yang indah sekali,” ujar Locke, dan disambut gemuruh tepuk ta­ngan penonton.

Penampilan seniman tradisional Indian di malam kedua ini kembali memukau penonton yang memadati arena Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat, Pontianak, Minggu (21/5). Tepuk tangan dan sorak mereka pun bergemuruh mengapresiasi gerakan dan penjelasan dari Locke.

Lelaki berambut gondrong ke­perakan itu membawakan tarian hoop. Dia beratraksi bersama 28 gelangan-gelangan. Tubuhnya meliuk dan menyusup ke rongga gelang-gelangan tersebut. Seketika terlihat seperti terjerat dan terperangkap. Sekejap kemudian dia melepaskan diri dengan gampang. Beberapa konfigurasi dari gelangan-gelangan pun terbentuk dari atraksinya.

Locke melalui tariannya menceritakan makna keberagaman dan persatuan. Filosofi itu diterjemahkan melalui gerakan akrobatik dan konfigurasi dari serenteng gelang-gelangan. “Saat (gelang-gelangan) bergabung mereka bisa memanjang, bisa meninggi. Tidak punya batas,” kata Locke, menjelaskan makna tariannya kepada penonton.

Warga Amerika Serikat ini kemudian melepas satu dari ­rangkaian gelangan-gelangan. Seketika rangkai­an itu pun terberai. Aksi tersebut dilakukannya untuk menekankan pentingnya persatuan dan kerja sama serta saling membantu sesama. Tidak boleh ada satu pihak pun yang ditinggalkan.

“Kalau ada satu orang atau satu kelompok saja yang dikucilkan, semuanya akan tercerai-berai, runtuh. Seperti ini, dicopot, dilepas,” tegasnya, sembari mencopot satu dari rangkaian gelang-gelangan berkonfigurasi bola dunia.

Berani melindungi

Locke menari diiringi musik dan nyanyian tunggal dari Dough Good Feather. Dia berdiri di sudut panggung sembari terus menabuh gendang khas Indian (hand drum). Selain atraktif, Locke sangat komunikatif. Dia menjelaskan makna atraksinya sembari memperagakan kembali kepada penonton seusai menari.

Locke di penghujung penampilan­nya bahkan mengajak beberapa penonton ke pentas untuk menari bersama. Mereka pun mencoba mengikuti gerakan lincah Locke. “Sulit dan capek juga, tapi kami senang karena bisa saling belajar dan mengenal kebudayaan masing-masing,” kata seorang penonton.

Locke dan Feather tampil selama dua malam berturut-turut untuk memeriahkan Pekan Gawai Dayak Kalimantan Barat di Rumah Radakng. Penampilan pada malam terakhir diawali duet yang membawakan sebuah nyanyian khas dari suku mereka, Indian Lakota. Komunitas adat ini bermukim di Standing Rock, South Dakota, Amerika Serikat.

Kidung serupa senandung mantera itu diiringi tabuhan hand drum Feather, dan alunan suling Locke. Feather kemudian melanjutkan penampilan dengan sebuah tarian. Tepuk tangan dan sorak penonton pun bergemuruh ketika dia mengucapkan salam ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di awal dan di akhir penampilan.

Feather juga atraktif dan energik saat menari. Dia melompat, berputar, dan jejingkrakan di atas panggung. Rumbaian yang menghiasi tongkat pendek di kedua genggamannya pun mengayun-ayun seirama tarian. Gerakan Feather laksana seekor rajawali yang tengah bertarung menundukkan musuh.
“Saya akan membawakan ­tarian perang. Bukan perang untuk memusuhi, melainkan melindungi sesama,” kata Feather sesaat sebelum menari.

Gerakan rajawali dalam tarian bertempo cepat itu serasi dengan kostum yang dikenakannya. Pakaian tradisional khas Indian tersebut menyerupai rajawali berbulu warna-warni. Lengkap dengan tiruan ekor dari bulu sintetis. “Untuk bisa menghargai, kita harus berani melindungi orang lain,” lanjut Feather mempertegas pesan tariannya.

Keberagaman

Kehadiran Locke dan Feather di Pontianak diprakarsai Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat. Selain di Pontianak, mereka mentas di Jakarta, dan Denpasar. Di Pontianak, para seniman Indian ini juga tampil di Pentas Seni Siswa di SMA Muhammadiyah 1 pada keesokan harinya.

Pentas seni ini menghadirkan Happy Frejo, yang absen pada malam kedua di Rumah Radakng karena sakit. Perempuan satu-satunya dalam rombongan seniman Indian tersebut mempersembahkan tarian kupu-kupu. Dia bergerak lincah mengitari halaman sekolah laksana terbang seperti kupu-kupu.

Gerakan Frejo mengimbangi senandung dan tabuhan gendang Feather. Tarian dengan kostum berwarna-warni ini menceritakan pertumbuhan seorang perempuan dari bocah hingga dewasa. “Prosesnya mirip (metamorfosis) kupu-kupu, yakni dari ulat berubah kepompong hingga menjadi kupu-kupu indah yang terbang di angkasa,” ujar Frejo.

Pergelaran budaya Indian ini memiliki misi khusus, yakni mengampanyekan persatuan dan menghargai keberagaman. Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi terkini di Tanah Air yang dibayangi maraknya isu intoleransi. Apalagi, sebelumnya nyaris terjadi pergesekan antar­kelompok berlatar belakang SARA di Pontianak.

Wakil Atase Kebudayaan Kedubes Amerika Serikat Jed Dornburg berharap muhibah kebudayaan mereka bisa meneguhkan semangat kedua negara untuk menghargai keberagaman. “Lambang negara Amerika itu mirip Indonesia. Begitupun motonya, E Pluribus Unum, sama artinya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Bersatu walaupun Beragam.” (M-2)

Komentar