Wirausaha

Rumah Sakit Sepatu

Ahad, 11 June 2017 00:31 WIB Penulis: M-1

MI/Ramdani

KONDISI sepatu yang tampak kotor, warna sudah pudar, dan cenderung tidak bersih masih menjadi gaya yang dianut sebagian anak muda. Kesan kusam seperti itu dianggap lebih keren dan bergaya anti-mainstream.

Buwana Rizal Perdana, 32, yang hobi koleksi sneakers, awalnya memang lebih memilih mendiamkan sepatu miliknya dalam kondisi apa adanya ketimbang merawat dan membersihkannya.

Namun, ketika hobi koleksi sneakers makin nge-hits, Buwana mulai berbalik. Ia tergerak untuk merawat koleksinya dengan membersihkan noda-noda yang sudah menempel bertahun-tahun lamanya.

“Awalnya saya enggak suka membersihkan sepatu dan lebih memilih apa adanya. Tapi karena tren koleksi semakin heboh serta kebetulan ukur­an sepatu saya sulit didapat, saya mulai coba merawat,” tutur Buwana kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (8/3).

Dari mengumpulkan informasi lewat internet, buku, dan teman-teman satu komunitas pecinta sneakers, Buwana mulai coba menerapkan teknik yang sudah didapatnya.

Ketika tekniknya telah mumpuni dan tervalidasi pada sepatu-sepatu berpenampilan resik, Buwana mulai mencoba menjadikan hobinya sebagai bisnis dengan membuka jasa pembersihan sepatu, Shoespital, pada pertengahan 2015.

Bukan direndam

Berawal dari kerabat dan teman-temannya, konsumennya kian meluas, melalui jasa promosi di internet, media sosial, dan dari mulut ke mulut.
“Perlengkapan utama yang diperlukan, cairan pembersih, sikat gigi, penghapus, micro viber towel, hairdryer. Namun cairan pembersihnya jangan sembarang, harus yang khusus untuk membersihkan sepatu,” ujarnya.

Setelah itu, sepatu disikat perlahan pada bagian yang kotor dengan menggunakan sikat gigi ke arah atas dan samping. Kemudian, gunakan micro viber towel untuk membersihkan kotoran, dan setelahnya dikeringkan dengan hairdryer.

“Sebenarnya sangat mudah, tapi orang banyak yang salah kaprah dengan merendam dan mencuci sepatu, padahal itu bisa merusak lem dan warna,” terang Buwana yang memiliki bengkel kerja di kawasan Depok, Jawa Barat, dan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Pelanggan luar kota

Idealnya, lanjut Buwana, sepatu dibersihkan setiap tiga minggu atau maksimal satu bulan sekali. “Supaya sepatu terhindar dari kerusakan, warna pudar atau bahkan berjamur. Sebulan itu sebenarnya sudah kelamaan, apalagi kalau sepatunya dipakai setiap hari. Dua sampai tiga minggu seharusnya sudah dibersih­kan supaya sepatu lebih awet dan tidak cepat rusak,” pungkasnya.

Dalam satu bulan, Buwana pun bisa membersihkan 100 sampai 120 sepatu dengan konsumen yang berasal dari berbagai daerah, bahkan terjauh dari Kalimantan, Denpasar, dan Makassar.

“Dari luar daerah juga banyak. Biasanya mereka mengirimkan langsung tiga sampai lima sepatu untuk dibersihkan atau diperbaiki jika ada yang rusak,” pungkas Buwana. (M-1)

Komentar