Cerpen

Kartu Kilat ke Surga

Sabtu, 10 June 2017 23:30 WIB Penulis: A Muttaqin

MI/Rudi Pata

PADA malam Jumat legi, Kasdi yang mengidap insomnia,berdoa. Dan oleh Tuhan, doanya yang tulus dan serius itu dikabulkan, yaitu tidur jam sembilan malam.

Sayangnya Kasdi tidur hanya sebentar. Mendadak ia bangkit dari tidurnya lantaran mendapati mimpi mengerikan. Dalam mimpinya, ia dipaksa meniduri tujuh perempuan berwajah buruk. Satu per satu perempuan itu memaksa Kasdi menindih mereka. Dan, saat Kasdi menindih perempuan yang ketujuh, si perempuan berbisik di kupingnya: “Tugasmu selesai. Turunlah dari ranjang ini. Selamatkan rakyatmu sebelum datang banjir besar,” perempuan itu lalu menendang Kasdi.

Kasdi pun berteriak sekuat tenaga. Sebentar kemudian ia tersadar dan mendapati dirinya terjatuh di lantai. Kasdi bangkit. Sambil mengelus-elus sebagian jenggotnya, Kasdi mengingat-ingat mimpinya. Ia yakin betul, itu bukan mimpi sembarangan. Ia percaya mimpi itu adalah semacam wangsit. Karena itu, Kasdi berpikir keras mencari cara agar bisa menunaikan amanat si perempuan dalam mimpinya.

Setelah berpikir sejenak, Kasdi mengangguk-angguk kecil lalu tersenyum misterius dan bergegas mengambil kapak simpanannya. Sambil menggenggam kapak dan mengikat kepalanya dengan sehelai selendang, seperti Wiro Sableng, Kasdi segera pergi keluar kota untuk menebang pohon jati raksasa yang menjadi pembatas kotanya dan kota sebelah.

Sesampainya di sana, Kasdi langsung menebang pohon jati itu. Berhari-hari ia menebangnya dan hanya berhenti sebentar saat makan saja. Kasdi bekerja dengan sungguh-sungguh dan tepat di hari ketujuh, tumbanglah pohon jati itu. Setelah pohon tumbang, Kasdi mulai membuat perahu sembari membayangkan diri sebagai Nuh.

Rupanya, tujuh hari telah cukup membuat jenggot, kumis, dan jambang Kasdi memanjang. Tampangnya kini tampak berantakan. Namun Kasdi tak peduli dengan perubahan fisiknya. Seperti orang kesurupan, ia memotong-potong pohon jati besar itu menjadi beberapa bagian. Kasdi lalu menyusun kayu-kayu itu menjadi bentuk yang mirip perahu.

Harus diakui bahwa Kasdi sangat serius mengerjakan perahunya. Tatkala seorang pemulung mendekat dan bertanya, dengan ketus Kasdi meniru jawaban Nuh kepada kaumnya: “Aku membuat perahu untuk menyelamatkan umatku. Janganlah sekali-kali Sampean mengejek perahuku, agar Sampean tak termasuk golongan yang ditenggelamkan!”

Karena tak merasa mengejek, pemulung itu pun pergi. Kasdi kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, ketika ia tengah khusyu’ bekerja, seorang perempuan penjual jamu menghampirinya. Penjual jamu itu menawari jamu kuat terbaru. Tapi Kasdi langsung mendakwa: “Menyingkirlah kau setan. Aku tahu, kau hendak berak di perahu ini, bukan? Bajingan!”

Penjual jamu buru-buru pergi dengan gemetaran. Ia yakin, lelaki semprul itu tengah kerasukan jin. Setelah penjual jamu pergi, lewatlah seorang tukang becak. Namun sang tukang becak hanya melihat Kasdi sekilas sembari menggenjot becaknya. Tukang becak itu tak berani mendekat, sebab ia yakin Kasdi yang tengah menggarap perahunya itu pastilah orang senewen.

Setelah tukang becak menjauh, datanglah orang-orang yang lain. Ada yang mampir dan bertanya sekenanya. Ada pula yang sekadar melihat-lihat sambil lalu saja. Di antara mereka, kebanyakan bergegas dan mempercepat langkahnya sebab takut diamuk oleh Kasdi.

Hari-hari berlalu. Kasdi yang serius membuatperahu di pinggiran kota itu akhirnya menjadi buah bibir dan rasan-rasan yang menyebar ke seluruh kota. Ini terjadi lantaran sebuah stasiun TV swasta sempat iseng-iseng memberitakannya. Seperti ketiban ndaru, Kasdi mendadak jadi orang terkenal. Ia dibicarakan di mana-mana, di rumah, di pasar, di terminal, di gardu, di warung, di sekolah-sekolahan, bahkan di tempat-tempat ibadah.

Kini, hampir setiap orang mengenal Kasdi. Berbagai stasiun TV juga mulai berebut meliputnya. Bahkan, desas-desus yang mulai menyebar, Kasdi yang mirip orang gendeng itu sebetulnya adalah wali yang menyamar. Tak hanya itu, banyak orang mulai percaya, Kasdi memang mendapat wangsit untuk menyelamatkan warga kota. Tentu anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Apalagi hujan masih sering turun dengan ganasnya. Banjir juga terus menghantui seluruh warga kota. Ketika hujan lebat bercampur petir menyambar-nyambar tak tentu arah, mereka makin yakin Kasdi bisa menyelamatkan mereka.

Tak heran jika Kasdi yang kini tersohor memiliki linuwih dan keramat itu memikat perhatian Dodot Kartompo. Ketahuilah, Dodot Kartompo semula adalah seorang penyair yang kemudian jadi makelar dan kini berhasil menjabat sebagai ketua partai besar. Dan, seperti yang gampang ditebak, Dodot Kartompo pun berniat merekrut Kasdi ke dalam partainya. Maka pada suatu sore yang longgar, dengan mengendarai Jaguar, Dodot Kartompo mendatangi Kasdi. Ketika sampai di sana, Dodot langsung mencium tangan Kasdi dan mengatakan maksud kedatangannya: “Monggo Romo Kasdi ikut kami. Mari berjuang menyelamatkan kota ini!”

Kendati kurang mengerti maksud Dodot Kartompo, Kasdi langsung menuruti. Dodod Kartompo kemudian menelepon ke kantor partainya dan menyuruh mereka menyiapkan truk besar untuk mengangkut perahu Kasdi. Tentu perahu Kasdi bukanlah perahu sebagaimana mestinya, hanya kayu-kayu kasar yang disusun sedemikian rupa. Namun bagi masyarakat yang terlanjur percaya karomah Kasdi, apalah pentingnya itu semua.

Sesampainya di kantor partainya, Dodod Kartompo segera menelepon sebuah stasiun TV dan dengan bangga mengabarkan kalau Kasdi telah sepakat berjuang bersama partainya. Berita perihal Kasdi yang masuk partai Dodot Kartompo pun segera menyebar. Stasiun TV itu juga menyiarkan, pada hari minggu nanti, partai Dodod Kartompo akan menyelenggarakan kampanye besar-besaran di alun-alun kota.

Begitulah. Hari Minggu yang dijanjikan itu pun tiba.

Seluruh penduduk kota berduyun-duyun mendatangi alun-alun. Di alun-alun itu, telah dibuat sebuah panggung besar. Di atas panggung, sebuah kursi tinggi juga telah diletakkan. Di atas kursi itu, Kasdi duduk tenang seperti seorang sultan. Dengan berapi-api, Dodot Kartompo mulai berpidato. Dodot menghimbau warga agar di pemilihan nanti, mereka tidak salah pilih. Untuk itu, ia bersikeras meyakinkan bahwa Kasdi lah pilihan yang tepat.

Dodot Kartompo terus meyakinkan warga, bahwaKasdi adalah penyelamat mereka. Kasdi bahkan telah membikin perahu ajaib yang siap mengangkut warga apabila banjir besar melanda. Dodot Kartompo menutup pidatonya dengan kabar gembira, bahwa partainya telah menyiapkan KKS, yaitu Kartu Kilat ke Surga. Hanya dengan kartu inilah, kata Dodot, mereka bisa mendapatkan ridha Tuhan, menjadi anggota PK atau Paguyuban Kasdiyesss dan naik perahunya apabila banjir besar datang tiba-tiba.

Pidato Dodot Kartompo itu lalu ditutup dengan yel pendek: “Hidup Kasdiyesss!”

Para hadirin bersorak, mengepalkan tangan dan serempak memekik: “Hidup Kasdiyesss!”

Dodot Kartompo lalu mempersilakan Kasdi turun dari kursinya dan menyampaikan sambutannya kepada warga kota. Kasdi pun turun dari kursinya, disambut pekikkan keras menyebut namanya. Dengan mantab, Kasdi melangkah menuju pengeras suara. Namun, sesaat sebelum Kasdi menyentuh mik itu, sebuah tembakan meletus melubangi jidatnya.

Mendengar bunyi tembakan, para hadirin yang tengah meneriakkan yel nama Kasdi itu bubar dan lari kocar-kacir.

Alun-alun menjadi kacau. Pohon-pohon dan rumputan rusak. Bunyi pekik ketakutan dan petir yang menyambar, membuat situasi makin mencekam. Hujan pun turun dengan lebatnya. Di tengah kekacauan itu, tak ada yang tahu, siapa yang menembak Kasdi. Orang-orang sibuk menyelamatkan diri. Bahkan Dodot Kartompo lari terpontang-panting sendiri, tanpa ada yang mengawalnya.

Air melimpah, menggenang ke mana-mana. Got-got mulai penuh dan meluap. Kota mulai banjir. Alun-alun tenggelam. KKS atau Kartu Kilat ke Surga yang tadi sempat dibagi-bagikan, menyembul di antara sampah, kotoran, dan mayat Kasdi.

Bersama kartu KKS, kotoran dan sampah, mayat Kasdi timbul-tenggelam mengikuti arus air, mengalir ke sana, mengantar mayat itu ke surga.

2017

A Muttaqin lahir di Gresik
dan tinggal di Surabaya. Ia mengarang puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu (2016).

Komentar