PIGURA

Persekusi Setyaki

Sabtu, 10 June 2017 23:15 WIB Penulis: Ono Sarwono

MESKI Setyaki menyadari jiwa raganya terancam saat menjadi kusir duta agung Sri Bathara Kresna ke Astina, kenyataannya ia tidak penuh antisipatif. Akibatnya, ia kelabakan saat dijadikan target persekusi antek dan bala Kurawa di alun-alun Astina.

Ketika ia sedang beristirahat di bangku sais Kereta Jaladara, tiba-tiba digelandang Burisrawa. Ia diseret, digebuki, dan diinjak-injak karena dianggap menistakan martabat Raja Astina Prabu Duryudana. Saat melakak, Burisrawa menikmatinya sambil terbahak-bahak dan sesekali bersendawa yang menyemburkan bau tuak.

Berkat keterlatihannya bergeladi perang, Setyaki bak rotan yang tak lekang. Kekerasan yang menghujaninya tak membuat seinci pun kulitnya yang beset, tiada satu pun tulangnya yang remuk. Bukti Sanghyang Widhi masih melindunginya.

Mengemban misi

Syahdan, Pandawa rampung menjalani hukuman pembuangan. Ini harga yang harus ditebus akibat kekalahannya bermain dadu melawan Kurawa. Selain harta bendanya ludes, Pandawa mesti hidup ngulandara selama 12 tahun di Hutan Kamyaka ditambah satu tahun hukuman penyamaran.

Namun, kerampungan itu ditolak Kurawa. Tuduhannya, penyamaran (menyembunyikan identitas) Pandawa di Negara Wiratha, terkuak. Berdasarkan kesepakatan sepihak Kurawa, bila penyamaran Puntadewa dan keempat adiknya diketahui, harus mengulangi hukuman dari awal.

Klaim keras Kurawa itu merupakan bagian dari skenario rahasia mereka melenyapkan Pandawa. Doktrin yang diinjeksikan Sengkuni kepada para keponakannya ialah bahwa Kurawa yang berjumlah seratus orang tidak akan bisa makan kenyang bila Pandawa masih bercokol di muka bumi.

Pandawa, yang ‘mondok’ di Negara Wiratha tidak menghiraukan propaganda Kurawa. Mereka meminta kekuasaan atas Negara Indraprastha dikembalikan. Untuk itu, Pandawa mengangkat Prabu Drupada (Raja Pancala) sebagai duta menemui Prabu Duryudana, penguasa Astina dan Indraprastha, untuk menagih janji. Namun, utusan itu gagal.

Berikutnya, Pandawa meminta sang bunda, Kunti, sebagai duta kedua. Misinya sama, meminta kembalinya Indraprastha dan separuh wilayah Astina kepada Duryudana. Akan tetapi, lagi-lagi ini tidak membuahkan hasil.

Terakhir, Pandawa memercayakan kepada Sri Bathara Kresna sebagai duta pamungkas. Kresna menyanggupinya. Demi lancarnya perjalanan, Raja Dwarawati tersebut meminta adik iparnya, Setyaki, mengusiri kereta Jaladara yang akan ia tumpangi menuju Astina.

Singkat cerita, meluncurlah kereta Jaladara yang mengusung sang duta agung. Di tengah perjalanan, saat Jaladara mengangkasa, empat dewa dari Kahyangan, yaitu Narada, Rama Parasu, Janaka, dan Kanwa, menghentikannya. Keempatnya memberikan restu dan lalu ikut menumpang untuk menjadi saksi diplomasi duta Pandawa mengemban misi.

Sesampainya di alun-alun Astina, Kresna turun dari kereta dan langsung menuju ke sitihinggil. Di sana sudah menunggu Prabu Duryudana serta mertuanya, Prabu Salya (Raja Mandaraka). Di antara nayaka praja utama ada Karna Basusena (Raja Awangga) dan paranpara Resi Durna.
Keempat dewa, setelah turun dari Jaladara, terbang di atas istana Astina untuk mengawasi jalannya perundingan.

Dikeroyok bala Kurawa

Setyaki tidak ikut masuk ke istana. Ia menjaga kereta. Ini juga atas perintah Kresna yang mewanti-wantinya agar tidak jauh-jauh dari Jaladara. Selain itu, ia diingatkan untuk melipatgandakan kewaspadaannya akan segala kemungkinan buruk yang menghampiri.

Di tempat lain, di sebuah ruangan di luar sitihinggil, Patih Sengkuni memanggil Burisrawa yang ketika itu sedang berpesta miras dengan sejumlah dayang istana. Burisrawa, yang perawakannya besar dan bertampang setengah yaksa, ialah putra bungsu Prabu Salya. Ia adik kandung Banowati, permaisuri Duryudana.

Sengkuni memerintahkan Burisrawa menghajar Setyaki karena kurang ajar, methengkreng, duduk dengan angkuh, di atas kereta. Setyaki dianggap melanggar dengan merendahkan martabat raja dan bangsa Astina.

Burisrawa dikenal sebagai pria ugal-ugalan. Kesigapannya menerima perintah Sengkuni menghukum Setyaki juga karena punya dendam pribadi. Sebelumnya, ia kerap berselisih dengan Setyaki. Namun, setiap mereka bentrok selalu dilerai para pepunden.

Akibat terlalu banyak menenggak tuak, tubuh Burisrawa bergetar dengan muka memerah sehingga menambah keseramannya. Langkahnya limbung dengan sesekali kepalanya terayun. Di tangan kanannya tergenggam pentungan. Ia diam-diam menghampiri Jaladara dari belakang.

Ketika itu Setyaki sedang selonjoran di bangku sais. Tanpa kata, Burisrawa langsung menarik kaki Setyaki hingga jatuh terjengkang. Belum sempat bangun, Setyaki digebuki, dinjak-injak, ditungkaki, dan ditendangi. Saat menyakiti itu Burisrawa tertawa terbahak-bahak sambil menyumpahi.

Dengan sekuat tenaga, Setyaki bangkit. Ia berusaha melawan Burisrawa yang tengah kesetanan dengan mata nanar dan mulut berliur. Namun, sia-sia perlawanan Setyaki. Puluhan bala Kurawa mengeroyoknya.

Terjepit dalam situasi sulit, Setyaki kabur dan menghambur menyusul Kresna di sitihinggil. Saat itu Kresna tampak getun dengan sikap Duryudana yang ingkar janji, tidak bersedia memenuhi kesepakatan mengembalikan Indraprastha dan sebagian wilayah Astina kepada Pandawa.

Setyaki matur nyawanya di ujung tanduk karena dipersekusi bala Kurawa. Ia melaporkan pula bahwa Kresna menjadi target pembunuhan. Posisinya telah terkepung. Tanpa menjawab, Kresna lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berubahlah wujud menjadi raksasa.

Diselamatkan Kresna

Raksasa hitam legam sebesar gunung anakan itu segera menggendong Setyaki dan kemudian mengobrak-abrik istana Astina. Bala Kurawa yang berusaha menyerang justru terinjak-injak dan sebagian pontang-panting, lari tunggang-langgang. Astina jadi geger genjik (kacau).

Bathara Narada yang sejak awal memperhatikan buru-buru mengejawantah dan menghentikan amukan Kresna. Narada bersabda hilangnya angkara murka yang disandang Kurawa bukan oleh Kresna, melainkan lewat tangan para kesatria Pandawa dalam perang Bharatayuda di Kurusetra.

Raksasa itu lalu sadar dan kembali ke aslinya. Kresna meminta maaf atas kesalahannya mengumbar amarah.

Benang merah kisah ini ialah aksi Burisrawa itu merupakan kesewenang-wenangan. Setyaki yang posisinya sebagai kusir dijadikan sasaran pembunuhan. Beruntung ia diselamatkan Kresna yang bertiwikrama. Kodratnya, kelak Burisrawa tewas di tangan Setyaki dalam Bharatayuda. (M-4)

Komentar