TAFSIR AL-MISHBAH

Nikmat Allah untuk yang Bersyukur

Sabtu, 10 June 2017 16:00 WIB Penulis: Quraish Shihab

DALAM Tafsir Al Mishbah hari ke-14 Ramadan, Quraish Shihab membahas Surah Saba' ayat 15 hingga 21.

Ayat itu menceritakan keingkaran kaum Saba' di Yaman terhadap nikmat Allah SWT dan akibat-akibatnya.

Pada masa itu, kaum Kota Saba' tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Negeri Saba' pada masa lampau diceritakan sebagai negeri yang baik dan menyenangkan.

Negeri tersebut aman sentosa.

Rezeki berlimpah dapat diperoleh secara mudah oleh seluruh penduduk.

Selain itu, penduduk penuh kasih.

Wilayah kota dikelilingi kebun yang bukan hanya memberikan berbagai hasil kebun untuk kehidupan penduduk, melainkan juga Allah menganugerahkan kebun yang indah.

Namun, kebun yang sangat bermanfaat tersebut rusak dan berubah hanya ditumbuhi buah-buahan pahit serta ilalang.

Menurut Quraish, hal itu terjadi akibat kekufuran dan ketidaksyukuran penduduk.

Alasannya, Allah tidak akan memberikan balasan yang buruk kecuali kepada orang-orang yang enggan bersyukur.

"Kafir itu bermacam-macam maknanya. Bukan hanya orang yang mengingkari ajaran agama. Orang yang tidak bersyukur atas nikmat Tuhan juga kafir. Itu sebabnya ada istilah kufur nikmat," ujarnya.

Padahal, sebelumnya penduduk Saba' makmur karena mereka berhasil membangun masyarakat dan membangun hubungan harmonis antarsesama.

Namun, ketika hubungan antarmereka tidak lagi baik dan hasil pembangunan tidak terpelihara dengan baik, kondisi sebaliknya terjadi.

Quraish juga mengungkapkan, Allah menciptakan Saba' dekat dan saling terhubung dengan kota lain.

Jalan diatur agar tidak melelahkan dan membosankan.

Warga juga diperintahkan untuk pergi ke kota-kota itu pada siang dan malam dalam keadaan aman.

Namun, ujarnya, mereka tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Kendati letaknya berdekatan dan aman, mereka berkata Tuhan menjauhkan jarak.

Artinya, mereka tidak mensyukuri jarak yang sudah dekat.

Dengan begitu, lanjut Quraish, sebenarnya mereka telah menganiaya diri sendiri.

Mereka bercerai-berai karena penduduk akhirnya berpindah-pindah sehingga wilayah itu sepi.

Hal tersebut sesungguhnya pelajaran untuk setiap orang, yakni bersabar dan bersyukur.

Ia mengambil contoh banyaknya masyarakat Indonesia yang mencari nafkah ke luar negeri.

"Padahal, Indonesia jauh lebih kaya daripada negeri yang dikunjungi itu. Itu karena kita kurang bersyukur. Bisa jadi kita tidak pandai mengelola atau menjalin hubungan harmonis antarsesama," ujar Quraish. (Pro/H-2)

Komentar