celoteh

[CELOTEH] Yang Terbaik untuk Dia

Jum'at, 9 June 2017 11:09 WIB Penulis: Ronald Surapradja

MI/Retno Hermawati

SAYA nge-gym lagi hehe. Di ruang ganti laki-laki seperti biasa, setelah mandi saya berganti baju dan mempersiapkan diri untuk pulang.

Mata saya secara tidak sengaja sempat melihat pemandangan yang agak kurang menyenangkan. Saya melihat ada bapak yang mengenakan celana dalam yang longgar dan (maaf) sudah bolong-bolong. Memang sih kalau sudah pakai celana jadinya tidak terlihat.

Sesampainya di rumah setelah berbuka puasa, saya bersiap untuk salat Magrib. Setelah wudu saya sempat becermin di kamar mandi dan mendadak malu sendiri. Saya malu karena akan menghadap Sang Mahapemberi Rezeki tapi saya tidak menghargai-Nya dengan tidak menggunakan yang terbaik yang mampu saya beli dengan rezeki yang telah diberikan-Nya.

Saya mau salat menggunakan baju tidur yang lepek yang udah nikmat banget dipakai tidur (pasti semua punya baju model begini kan?). Terhadap orang lain saya mencibir, tapi saya sendiri melakukannya. Mana mau dipakai ibadah lagi. Duh...

Lucu, kadang-kadang kalau saya ingat tentang berpakaian ini. Dengan baju lepek tadi jika ada tamu datang, pasti kita akan menggantinya, kan? Malu sama tamu, begitu alasannya.

Terhadap sesama manusia merasa malu kalau pakai baju jelek, tapi terhadap Allah enggak malu? Ingatkah kita kalau mau pergi ke undangan, wawancara kerja, atau ke rumah calon mertua kita bisa berdiri mematung di depan lemari mencoba banyak variasi pakaian lalu mematut diri di depan cermin.

Kita memastikan memakai pakaian terbaik untuk menghadap mereka supaya menimbulkan kesan yang terbaik pula, ya, kan? Nah, kalau bajunya sudah bagus, apakah sudah serta-merta layak dipakai salat? Saya jadi teringat salat Jumat beberapa waktu lalu.

Di depan saya ada lelaki yang mengenakan kaus hitam, terlihat masih bagus mungkin baru dan mungkin juga mahal. Bisa jadi karena dia penggemar musik metal jadi dia pakai baju band metal bergambar tengkorak berlumuran darah dan ada logo pentagram.

Bajunya bagus dalam artian tidak bolong, tapi menurut saya kurang layak dipakai ibadah. Salat pakai baju sepak bola boleh? Saya kira boleh boleh saja, asal jika kita mau menghadap Allah jangan bawa-bawa masalah duniawi.

Misalnya yang pakai jersey Manchester United nggak mau salat berdampingan dengan yang pakai jersey Liverpool, atau bobotoh dengan jersey Persib tidak mau jadi makmum imam yang pakai jersey Persija. Saya belum pernah melihatnya sih, tapi kalau sampai kejadian lucu aja hehe.

Kita sekarang hidup di zaman modern yang menuntut segala kepraktisan. Akhirnya di saat kita salat pun yang kita pakai ialah pakaian yang menempel di badan saat itu. Yakin itu bersih dari najis? Sayang sekali hanya karena atas nama kepraktisan kita hanya mendapatkan pahala gerakan fisik saja dari salat kita.

Untuk hal ini saya salut kepada seorang teman di kantor yang selalu berganti pakaian ketika dia akan salat di musala. Dia melepas segala pakaian kerjanya lalu menggantinya dengan pakaian untuk beribadah. Saya yakin Allah menghargai niatnya.

Atau begini deh simpelnya, ingatkah kapan terakhir kali kamu mencuci sarung dan mukena? Sarung dan mukena yang kita pakai setiap hari minimal lima kali dibiarkan tidak dicuci berbulan-bulan. Hmm...untuk bagian ini saya jadikan note to myself juga sih hehe.

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Yuk mulai membiasakan diri untuk memakai baju yang indah, layak, dan terbaik untuk bertemu dengan-Nya. (H-5)

Komentar