Renungan Ramadan

Shaabir ke Mashaabir

Kamis, 8 June 2017 06:47 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

SEMAKIN tinggi martabat spiritual seseorang, semakin tinggi ujiannya. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit yang menjijikkan. Sekujur tubuhnya hancur, membusuk, dan dikerumuni ulat belatung. Yang lebih menyakitkan, istrinya pun ikut mengucilkannya. Saat itu ia berjanji akan mencambuk istrinya 100 kali seandainya penyakitnya sembuh.

Nabi Ayyub sabar menja­lani penyakit yang diderita­nya meskipun sudah berusaha untuk mencari tabib untuk me­nyembuhkannya. Ia juga sabar ketika dibuang dan di­kucilkan masyarakat meskipun bersedih karena keluarga terdekatnya ikut memencilkannya. Kesabaran Nabi Ayyub pada tingkat ini disebut shaabir.
Setelah sekian lama hidup di gua pengasingan, ia mulai bersahabat dengan lingkungannya. Ia juga bersahabat dengan penyakitnya, termasuk kerumunan belatung yang menggerogoti dirinya.

Konon Nabi Ayyub pernah memungut kembali belatung yang jatuh dari tubuhnya dengan mengatakan, kalian dulu musuhku, sekarang menjadi sahabatku. Hanya kalianlah yang mau menemaniku di dalam kesunyian gua ini. Bahkan ia menikmati penyakit dan kesendiriannya di dalam gua. Kesabaran Nabi Ayyub pada tingkat ini sudah dapat disebut mashaabir.

Suatu ketika Nabi Ayyub diperdengarkanlah teriakan: “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS Shad/38:42). Setelah itu, tiba-tiba memancar air jernih dan sejuk dari bekas tumitnya.

Nabi Ayyub minum dan mandi dengan air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam di­ri­nya. Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan belatung-belatung sahabatnya tiba-tiba menghilang. Bahkan bekas-bekas luka pun tidak tampak. Ia lalu sembah sujud atas kasih sayang Allah SWT terhadap dirinya.

Kesabaran di tingkat awal (shaabir) masih menyisihkan se­dikit keluhan, sedangkan kesabaran di tingkat akhir (mashaabir) sudah tidak ada lagi keluhan, bahkan sudah bersahabat dengan penyakit dan penderitaan.

Kita sering mendengar ungkapan, “Saya sudah memaafkan, tetapi belum bisa melupakan.” Itu merupakan ungkap­an shaabir. Ketika ia memaafkan dan kembali ke titik nol, itu berarti sudah mashaabir.

Orang-orang yang sudah sampai ke tingkat mashaabir biasanya akan tampil be­berapa keajaiban dalam dirinya. Itu tidak mengherankan karena ia sudah begitu dekat dengan Tuhan sebagaimana diungkapkan dalam ayat: Innallah ma’a al-shabirin (Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang sabar (QS Al-Baqarah/2:153).

Kata shaabir menunjukkan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, masih memberi batas, dan sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol sehingga kesabaran menjadi lenyap, sedangkan kata mashaabir berarti orang yang sabar dan kesa­barannya bersifat permanen tanpa batas.

Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkap­an ‘tapi kesabaran kan punya batas’, orang itu belum masuk ketagori mashaabir.

Sementara itu, shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang ditempatkan dalam asma’ yang terakhir ialah al-Sabur.

Allah SWT disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya. Sekufur dan sezalim apa pun hamba-Nya, Ia tetap bergeming­ dan tetap bersedia untuk memaafkannya. Ini buktinya bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang daripada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam.

Semoga kita semakin hari semakin matang hingga memiliki kemampuan untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan, termasuk sifat kesabaran-Nya.

Komentar