Surat Dari Seberang

Kampung, Kalender dan Jepang

Rabu, 7 June 2017 09:54 WIB Penulis: Milto Seran, dari Moscow, Rusia

Foto: Milto Seran

Kamu lihat ‘kan di seluruh bagian kaki dan lengan oma

ada Tato dengan motif-motif seperti motif pada kain tenun.

Tato itu dibuat pada zaman Jepang, saat oma-mu ini masih gadis.

Itu dimaksudkan untuk mengelabui tentara-tentara Jepang,

bahwa Tato menjelaskan seorang perempuan telah dinikahi.__

Hari itu, hari ulang tahun seorang sahabat. Dengan jasa facebook saya menulis dan mengirim pesan berikut ini.

Hai ibu, selamat ulang tahun ee. Panjang umur dan sukses selalu untuk ibu dan keluarga. Wahhh baru ulang tahun kali ini saya sadar, kalau ulang tahun ibu jatuh pada angka sebelum tgl 8 Maret, Hari Perempuan Internasional. Ingin rasanya memberi setankai bunga dan cokelat spesial untuk ibu; penghargaan terbesar menurut budaya orang Russia dan ropa umumnya untuk seseorang. Hari ini dan esok tgl 8, bunga dan cokelat di toko-toko laris manis. Tapi sayang, saya cuma memberi "setankai doa dan sebungkus harapan", pengganti bunga dan cokelat, semoga ibu tetap bersinar dan sehat dan sukses, dan semua yang terbaik untuk ibu di hari-hari yang akan datang. Selamat ulang tahun ibu, mohon maaf lahir batin.

Saat menulis ucapan ini, saya tahu dan sadar benar, bahwa belum pernah dalam hidup ini saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk ayah dan ibuku, dua sosok terhebat dalam hidupku dan tentu dalam hidup setiap anak. Kecuali itu mungkin demikian, karena alasan tidak waras, entah anak, entah orangtua telah menimbulkan luka tak tersembuhkan dalam batin.

Setiap kali saya mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada orang-orang, sahabat-sahabat dan kenalan-kenalan, khususnya orang-orang tua, saya menahan dengan sabar keinginan untuk melakukan hal serupa kepada kedua orangtuaku. Sayang, mereka tak tahu tanggal, bulan dan tahun lahir mereka hingga detik ini. Juga tetangga-tetangga kami, juga semua orang di kampung saya tak satu pun tahu tentang tanggal, bulan dan tahun lahir ayah dan ibuku.

Apakah mereka salah? Apakah opa dan oma yang sudah pergi untuk selamanya itu salah? Tidak. Mereka semua tidak salah. Mereka lahir pada zaman yang berbeda dengan cara hidup yang berbeda, juga cara berpikir yang berbeda di kampung. Mereka lahir di tempat di mana perayaan hari ulang tahun bukan sesuatu yang lumrah. Mereka juga lahir dari keluarga yang sederhana. Di sana waktu dihitung berdasarkan musim:musim tanam, musim panen, musim hujan, musim ini-itu berdasarkan rasi bintang. Di sana yang ada cuma cara orang-orang dulu melihat bulan dan bintang, mulai dari bulan sabit hingga bulan purnama. Mereka tahu kapan mereka harus menanam menurut rasi bintang dan letaknya.

Tuhan menghadirkan orangtuaku di dunia dalam situasi seperti ini, suatu masa di mana orang-orang tidak belajar tentang kalender dan angka-angka di dalamnya. Mereka lahir di tengah masyarakat yang tidak mengenal pendidikan formal, sehingga opa dan oma tak sempat menyadari pentingnya mencatat tanggal lahir. Atau andai saja mereka sadar akan hal ini, mereka pun tidak tahu menuliskannya.

Mereka cuma mencatat dengan cara sederhana, orang-orang di kampung lahir pada musim tanam jagung, atau musim panen jagung. Mereka hanya mengingat dengan pertanda yang sangat sederhana, anak-anak ini lahir pada pesta panen, atau ada yang dengan enteng mengatakan dia lahir pada hujan pertama di musim itu. Lain lagi, anak ini lahir pada saat orang-orang di kampung mulai menanam kacang hijau. Tapi sayang, musim sudah berubah, alam sudah lain, segalanya sudah beralih. Juga sayang, semuanya sudah terlambat untuk dicatat.

Saya cuma bertanya, pada saat ayah dan ibu mulai berkenalan, dan saling mengagumi, lalu jatuh cinta, apakah mereka saling bertanya tentang hari ulang tahun mereka? Apakah dua hari atau sehari sebelum ulang tahun ibu, ayah sudah menyiapkan hadiah ulang tahun? Bagaimana orang-orang seusia ayah dan ibu dulu berbicara tentang ini? Barangkali masih banyak tanya tentang persoalan sederhana ini, tapi aneh, ulang tahun bukan urusan penting untuk ayah dan ibu sejak mereka saling jatuh cinta hingga saat ini.

Ulang tahun bagi mereka memang hal tak berarti. Tapi ayah sungguh paham bahwa mereka punya pengalaman yang tidak boleh terjadi untuk saya dan saudara-saudariku. Itu alasannya ayah saya tahu baik, ingat baik kapan kami dilahirkan, tak hanya berdasarkan kalender, tapi bahkan pada jam berapa saya lahir, ayah akan menjelaskannya secara detail kepada siapapun yang bertanya tentang ini.

Belum lama ini kami mengisi dokumen untuk urusan memperoleh izin tinggal sementara, temporary residence visa di Moskow. Nguen, teman saya yang orang Vietnam memiliki 12 saudara-saudari. Sangat menarik bahwa mereka memiliki keluarga yang amat besar. Saat ini ada yang tinggal di Amerika Serikat, sebagian besarnya tinggal di Vietnam dan Nguen sendiri tinggal dan bekerja di Moskow. Nguen bahkan bilang pada saya bahwa orangtua mereka tidak tahu tanggal lahir saudara-saudarinya, jadi bagaimana angket ini bisa diisi dengan benar? Kami kewalahan. Bisa dipahami, bahwa seperti orang Tionghoa umumnya, orang-orang Vietnam memiliki kalender tersendiri.

Kalender memang hal yang amat penting. Tapi di mata ayah dan ibu, yang terpenting bukan itu. Mereka tahu bahwa mereka sudah gagal mengingat hari ulang tahun mereka. Mereka sadar benar bahwa pendidikan mereka sungguh sangat terbatas, cuma menyelesaikan Sekolah Rakyat (sekolah dasar). Mereka ingat bagaimana mereka dulu belajar matematika, belajar bahasa Indonesia, belajar menulis yang mereka sebut “Imala”. Mereka juga ingat bagaimana dulu di kelas mereka ramai-ramai menulis materi pelajaran pada “batu tulis” dan hari itu juga mereka mesti berjuang sedapat mungkin menghafal semuanya sebelum matahari terbenam. Malam segera turun, di kampung tak ada kemungkinan untuk belajar pada malam hari karena tak ada pelita yang memadai. Sedangkan materi lama sesegera mungkin dihapus, sebab esok pagi mereka harus mengenal materi baru yang ditulis pada batu yang sama.

Sungguh menggelikan kisah ayah dan ibu semasa mereka menjadi murid Sekolah Rakyat di kampung dulu. “Kami tentu berbeda dari siswa-siswi sekarang. Mereka masih di tingkat sekolah dasar, sudah mahir menggunakan smartphone. Mereka punya buku ini dan itu. Tapi mereka lebih sibuk dengan hal-hal lain, bukan buku. Teknologi memang memudahkan segalanya, tapi tak banyak mengajarkan arti perjuangan,” ayah sedikit kesal pada generasi sekarang yang dimanja oleh kemajuan dunia.

Ayah bercerita bagaimana dulu mereka mengikuti ujian akhir di kampung tetangga dan sehari sebelumnya oma menyiapkan bekal untuk mereka, sebab untuk perjalanan ke kampung tetangga yang jaraknya cuma 5 Km, mereka mesti menghabiskan waktu berjam-jam.

Untuk mereka hal ini benar-benar tidak masuk akal, sebab saat ini orang bisa menempuh jarak itu cuma dalam hitungan kurang dari 45 menit (jalan kaki). Tapi ada mitos, dulu roh-roh halus sungguh berkuasa. Mereka bisa menyembunyikan kampung tertentu dari penglihatan normal penduduk di kampung. Mereka juga bisa menyembunyikan jalan-jalan setapak ke kampung tetangga.

“Itu sebabnya ketika di tempat lain banyak warga kampung yang tergolong PKI dibantai, di kampung kita tidak ada pembantaian PKI. Orang-orang datang ke kampung untuk cari orang-orang yang diklaim anggota PKI, ehhh mereka malah tersesat karena yang mereka lihat cuma hutan dan jurang. Oma-mu ini dan beberapa orang kita juga diklaim sebagai bekas anggota PKI dan hingga tahun 1980-an masih dikenakan “wajib-lapor” secara rutin, juga disuruh membersihkan halaman-halamankantor,” demikian kisah ibu.

Di rumah adat kami di kampung, ada ritual khusus untuk menyembunyikan kampung dari musuh (lake rai), saat musuh datang ke kampung mereka hanya menjumpai jurang dan hutan tanpa jalan. Ritual yang aneh tapi membebaskan orang-orang kami dari kekejaman Jepang. Di kampung kami tentara-tentara Jepang datang untuk mengambil gadis-gadis dan menjadikannya istri untuk sementara. Tetapi ayah bercerita, “selain memiliki ritual lake rai,kita juga punya tradisi Tato.”

Ayah menambahkan, “Kamu lihat ‘kan di seluruh bagian kaki dan lengan oma terlihat Tato dengan motif-motif seperti motif pada kain tenun. Tato itu di buat pada zaman Jepang, saat oma-mu ini masih gadis. Itu dimaksudkan untuk mengelabui tentara-tentara Jepang, bahwa Tato menjelaskan seorang perempuan telah dinikahi.”

Benar juga. Di kampung, dari rumah ke rumah saya lihat banyak perempuan tua, mereka yang sudah lansia masing-masing memiliki tato di seluruh bagian kaki dan lengan dengan motif yang khas.

“Tapi untuk mereka yang tidak bertato bagaimana nasib mereka? Ya nasib mereka jelas, mereka dibawa pergi. Tapi ada juga strategi lain, gadis-gadis di masa itu punya tempat persembunyian. Bagi mereka digali lubang untuk bersembunyi saat tentara jepang masuk di kampung kita,” cerita ayah.

Jepang memang sungguh kejam. Oma juga biasa bercerita, saat Jepang masuk, semua lelaki di kampung menghilang ke hutan. Mereka tidak sanggup dipermainkan dengan kejam oleh Jepang. Bagaimana mungkin sepuluh orang diminta untuk memikul sebatang pohon kelapa, dan jika tidak sanggup, angka itu dikurangi menjadi sembilan. Selanjutnya tidak sanggup dikurangi lagi, dan seterusnya seperti itu. Bisa dibayangkan bagaimana nasib orang terakhir?

Apakah nasib mereka yang lain itu lebih baik dari nasib orang terakhir ini? Tidak. Untuk yang sembilan orang itu telah disiapkan seekor kuda jantan yang sangat liar di lapangan. Mereka membentuk lingkaran dan harus menangkap kuda itu dengan tangan. Sangat kejam, bisa dengan mudah dibayangkan bagaimana kondisi orang-orang di kampung terkapar saat dihantam kuda yang perkasa.

Ayah bilang itulah Jepang yang dikenal sangat kejam.

“Sekarang kamu hidup di zaman yang sudah lain. Untuk kami, pendidikan cukup Sekolah Rakyat. Lulus dari jenjang ini saja kami sudah bangga luar biasa. Kamu harus lebih pintar dari ayah dan ibu. Cukup ayah dan ibu saja yang hidup dengan kondisi seperti ini."

Komentar