celoteh

Love Is in the Hair

Rabu, 7 June 2017 09:11 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

TEMPATNYA sederhana, ukurannya sekitar 3X5 meter. Di dalamnya ada tiga kursi pangkas menandakan tiga orang yang bekerja di tempat itu. Dindingnya dicat hijau dihiasi banyak poster pemain sepak bola. Di antara poster tersebut ada kertas hasil print komputer yang diberi pigura menunjukkan harga jasa yang mereka tawarkan; dewasa Rp18.000, anak Rp15.000, dan jenggot Rp5.000.

‘Latansa’, begitu tertulis di papan depan yang menghadap jalan. Latansa berarti ‘jangan lupa’ dan di situlah saya tidak pernah lupa merapikan rambut juga jenggot dan kumis setiap minggunya dalam dua tahun terakhir.

Ada tiga pemangkas rambut di sana: Zaenal, Zulkifli, dan Samsuri. Mereka semua berasal dari Garut, satu kampung halaman dengan saya. Sering terpikir apa yang menyebabkan orang Garut itu identik dengan pemangkas rambut? Coba deh kalau potong rambut di barbershop (bukan salon), iseng tanya dia berasal dari mana? Pasti jawabannya dari Garut. Saya kira ini adalah sumbangan terbesar warga Garut untuk Indonesia karena kalau tidak ada mereka, orang Indonesia gondrong semua, hehe.

Saya lebih suka datang ke barbershop daripada salon karena rasanya ‘lebih laki’. Mungkin karena perpaduan bau pomade, sabun cukur, minyak pijat, juga obrolan yang laki banget seperti sepak bola di samping yang datang memang kebanyakan laki laki. Nah lucunya di tempat saya ini karena si pemangkas rambutnya fan berat sepak bola, jadi jika ingin punya potongan rambut seperti apa, tinggal sebutkan model rambut pemain sepak bola yang mana. Kalau mau gaya punk, bilang saja ‘mohawk Balotelli’, atau jika mau potongan undercut, tinggal bilang ‘cepak Ronaldo’, pasti mereka langsung mengerti apa yang kita mau. Kalau saya sih sudah ada kata kuncian ‘kuncir Ibra’, merujuk ke gaya rambut Ibrahimovic yang sudah saya pakai setahun terakhir, hehe.

Barbershop adalah tempat yang biasanya ‘diwariskan’ dari bapak ke anaknya. Saya ingat waktu kecil sering diajak bapak ke kios potong rambut Waluya di Jalan Braga, Bandung. Mang Rahmat, begitu bapak biasa memanggil pemangkas langganannya itu. Karena masih kecil, supaya tidak tenggelam di kursi pangkas, jadinya diberikan alas semacam papan kayu yang dipasang melintang di tangan kursi. Sementara saya dipotong rambut, saya mendengar bapak dan Mang Rahmat ngobrol ke sana kemari mulai pekerjaan, kondisi negara, sampai kampung halaman. Tebak kampung halaman Mang Rahmat? Ya tepat sekali, Garut! Kenangan itu begitu membekas sampai hari ini.

Jika kita mau melihat dari kacamata sosiologi, sebenarnya tempat potong rambut itu adalah salah satu tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kelas. Ketika sudah nyaman dengan si tukang rambut, biasanya banyak cerita yang keluar, dari si bos pengusaha, pak jenderal, sampai mas artis. Semua yang ada bisa ikutan nimbrung. Akrab sekali padahal sebelumnya tidak saling mengenal. Jadi ingat film Barbershop yang dibintangi Ice Cube. Barbershop bukan hanya tempat orang memotong rambut, melainkan juga pusat pergerakan masyarakat.

Saya tidak anti menggunakan jasa potong rambut ‘murah’ dan hanya kelas kios kecil pinggir jalan. Ini soal jasa, dan jasa itu mengenai rasa cocok dan nyaman. Bukankah hidup itu murah, gengsi yang membuatnya jadi mahal?

Sudah punya baju bagus buat dipakai salat Id nanti? Nah, jangan lupa sebelum dipakai, mampir dulu ke barbershop untuk merapikan rambut.

Good hair is the gateway to good fashion because love is in the hair. (H-5)

Komentar