celoteh

Butuh dan Ingin

Selasa, 6 June 2017 07:14 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Surapradja -- MI/Permana

SIAPA yang tidak senang berbelanja? Apalagi ada THR yang didapatkan menjelang Lebaran. Rasanya itu sudah menjadi sebuah keharusan. Boleh dong merayakan hari kemenangan? Ya boleh dong. Saya juga belanja kok.

Masalahnya, karena merasa uang ‘aman’ bahkan berlebih, jadinya kita suka lupa atau sengaja lupa membedakan kebutuhan dan keinginan. Padahal belum tentu barang yang kita beli itu kita butuhkan, tapi hanya kita inginkan. Display menarik dan tulisan diskon segede gaban memang suka membuat khilaf. Niat jalan-jalan doang saja jadi belanja, apalagi yang sudah niat belanja. Untuk hal ini saya angkat topi kepada visual merchandiser di tempat perbelanjaan hehe.

Kebutuhan dan keinginan ialah dua hal yang mirip, tapi sebenarnya berbeda. Setiap kali kebutuhan sudah terpenuhi, biasanya kemudian kita memiliki keinginan. Nah masalahnya karena keinginan itu dipengaruhi banyak faktor seperti gaya hidup, pergaulan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri, terkadang kita lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan.

Ada beberapa hal yang bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Yang pertama, dari sifatnya. Kebutuhan itu bersifat objektif karena semua orang punya kebutuhan dasar yang sama. Sementara itu, keinginan bersifat subjektif karena keinginan setiap orang itu bisa berbeda-beda bergantung pada gaya hidup, pendapatan, dan pola pikirnya. Semakin tinggi gaya hidup, pendapatan, dan pola pikir seseorang, biasanya semakin banyak pula keinginannya. Punya pakaian itu kebutuhan, tapi punya pakaian hasil rancangan desainer Alexander McQueen itu keinginan.

Yang kedua dari sumbernya. Kebutuhan bersumber dari fitrah manusia, yang jika tidak dipenuhi, kehidupan bisa terancam. Sementara itu, keinginan bersumber dari hawa nafsu. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu atas keinginannya sering kali mengabaikan kebutuhan-kebutuhannya yang paling mendasar. Punya rumah itu kebutuhan, tapi punya apartemen penthouse di kawasan elite itu keinginan.

Yang ketiga dari nilainya. Kebutuhan dinilai dari seberapa besar fungsi dan manfaat yang dapat kita peroleh dari pemenuhannya, sedangkan keinginan dinilai dari seberapa besar selera dan preferensi. Misalnya makan buka puasa deh. Secara kebutuhan, kita sebetulnya hanya membutuhkan makanan yang sehat, bergizi dan mengenyangkan, sementara secara keinginan, kita menginginkan makanan yang enak, mahal, dan sesuai dengan selera kita.

Lalu perbedaan kebutuhan dan keinginan bisa kita lihat dari hasilnya. Kebutuhan yang terpenuhi akan menghasilkan kemanfaatan, sementara keinginan yang terpenuhi akan menghasilkan kepuasan. Kemanfaatan dari pemenuhan kebutuhan umumnya biasanya terbatas, sementara kepuasan dari pemenuhan keinginan itu sebaliknya, tidak memiliki batasan. Setiap ada keinginan yang sudah terpenuhi, biasanya akan muncul keinginan lainnya. Punya jam tangan itu kebutuhan kita untuk menunjukkan waktu, tapi jika beli jam tangan setiap tahun di pameran Basel World Swiss itu keinginan. Ini sih curhat pribadi hehe.

Islam sebetulnya mengajari kita menyikapi kebutuhan dan keinginan. Dalam Islam kita dianjurkan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memenuhi semua kebutuhan kita, tapi kita juga diajari untuk bisa membatasi semua keinginan kita.

Semoga semua rezeki yang kita dapatkan pada Ramadan ini jadi berkah untuk kita yang membelanjakannya. Selamat berbelanja! (H-5)

Komentar