celoteh

Tsundoku

Senin, 5 June 2017 07:34 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

DUA pekan terakhir ini ada buku yang saya bawa setiap hari di dalam tas, yang pertama Islam Tuhan Islam Manusia karangan Pak Haidar Bagir dan If You like Metallica karya Mike McPadden. Bahasan kedua buku itu berbeda jauh. Yang pertama berbicara mengenai tafsir agama dan bagaimana tafsir agama diupayakan untuk menjawab kebutuhan manusia di zaman yang berbeda. Sementara itu, buku kedua berbicara mengenai band, CD, dan film yang akan kita sukai jika kita menyukai Metallica.

Buku yang pertama biasanya saya baca malam hari sebelum tidur di saat lampu kamar dimatikan, dalam kesunyian. Membacanya memerlukan ketenangan karena setiap beberapa lembar biasanya saya berpikir dan merenungkan isi tulisannya. Sementara itu, buku yang kedua malah kebalikannya, saya baca di siang hari, dan setiap beberapa lembar saya pasti membuka Youtube untuk melihat dan mendengar band, album atau film yang (mungkin) akan kita sukai jika kita suka Metallica.

Beberapa waktu yang lalu ada pameran buku tahunan Big Bad Wolf. Sebagai penggemar buku saya sampai datang tiga kali dan memborong. Bayangkan saja buku impor diskon sampai 80%, siapa enggak kalap? Hehe

Saya sangat senang membaca, tapi sesering apa pun saya membaca tidak akan pernah seimbang dengan jumlah buku yang saya beli. Baca baru satu buku, tapi beli buku udah tiga. Akhirnya, banyak buku yang belum dibaca dan hanya menumpuk di lemari, tsundoku istilahnya.

Tsundoku ialah istilah dalam bahasa Jepang. Tsunde artinya menumpuk barang, oku artinya meninggalkannya, dan doku yang berarti membaca. Singkatnya ini sebuah kebiasaan membeli buku lalu ditumpuk tanpa dibaca. Ayo ngaku siapa yang punya kebiasaan ini? Rasanya saya enggak sendirian deh hehe.

Alasan orang membeli buku itu banyak. Yang pertama supaya terlihat keren. Beli buku hanya untuk tujuan posting di Instagram, Twitter, atau media sosial lainnya. Ada yang swafoto dengan buku dan pake caption can’t wait to read this good book. Ada juga yang foto buku plus secangkir kopi dengan caption ‘teman sarapan pagi ini’ atau akting sedang baca buku lalu minta difoto ala candid sama teman atau waiter dengan caption ‘enjoying my me time’. Mungkin kalau buku bisa dibeli kovernya saja dia akan melakukan itu karena mungkin habis difoto bukunya enggak dibaca, tapi ditumpuk hehe.

Ada juga yang beli buku karena impulsif. Masuk toko buku, liat liat terus nemu buku yang kovernya bagus, baca sedikit resensi halaman belakang lalu dianggap cocok sama tema kesukaan, langsung beli. Padahal di rumah masih banyak buku menumpuk yang belum dibaca hehe.

Lalu ada juga yang memang menyukai tema tertentu atau fan seorang penulis. Dipikir-pikir buku saya memang temanya ya itu-itu saja, kalo enggak musik, agama/filsafat, ya sejarah. Kalau untuk penulis beberapa kesukaan saya ada Mitch Albom dan Jostein Gaarder yang jago memadukan cerita fiksi dengan filsafat kehidupan. Saya juga senang membaca buku Jeremy Clarkson mantan host Top Gear dan jurnalis yang tulisannya selalu penuh dengan sarkas ala Inggris, dan Eka Kurniawan yang tulisannya selalu membawa saya masuk ke ceritanya.

Ada juga yang membeli buku karena ikutan tren. Atau mungkin ada juga yang beli buku itu untuk dekorasi. Daripada lemari rumah atau meja kantor sepi, ya beli buku sajalah. Dibaca syukur, enggak dibaca ya anggap saja hiasan. Membeli buku itu penting, tapi membaca buku itu jauh lebih penting. (H-5)

Komentar