celoteh

Stikerku Pesanku

Ahad, 4 June 2017 08:43 WIB Penulis: H-5

Ronal Supradja -- MI/Permana

SEPULANG siaran radio saya mampir ke bengkel untuk mengambil mobil yang selesai body repair di bengkel. Seminggu lalu mobil disenggol motor yang berbelok tiba-tiba, lalu kabur begitu saja.

Sebelum meninggalkan bengkel, saya meminta orang bengkelnya untuk melepas stiker bengkel tersebut yang ditempel di mobil saya.

Kalau kita perhatikan, banyak orang yang justru memasang stiker di mobil mereka. Dari yang secukupnya saja sampai yang menutupi kaca. Ya silakan saja, mobilnya sendiri kok, he he he. Stiker itu seperti bentuk pernyataan identitas diri, sebuah bentuk komunikasi nonverbal yang sering kali ditangkap beda artinya oleh orang lain yang melihatnya he he he.

Ada beberapa jenis stiker yang sering kita lihat menempel di mobil. Yang pertama dan yang paling banyak sepertinya stiker tempat wisata. Ada si gajah Taman Safari, lumba-lumba Seaworld, taman buah kebanggaan kita bersama Mekarsari, Waterboom, Jungleland, dan lain-lain. Orang yang seperti ini ingin dikenal sebagai si penikmat hidup yang gemar travelling. Mungkin pesan yang ingin dia bilang ialah “Gua dong pagi ke Taman Safari ngasih makan gajah, siang metik buah di Mekarsari untuk dimakan sore waktu bersantai lihat ikan di Seaworld.”

Yang kedua ialah stiker anggota keluarga. Ayah, bunda, kakak, adik, kakek, nenek, Om Bram, Tante Lisa, sampai Bleki si binatang peliharaan dijejerin. Jangan nanggung, sekalian aja stiker silsilah keluarga, biar orang bingung ini mobil apa kantor disdukcapil? He he he.

Kalau anggota keluarganya masih anonim, masih mending. Lah, ada yang sampai nulis namanya sekalian. Sadar atau tidak, dengan memberikan informasi pribadi ke publik ini bisa mengundang niat jahat, terutama untuk anak. Ada nama anak, ada nomor mobil, yang terbayang oleh saya ialah penculikan anak.

Berikutnya ialah stiker pedal mobil. ‘Real men use three pedals’ yang ditempel pemilik mobil manual dengan bangganya. Si pemilik mobil matik membalas dengan pasang stiker ‘Classy men use two pedals’. Pernah terpikir untuk membuat stiker ‘Rich men use driver’, tapi saya urungkan mengingat setiap hari saya pakai ojek, he he he.

Nah, ada juga yang memasang stiker instansi, terutama TNI atau Polri. Biasanya wajahnya galak, atau tepatnya digalak-galakin. Santai aja kali, Pak, he he he. Enggak yakin juga mereka memang anggota dari kesatuan stiker tersebut karena stiker ini bisa dibeli di banyak tempat oleh siapa saja.

Jadi, ingat zaman saya kecil dulu sama stiker mobil, terutama di angkot, yang sudah jarang saya lihat sekarang ini. Di pintu biasanya ada tulisan ‘Pintu jangan dibanting’. Pintu udah kita tutup pelan-pelan, tapi enggak bisa karena semirusak, ya akhirnya dibanting juga supaya menutup, he he he.

Ada juga stiker ‘Naik gratis turun bayar’ ditempel di atas pintu keluar, ‘Yang manis duduk dekat mas sopir’ ditempel di dasbor penumpang depan, ‘Jelek-jelek milik sendiri’ ditempel di kaca belakang, atau stiker bergambar tangan ditambah dengan bagian bening untuk menempel pas foto dengan tulisan ‘Hidupku di tangan Tuhan’.

Mobilmu, stikermu, pesanmu. (H-5)

Komentar