PIGURA

Bukan Pengecut

Ahad, 4 June 2017 04:01 WIB Penulis: Ono Sarwono

KUMBAKARNA dan Gunawan Wibisana gerah dan tidak betah berada lagi di lingkungan istana Negara Alengka. Itu disebabkan nilai-nilai keutamaan sudah tidak ada tempatnya. Semua itu gara-gara sepak terjang sang kakak Raja Alengka Prabu Dasamuka yang memonopoli kekuasaannya demi memuaskan hasrat hidupnya yang terbelenggu nafsu angkara murka.

Pada puncaknya, Kumbakarna kabur, menyingkirkan diri. Gunawan lebih ekstrem, meninggalkan Alengka, tempat lahirnya, tanah airnya. Ia kemudian menyeberang, mengabdi kepada Rama Regawa.

Langkah Kumbakarna dan Gunawan itu merupakan wujud keteguhan hati mereka atas prinsip-prinsip hidup. Ketika 'rumah' tempat mereka 'berteduh' dirasa sudah tidak selaras dengan 'ideologi'-nya, keduanya tegar keluar dan mencari tempat lain yang nyaman atau sepaham.

Menculik Sinta

Syahdan, Negara Alengka dipimpin Dasamuka alias Rahwana, putra sulung pasangan Wisrawa dengan Sukesi. Ia memiliki tiga adik yang bernama Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana. Dari keluarga empat bersaudara kandung tersebut, si bungsu Gunawan menjadi satu-satunya yang lahir 'normal'. Ketiga kakaknya berujud yaksa.

Dasamuka mewarisi kesaktian sang ayah. Namun, itu belum cukup. Ia terus menambah kedigdayaannya. Segala upaya ia tempuh untuk membereskan ambisinya menjadi satu-satunya titah yang tak terkalahkan di muka bumi. Bahkan, oleh dewa penguasa Kahyangan sekalipun. Dengan modal ini, ia ingin leluasa memenuhi setiap impuls nafsunya.

Dalam rentetan ambisinya, satu yang belum terwujud ialah gelora syahwat memperistri Dewi Sri Widowati, salah satu bidadari elite Kahyangan. Namun, Widowati dikisahkan mati membakar diri ketika dikejar-kejar Rahwana. Kodratnya, roh Widowati kemudian menitis empat kali. Di antaranya, menyatu pada Sinta, putri kedhaton Mantili. Bagi Dasamuka, memiliki permaisuri Widowati merupakan kesempurnaan kejayaan hidupnya. Semua yang berada dalam genggamannya tidak ada nilainya bila Taman Argasonya (Alengka) tanpa penghuni Sri Widowati.

Ketika mengetahui Sinta berada di Hutan Dandaka, dari informasi prajurit telik sandi (intelijen), Dasamuka bergegas memburunya. Ia menyamar sebagai orangtua pikun yang berlagak meminta minum. Dengan cara itu, ia berhasil menculik Sinta yang saat itu sebenarnya dalam pengamanan rajah yang ditanam adik iparnya, Leksmana Widagda.

Dasamuka tidak peduli Sinta istri sah Rama. Keberadaan Rama dan Sinta yang didampingi Leksmana di hutan tersebut karena sedang menjalani hidup ngulandara (tanpa tujuan) yang diresapi sebagai lelana brata (laku prihatin).

Ketika penculikan terjadi, Rama sedang memburu kijang emas yang diinginkan Sinta. Kijang itu sejatinya wujud penyamaran Kala Marica, prajurit mata-mata andalan Dasamuka. Leksmana, yang semula diperintahkan Rama menjaga kakak iparnya, akhirnya menyusul untuk memastikan keselamatan sang kakak atas perintah Sinta. Namun, semua sudah terlambat. Dasamuka membawa kabur Sinta dan kemudian menyanderanya di Taman Argasonya yang sangat indah. Dasamuka dengan sabar menunggu datangnya cinta Sinta selama hingga sekitar 12 tahun. Namun, yang ditunggu-tunggu siang-malam itu hampa. Kesetiaan Sinta terhadap Rama tak bisa tergadaikan oleh apa pun.

Tinggalkan Alengka

Pada suatu ketika tiba-tiba muncullah Anoman, utusan Rama, di Alengka. Titah berwujud kera putih itu menyelinap ke Taman Argasonya untuk memastikan keberadaan Sinta. Akan tetapi, kedatangannya diketahui prajurit negara. Anoman akhirnya ditangkap sang putra mahkota Indrajit. Atas perintah Dasamuka, Anoman lalu dibakar di alun-alun.

Apa yang terjadi? Anoman tidak mati. Ia berontak dan mampu melepaskan diri dari kepungan api dan pasukan yaksa. Dengan cekatan Anoman meloncat ke satu tempat ke tempat lain sambil membakar apa saja yang ia lalui. Akibatnya istana Alengka berkobar hingga ludes.

Pascakejadian itu, Dasamuka menggelar rapat bersama ketiga adiknya dan seluruh nayaka praja. Agendanya soal hangusnya istana serta bobolnya pertahanan Alengka dari infiltran rewanda seta (kera putih).

Saat mendapat waktu bicara, Kumbakarna menyatakan penyebab kebakaran istana, tamparan hebat bagi kewibawaan negara, karena keberadaan Sinta di Argasonya. Ia mengusulkan demi terjaganya ketenteraman Alengka ke depan, Sinta dikembalikan kepada Rama.

Hal yang sama juga disampaikan Gunawan. Ia sebut nista menculik istri orang lain. Menurutnya, jika Sinta tidak dipulangkan kepada Rama, Alengka akan menjadi neraka. Alengka pasti akan runtuh.

Dasamuka murka besar mendengar itu. Sambil membentak ia menyebut Kumbakarna dan Gunawan ngawur, merendahkan martabatnya. Dasamuka berteriak tidak ada titah dan dewa yang bisa menghalangi atau menghentikan kehendaknya memperistri Sinta.

Singkat cerita, setelah berbagai upaya mengingatkan sang kakak gagal, bahkan justru membuatnya semakin marah, Kumbakarna minta pamit. Ia menyatakan dirinya tidak akan menginjakkan kakinya lagi di istana.

Kumbakarna juga tidak akan cawe-cawe jika terjadi apa-apa dengan Alengka. Dikisahkan, Kumbakarna lalu bertapa di Gunung Gohkarna. Kelak, ia baru turun dari semadinya saat Alengka di bibir kehancuran diporakporandakan pasukan kera, bala tentara Rama.

Gunawan pun demikian. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, ia lalu pergi meninggalkan Alengka. Langkah itu ia tempuh karena jika dirinya tetap berada di Alengka sama saja mendukung keangkaramurkaan. Gunawan kemudian bergabung dengan Rama, putra mahkota Negara Ayodya.

Keteguhan prinsip

Semula, Narpati Sugriwa, raja Goakiskenda, pendukung utama Rama, mencurigai Gunawan sebagai mata-mata Alengka. Namun, Rama, dari mata batinnya, yakin bahwa Gunawan tulus dan sepenuh hati ingin mengabdi. Oleh karena itu, Rama meminta semua untuk menyingkirkan syak wasangka terhadap Gunawan.

Pada kenyataannya, Gunawan menjadi salah satu kunci keberhasilan Rama merebut kembali Sinta dari genggaman Dasamuka. Dari bisikan Gunawan, diketahui titik kelemahan senapati Alengka sehingga mudah disirnakan.

Hikmah kisah ini ialah baik Kumbakarna maupun Gunawan menunjukkan keteguhan prinsip hidup. Mereka tidak ingin jadi pengecut, satru mungging cangklakan. Keduanya minggat ketika merasa tempat hidupnya sudah tidak nyaman dan sejalan. Bukan mengobok-oboknya dari dalam. (M-1)

Komentar