BIDASAN BAHASA

Imsak dan Saum

Ahad, 4 June 2017 00:16 WIB Penulis: RIKO ALFONSO/Asred Bahasa Media Indonesia

ANTARA/Iggoy el Fitra

MARHABAN ya Ramadan. Seiring dengan kedatangan Ramadan, muncul pula istilah-istilah serapan dari bahasa Arab yang berhubungan dengan bulan puasa ini. Sayangnya, banyak masyarakat kita yang tidak paham dengan makna istilah tersebut sehingga kerap salah kaprah saat penggunaannya.

Dalam rubrik ini, telah pula dipaparkan beberapa kesalahpahaman berbahasa yang kerap muncul di masyarakat umum berkaitan dengan Ramadan. Salah satunya ialah istilah takjil (verba) yang artinya 'mempercepat (dalam berbuka puasa)', tetapi malah diartikan sebagai 'makanan untuk berbuka puasa'.

Sayangnya, kesalahan itu dapat diterima Badan Bahasa dan akhirnya malah ditambahkan sebagai definisi kedua untuk takjil, yakni (nominal) 'makanan untuk berbuka puasa'. Menurut saya, itu malah menimbulkan kerancuan karena malah mengaburkan makna sebenarnya istilah takjil itu. Tentu Anda akan keheranan, misalnya, jika suatu saat muncul kalimat seperti Masyarakat kami takjil dengan takjil.

Akan tetapi, saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai istilah takjil itu. Ternyata, masih ada pula istilah sudah umum diketahui masyarakat banyak pada saat Ramadan, tetapi ternyata memiliki makna yang berbeda jauh dari yang dipahami selama ini oleh masyarakat. Istilah yang saya maksud di sini ialah imsak.

Setiap awal Ramadan, banyak bermunculan jadwal puasa Ramadan yang isinya tidak hanya memuat waktu-waktu salat wajib, tetapi juga waktu imsak. Oleh karena itu, jadwal tersebut sering pula disebut sebagai imsakiah, yakni jadwal yang menetapkan waktu salat, termasuk imsak setiap hari selama Ramadan.

Dalam jadwal tersebut, biasanya waktu imsak dibuat 10 menit lebih awal daripada waktu subuh. Misalnya, waktu subuh tercatat pada pukul 04.46 maka waktu imsak ditulis pukul 04.36.

Waktu imsak ini dipahami sebagian besar umat muslim Indonesia sebagai pengingat agar menyegerakan makan sahur mereka karena waktu subuh hanya tinggal 10 menit. Jadi, mereka masih boleh makan dan minum saat imsak tiba, tetapi harus sudah berhenti (menahan) makan dan minum saat waktu subuh sudah datang. Akan tetapi, benarkah demikian makna imsak itu sesungguhnya?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi V, makna imsak ialah 'saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum'. Bandingkan dengan kata puasa (saum) yang bermakna 'ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari'.

Dari definisi itu, dapat dipahami bahwa ternyata umat muslim seharusnya sudah tidak boleh makan dan minum lagi jika waktu imsak tiba. Letak kesalahan yang sudah terlalu lama terjadi dalam imsakiah di Indonesia ialah penempatan waktu imsak 10 menit lebih awal daripada waktu subuh. Seharusnya waktu subuh itulah waktu imsak karena aturan berpuasa itu dimulai saat terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu magrib). Lalu apa istilah yang tepat dipakai untuk menunjukkan waktu sebelum subuh itu? Masyarakat Arab sejak lama menggunakan istilah tanbihun yang berarti 'pengingat'. Kata imsak yang sudah kita pakai secara keliru selama ini bisa diganti dengan tanbihun.

Marilah Ramadan ini kita jadikan sebagai bulan membiasakan hal-hal yang benar, bukan membenarkan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan meskipun keliru. Semoga kesalahan makna itu dapat segera diselesaikan tahun depan. Semoga.

Komentar