Features

Kampung Mercon Pun Berganti Menjadi Kampung Kopiah

Kamis, 1 June 2017 21:58 WIB Penulis: Abdus Syukur

MI/Abdus Syukur

PULUHAN remaja putra putri bersama sejumlah ibu-ibu dan bapak-bapak tampak tekun menangani pekerjaan masing-masing. Mereka menyebar mengerjakan tugas, mulai dari mencetak ukuran, menjahit, melubangi, hingga proses pengepakan dalam plastik dalam satuan kodian.

Itu lah aktivitas sehari-hari di tempat usaha milik H Ahmad, 45, di Dusun Ngembe, Desa Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (1/6). Bukan hanya itu, di rumah-rumah warga yang lain, di sekitar tempat usaha H Ahmad, juga tampak para remaja dan ibu-ibu tengah bekerja merajut kopiah maupun membuat mukena.

Kondisi Dusun Ngembe saat ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan 10 hingga 20 tahun yang lalu. Dusun Ngembe ini dulunya dikenal sebagai kampung mercon (petasan). Dijuluki sebagai kampung mercon lantaran dulunya banyak ditemui usaha rumahan membuat mercon.

"Awal saya mulai usaha pada 1996, semuanya masih saya kerjakan sendiri. Saat itu, kampung ini masih banyak yang membuat mercon di rumah-rumah warga. Apalagi saat Ramadan seperti ini, makin banyak warga yang membuat mercon. Namun sekarang sudah jauh berkurang dan mungkin sudah tidak ada lagi," kata H Ahmad.

Karena terkenal sebagai kampung mercon, jika menjelang maupun saat Ramadan, Dusun Ngembe selalu menjadi sasaran razia pihak aparat kepolisian. Ratusan kilogram bubuk mesiu bahan pembuat mercon maupun ratusan ribu hingga jutaan mercon yang sudah jadi dan siap diedarkan terpaksa harus disita polisi.

Bahkan karena seringnya dirazia, Dusun Ngembe dianggap sebagai dusun yang menyeramkan oleh masyrakat Kabupaten Pasuruan. Karena jika ada orang luar kampung masuk, selalu dicurigai sebagai mata-mata untuk membocorkan pembuatan mercon.

"Saya tidak peduli dengan julukan sebagai kampung mercon itu, tetangga yang berminat saya ajak dan saya ajari membuat kopiah. Lama-lama ternyata banyak yang menyambutnya dengan antusias dan mereka mendapatkan penghasilan dari pembuatan kopiah itu," imbuh H Ahmad.

Setelah beberapa tahun, dia menjalani sendiri usahanya membuat kopiah di sebuah rumah kontrakkan, sekitar 2000-an dia mulai dibantu oleh tetangganya. Usahanya terus berkembang hingga bisa membeli rumah sendiri untuk tempat usahanya pada 2007 dengan jumlah pegawai sekitar 5 orang.

Usahanya terus berkembang dan saat ini tetangga yang menjadi pegawainya, lebih dari 50 orang. Itu pun yang bekerja secara langsung di rumah atau tempat usahanya. Bahkan remaja-remaja yang masih usia sekolah SMA dan sederajat juga diberi kesempatan bekerja, meski hanya setengah hari seusai jam sekolah.

Belum lagi, puluhan tetangganya yang mengerjakan pembuatan kopiah di rumah masing-masing. Bahan-bahan dan pola, didapatkan dari H Ahmad dan pengerjaannya diselesaikan di rumah tiap warga.

"Mereka hanya tinggal setor hasilnya dan selanjutnya mendapat upah borongan yang jumlahnya relatif. Tergantung seberapa banyak mereka mampu mengerjakan, serta tingkat kesulitan model kopiah yang dibuatnya," urainya.

Dari tahun ke tahun, usaha itu berkembang dan yang diproduksi warga bukan hanya kopiah saja. Warga yang memiliki kemampuan membuat mukena, bisa memberikan jasanya dan bahan juga tetap dari H Ahmad.

Dari banyaknya warga yang terlibat dalam pembuatan kopiah itu, dalam sehari bisa diproduksi sekitar 250 kodi kopiah. Sedangkan variannya terdiri atas 15 jenis, mulai dari kopiah rajut benang, kopiah haji putih, kopiah rotan, songkok khas Makassar hingga songkok hitam.

"Pasarnya sudah se-Indonesia, kota-kota di Jawa, Sumatra, Kalimantan, serta Sulawesi. Bahkan saya juga mengirim ke Malaysia untuk jenis tertentu dan yang ini khusus melayani pesanan saja. Tapi kalau sudah Ramadan seperti saat ini, kami sudah tidak mampu lagi melayaninya, karena permintaan sangat banyak," terangnya.

Untuk harga jual, kopiah dipatok dengan harga antara Rp30 ribu hingga Rp1,5 juta, untuk setiap kodinya yang berisi 20 buah kopiah. Jenis paling murah berupa kopiah rajut benang dan paling mahal jenis kopiah rotan cokelat.

Sedangkan untuk mukena, dalam seharinya bisa didapatkan 50 buah mukena yang dihasilkan para tetangganya. Harga jual mukena juga bervariasi antara Rp70 ribu hingga Rp350 ribu setiap buahnya, tergantung dari jenis bahan kain yang digunakan. Semakin bagus bahan kain yang digunakan, semakin mahal pula harga mukenanya.

Karena dikenal sebagai sentra pengrajin kopiah dan mukena, tempat usaha H Ahmad juga banyak didatangi warga untuk membeli. Terutama dijadikan oleh-oleh atau bingkisan bagi orang setelah menjalani ibadah haji atau umrah ke Tanah Suci. Bahkan dengan makin banyaknya warga yang menjadi pengrajin kopiah dan mukena, Dusun Ngembe saat ini malah dikenal sebagai kampung kopiah.

Sedangkan usaha pembuatan mercon, kian hari-kian tergeser dengan usaha pembuatan kopiah dan mukena itu. (OL-2)

Komentar