Features

Menjadi Pancasilais bukan dengan Berteriak tapi dengan Perbuatan

Kamis, 1 June 2017 21:43 WIB Penulis: Dero Iqbal Mahendra

Ist

APAKAH kita sudah menjadi seorang yang menjadikan Pancasila sebagai nilai dalam diri? Ataukah kita sudah bisa bertenggang rasa dengan keberagaman dan bekerja sama dalam satu tujuan? Menjadi seorang Pancasilais atau penganut Pancasila bukan hanya didengungkan dengan suara semata, melainkan dengan perbuatan.

Pengamat politik, Yudi Latif, memandang bila memang kita masih merasa dalam underzie mentality, bahwa merasa dalam ancaman artinya denyut nadi kita belum memahami nilai-nilai Pancasila pada diri kita. Menurutnya, politik itu harus berdasar dengan keberadaban sehingga sikap politik itu harus mengambil pilihan-pilihan yang lebih baik.

"Dalam melakukan aktualisasi diri tidak harus sifatnya yang verbal dengan berteriak berteriak, ada kalanya bila kata dengan kata tidak bisa bersambung maka lebih baik dengan bahasa keheningan," tutur Yudi dalam acara diskusi 'Kebangsaan' di Gedung Stovia, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (1/6).

Menurutnya para pihak yang menyakini Pancasilais setelah mengikuti berbagai diskusi atau pernyataan sikap tidak perlu berteriak ke mana-mana dengan mengibarkan bendera kebinekatunggalikaan di mana pun. Namun, secara tenang atau sunyi mengembangkan sikap-sikap kepancasilaan dengan membangun trek baru.

"Jadi jangan berhadap-hadapan tetapi kita tunjukkan saja perbuatan yang jauh lebih inklusif dan jauh dari sifat-sifat rasis dengan praktik hidup sehari-hari," terang Yudi.

Di sisi lain, menurutnya, para Pancasilais tidak perlu gusar bila memang ada semacam pertentangan. Sebab, kata Yudi, dalam sejarah sering kali dalam suatu tesis dan antitesis akan menimbulkan sintesis sehingga akan muncul mutual approachment, yang terpenting ialah iktikadnya harus baik.

Dirinya juga menyoroti penggunaan media sosial dengan cara yang kurang tepat. Menurutnya, orang Indonesia yang menggunakan medsos itu high tech, tetapi low touch. Meski orang Indonesia sangat akrab dengan teknologi informasi dan internet, perkembangan pola pikirnya tidak berbanding lurus dengan penggunaan teknologi tersebut.

Hal itu lah yang menurutnya kemudian menimbulkan berbagai fenomena seperti hate speech di medsos, saling hujat, bahkan penyebarluasan hoax.

"Ini lah yang saya maksud high tech, tapi low touch tadi. Jadi timpang ini," jelas Yudi.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat sosial Imam B Prasodjo memandang prinsip keadilan harus dijabarkan dengan metodologi. Selain itu juga harus menghilangkan conflict of interest dalam wujud rangkap jabatan.

"Conflict of interest itu merajalela di Indonesia, bagaimana jabatan-jabatan itu merangkap-rangkap. Bagaimana keadilan bisa diwujudkan kalau conflict of interest masih banyak terjadi," keluhnya.

Dia melihat dengan berbagai perkembangan situasi primodialisme yang semakin meningkat akibat perkembangan politik ini sebetulnya bisa kembali menjadi normal. Menurut dia, untuk memulihkan kondisi saat ini perlu adanya upaya bergerak bersama dalam melakukan perbaikan.

"Saya kira gap saling ketidakpahaman itu akan bisa mengecil. Dengan membuat orang itu menjadi terkucil itu yang menjadi berbahaya," ujar Imam. (OL-2)

Komentar