celoteh

[Celoteh] Lima Nilai

Selasa, 30 May 2017 10:30 WIB Penulis: Ronald Surapradja

MI/Permana

PADA Mei ini ada dua peristiwa penting dalam hidup saya. Pada 25 Mei saya dan istri merayakan ulang tahun ke-9 pernikahan kami, dan pada 26 Mei saya merayakan usia ke-40.

Saya jadi ingat peristiwa 9 tahun lalu. Alhamdulillah sekarang kami dikaruniai dua anak, lelaki dan perempuan, pas seperti yang saya inginkan.

Allah memang Mahabaik. Seiring dengan waktu berjalan, kami merasakan tantangan dalam membesarkan anak. Semakin besar anak, semakin besar rasa sayang saya sama orangtua karena kami merasakan membesarkan dan mendidik anak itu susahnya minta ampun.

Untuk itu, tempat bertanya sudah pasti yang pertama ialah orangtua, yang tinggal di Bandung. Dari hasil obrolan dengan mereka, saya bisa menarik kesimpulan ada lima nilai yang harus ditanamkan kepada anak sejak mereka kecil.

Yang pertama, kejujuran. Ini yang pertama kali harus diajarkan kata bapak saya. Apalah artinya jika anak kita pintar tapi tidak jujur.

Orang yang paling bahagia ialah orang yang hidupnya tidak perlu menyembunyikan apa pun. "Aa, masalah yang ada di negara ini bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena kekurangan orang jujur", ujar bapak sambil menyeruput teh hangat.

Dari dapur, mama ikut nimbrung. Beliau bilang, "Aa, ajari juga anak-anak kamu rasa keadilan karena biasanya setelah kita jujur biasanya akan menjadi adil."

Saya ingat mama tidak pernah memperlakukan beda kepada semua anaknya. Aturan, ganjaran, dan hukuman berlaku untuk semua. Si bungsu tidak lebih istimewa daripada si sulung, anak perempuan sama saja dengan anak laki-laki.

Obrolan terhenti ketika anak saya datang sambil marah menuju menangis karena tidak berhasil menyelesaikan merakit Legonya. Dia baru kembali tertawa setelah saya yang menyelesaikannya.

Bapak melanjutkan obrolannya, "Nah ini juga yang harus kamu ajarkan, daya juang! Bapak perhatikan anak zaman sekarang semangat dan <>fighting spiritnya rendah sekali. gampang menyerah".

Namun, kalau dipikir sih memang betul juga. Mungkin dulu generasi kita lebih kuat karena banyak keterbatasan. Mau pergi sekolah angkot susah, ya jalan kaki. Mau punya mainan, ya buat sendiri.

Namun, ya bagaimana, kita juga sebagai orangtua kadang suka merasa enggak tega kalau anak kita kesusahan, kan he he.

Tiba-tiba terdengar suara orang main gitar sambil bernyanyi di luar pagar, ternyata ada pengamen. Saya menyiapkan uang, lalu anak saya meminta uang itu untuk dia berikan kepada si pengamen.

Bapak tersenyum dan berkata, "Bagus, kamu sudah mengajari mereka untuk bisa merasakan perasaan orang lain. Semoga anak kamu punya rasa simpati dan empati yang tinggi terhadap orang lain".

Saya tersenyum. "Namun, pernah kesal waktu itu ngasih uang ke pengemis yang terlihat cacat, eh ternyata dia hanya pura-pura," curhat saya ke Bapak.

Bapak bilang, "Ya bagus kamu dapat dua pahala sekaligus, pahala sedekah dan ditipu."

Mama mengakhiri pekerjaannya di dapur. Saatnya makan malam. Setelahnya kami berkumpul, bercerita, tertawa, ledek-ledekan, cucu-cucu cekikikan kegelian dihujani peluk dan cium kakek nenek.

Saya tersenyum menyadari ini nilai terakhir yang harus diajarkan kepada anak, yaitu cinta. Saya percaya cinta ialah nilai yang tertinggi dari semuanya.(H-5)

Komentar