celoteh

Tentang Bahasa

Senin, 29 May 2017 04:00 WIB Penulis: Ronal Surapradja

MI/PERMANA

NOTIFIKASI ponsel memberikan tanda ada surel masuk.

Isinya undangan dari Duta Besar Kerajaan Inggris untuk menghadiri resepsi perayaan ulang tahun ke-91 Ratu Elizabeth II.

Untuk ke sekian kalinya saya diundang dan tentunya saya menjadwalkan diri untuk datang.

Sudah sewajarnya sesama bangsawan menghadiri ulang tahun koleganya haha.

Di pintu masuk semua tamu disambut Duta Besar Inggris Bapak Moazzam Malik.

Alhamdulillah beliau masih mengingat saya karena pernah saya ajak siaran bareng di radio.

Beliau menyapa saya terlebih dahulu dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Selesai acara saya menunggu mobil di lobi hotel dan berbincang dengan teman yang kebetulan berjumpa di sana.

Obrolan terhenti ketika anaknya datang dan berbincang dalam bahasa Inggris.

Senang rasanya saya melihat anak Indonesia yang sudah cas cis cus bahasa asing.

Saya perhatikan beberapa lama ternyata memang tidak ada penggunaan bahasa Indonesia sama sekali di keluarga itu, semua full English.

Terpikir, jangan-jangan si anak memang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Bersyukur saya mendapat pelajaran bahasa Inggris sejak usia SD baik di sekolah maupun les privat.

Jadi, lumayanlah bisa kalau diajak ngobrol English haha.

Di rumah, istri saya yang menghabiskan setengah hidupnya di luar negeri, semua bacaannya bahasa Inggris, nonton film Hollywood tanpa teks.

Yang lucu kalau dia ngedumel, pakai Inggris lebih enak katanya.

Lucu lihatnya, marahnya jadi keren hehe.

Namun, untuk berbicara sehari-hari di rumah kami tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa Inggris hanya untuk saat-saat tertentu saja.

Hal itu membuat anak kami bisa berbicara dengan dua bahasa.

Suatu hari saya sengaja pulang lebih cepat daripada biasanya karena ada bapak yang datang berkunjung dari Bandung.

Sesampainya di rumah anak saya menghampiri dan mengajak saya bernyanyi cing cang kel song.

Saya bingung dan berpikir itu lagu apa?

Ternyata oleh kakeknya mereka diajari lagu bahasa Sunda Cingcangkeling, tapi karena mereka baru mendengarnya jadi diberi judul itu hehe.

Nah ini satu hal lagi.

Dalam keseharian saya masih sering menggunakan bahasa Sunda, terlebih partner siaran selama sembilan tahun terakhir ialah Tike Priatnakusumah yang Sunda abis hehe.

Walhasil jika sering mendengarkan siaran saya atau nonton saya di TV, Anda pasti akan sangat dengan mudah mengidentifikasi asal suku saya dari logatnya yang kental.

Saya bangga akan hal itu.

Jangan malu kalau kita punya logat daerah yang medok, menurut saya itu seksi.

Karena terbiasa dengan logat sunda sejak kecil, hal tersebut terbawa sampai sekarang.

Jadinya kalau saya bicara bahasa Inggris saya berlogat SUNLISH (Sunda English) haha.

Sekali lagi, saya tidak malu.

Saya bangga.

Jadi jangan malu kalau kamu orang Medan berlogat TAKLISH (Batak English) atau orang Tegal berlogat PAKLISH (Ngapak English) hehe.

Orang Singapura aja bangga dengan logat Singlish-nya, ya, kan?

Terkadang suka sedih jika saya melihat anak lebih bisa menerangkan sebuah benda atau keadaan dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah.

Dalam berbahasa menurut saya yang ideal ialah utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.

Do you understand what I'm talking about?

If you understand, ya good atuh! (H-5)

Komentar