celoteh

Cerita Kaset

Ahad, 28 May 2017 07:52 WIB Penulis: H-5

Ronal Surapradja -- MI/Permana

“I’m easy like Ahad morning”. Itu yang terlintas di kepala saya ketika terbangun di akhir pekan. Tanpa puasa pun hidup saya santai kalau akhir pekan, apalagi sedang puasa seperti sekarang maunya ya seharian santai, he he he.

Setelah mandi saya turun ke ruangan tempat saya bersantai. Setelah mencari buku yang tepat untuk dibaca, saya selonjoran di sofa kesayangan. Lupa, musiknya belum ada. Tapi karena sudah posisi mager (malas gerak) sebagai bos di rumah, saya minta anak saya untuk memutarkan musik. “Anaking, tolong puterin CD Peter Gabriel album So, dong! CD-nya ada di lemari deretan huruf P,” kata saya.

Setelah ditunggu lama musik tidak terdengar. Anaking sedang duduk terpekur melihat sebuah benda. Lalu saya hampiri, ternyata dia takjub melihat dan memegang sebuah kaset. Singkat cerita dia tidak tahu itu benda apa. Saya tersenyum. Zaman sudah berbeda. Anak zaman sekarang tidak tahu betapa besar pengaruh kaset dalam kehidupan generasi saya.

Kaset dikembangkan pada 1960-an, lalu berkembang di 1970-an, dan menjadi sangat populer di 1980-an seiring nge-trennya pemutar kaset portabel Walkman dari Sony. Di dekade 1990-an kaset masih bertahan di tengah mulai naiknya popularitas CD, tapi akhirnya menyerah pada 2000-an karena suara dari CD dianggap lebih jernih, bisa mudah ganti track, dan juga karena sudah tidak banyak perusahaan rekaman yang memproduksinya.

Saya yakin banyak di antara kita yang punya banyak kenangan indah bersama kaset. Dengan double tape deck kita bisa membuat mixtape untuk dinikmati sendiri, diberikan kepada gebetan dengan pilihan lagu yang punya ‘kode keras’ kalau kita suka sama dia, atau menggunakan kaset sebagai sarana ‘nyatain’ karena enggak berani kalau ngomong langsung. Cerita yang terakhir ialah kisah nyata saya sendiri pada 1997, ha ha ha.

Juga politik!
Berbicara soal kaset tidak melulu bicara musik, tapi juga politik. Selain dipakai untuk penyebarluasan musik punk dan rock yang dianggap musik pemberontakan, salah satu yang paling terkenal penggunaan kaset untuk politik ialah ketika Ayatullah Khomeini menyebarluaskan khotbah dalam bentuk kaset sebelum Revolusi Iran 1979. Entah berapa banyak yang menduplikasi, yang kita tahu rezim Reza Pahlevi akhirnya dapat digulingkan.

Setiap pagi menuju siaran di radio saya selalu mendengarkan ceramah KH Zainuddin MZ dari sebuah radio AM yang saya tidak tahu namanya apa, yang saya tahu hanya gelombangnya 693 kHz.
Tren selalu berulang, saya percaya itu.

Kebangkitan kaset sudah mulai terlihat. Setiap Record Store Day pada April pasti ada rilisan spesial kaset dari para musikus. Karena diproduksi terbatas, jadinya selalu habis dalam sekejap. Biaya produksinya pun tidak mahal. Tentang ini saya lumayan tahu karena begini-begini juga saya produser rekaman lo, he he he. Saya memproduseri album band Sore berjudul Los Skut Leboys.

Nah kasetnya sudah ada, memang pemutarnya masih punya? Saya pulang ke Bandung untuk membongkar gudang karena kata orangtua saya ‘mungkin’ tape deck player masih ada. Diselimuti debu, saya melihat player itu masih ada dan tepat di sampingnya adalah kardus-kardus yang berisi kaset yang saya beli sejak saya SD sampai kuliah. Saya histeris. Play the memories, pause the moments, and record new experience with your child. (H-5)

Komentar

Berita Terkait