PIGURA

Pandawa Bangkit

Ahad, 28 May 2017 04:01 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok Mi

PANDAWA tidak pernah menyangka saudara sepupu mereka, Kurawa, yang sama-sama lahir di Istana Astina, begitu bengis kepada keluarganya. Sejak ayah mereka, Prabu Pandu Dewanata, surut kasedan jati (wafat), Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa terus-menerus menjadi target pemusnahan. Akan tetapi, Pandawa tidak sedikit pun terdampak dari setiap tindakan keji. Kalis dari rasa miris, ratap atau tangis. Mereka tegar menghadapi aksi-aksi ‘jahiliah’ yang menjajah. Pandawa menganggap semuanya itu sekadar roncean ujian hidup yang mesti dilakoni.

Tidak aneh bila Puntadewa dan adik-adiknya selalu bangkit dari setiap peristiwa yang menerpa. Inilah yang membuat Pandawa survive, menjadi para kesatria pinunjul (terdepan), yang teteg (kukuh), tatag (berani), tangguh (kuat), tanggon (andal), dan tanggap (peka) sehingga tutug (berhasil).

Bale Sigala-gala
Dikisahkan, watak tidak pendendam dan positive thinking yang menjadi napas hidup Pandawa kerap dimaknai sebagai titik lemah mereka. Kepribadian mulia inilah yang justru dimanfaatkan Kurawa untuk terus-menerus menekan dan mengangkarai Pandawa. Di antara rentetan upaya ‘genosida’ yang dilakukan Kurawa terhadap adik-adik sepupu mereka itu, yang paling menggiriskan ialah dalam lakon Bale Sigala-gala. Ini prosesi pembakaran hidup-hidup terhadap Pandawa dan ibu mereka, Kunti Talibrata, di pagi buta.

Pada suatu ketika, Drestarastra, sebagai karteker penguasa Astina, sudah sampai pada waktunya untuk mengembalikan takhta negara kepada keponakannya, Pandawa. Ini merupakan amanah atas wasiat adiknya, Pandu Dewanata. Sebelum wafat, Pandu menitipkan singgasana Astina kepada Drestarastra hingga putra-putranya (Pandawa) dewasa. Drestarastra tidak sadar bila di sekitarnya ada kerabat yang culika, yaitu Sengkuni. Adik iparnya ini sering menipunya untuk kepentingan tidak terbuka. Kebiasaan nista itu dilatarbelakangi keinginan sang kakak, Gendari (istri Drestarastra), agar salah satu dari seratus anaknya (Kurawa) harus ada yang menjadi penguasa Astina.

Sengkuni usul kepada Drestarastra, demi kewibawaan Astina, sebelum kekuasaan diserahkan kepada Pandawa, sebaiknya diselenggarakan pesta mangayubagya. Ini perjamuan menyambut kembalinya trah Pandu sekaligus untuk merekatkan kembali tali silaturahim Kurawa dengan Pandawa yang sebelumnya berseteru. Terbius rayuan, Drestarastra menyambut baik ide Sengkuni yang ia nilai beradab tersebut. Oleh karenanya, ia perintahkan nayaka praja di bawah kendali Sengkuni untuk mengadakan pesta besar-besaran dengan anggaran tidak terbatas dan tidak perlu dipertanggungjawabkan.

Di luar nalar Drestarastra, ternyata pesta itu merupakan upaya licik Sengkuni menghabisi Pandawa. Bale (bangunan) yang digunakan untuk perjamuan dan tempat menginap Kunti dan Pandawa itu dibakar Purocona, preman suruhan Sengkuni alias Suman. Ini bagian skenario rahasia Sengkuni demi memuluskan jalan keponakannya, Duryudana, menjadi raja. Namun, Sanghyang Widi masih melindungi Kunti dan kelima anaknya sehingga lolos dari maut.

Mereka diselamatkan garangan putih, jelmaan Bathara Nagatatmala, dengan melewati gorong-gorong hingga sampai ke Kahyangan Saptapratala.
Membangun Amarta Kabar bale terbakar sampai ke telinga Drestarastra. Ia mendapat laporan langsung dari Sengkuni bahwa adik ipar dan semua keponakannya mati hangus. Seketika itu, Drestarastra mengaku sedih kehilangan orang-orang yang disayangi. Pun ia bingung karena sirnanya trah Pandu sebagai penyambung estafet kepemimpinan Astina. Sengkuni matur, karena anak keturunan Pandu tidak ada lagi, kekuasaan Astina berada penuh di tangan Drestarastra. Ia usul agar Kurupati, sulung Kurawa, diangkat sebagai raja yang baru.

Setelah menimbang, Drestarastra yang merasa sudah sepuh dan pancaindranya terbatas, kemudian menobatkan putra sulungnya, Kurupati, menjadi penguasa tunggal Astina bergelar Prabu Duryudana. Beberapa hari kemudian, betapa runyam hatinya Drestarastra setelah mengetahui bahwa Kunti dan Pandawa ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat walafiat. Kapastian itu ia terima dari Begawan Bhisma. Kabar ini menganulir laporan palsu Sengkuni.

Drestarastra kemudian memerintah nayaka praja untuk mencari dan menghadirkan Kunti dan anak-anaknya ke Istana Astina. Setelah menghadap lengkap, Drestarastra menyatakan kegembiraannya atas lolosnya Kunti dan Pandawa dari peristiwa maut. Selain itu, ia menyatakan permintaan maaf atas kebijakan yang telah ia ambil, yakni menobatkan Duryudana sebagai raja Astina. Padahal, ahli waris kekuasaan Astina itu Pandawa.

Demi menjaga kewibawaannya, sabda pandita ratu tan kena wola-wali (sabda raja tidak boleh berubah-ubah), Drestarastra pantang mencopot Duryudana dari takhta. Sebagai gantinya, Pandawa diberi tanah Mertani, bagian wilayah Astina, untuk didirikan istana. Lahan Mertani ini berupa hutan gung liwang-liwung (angker). Di belantara tersebut ada kerajaan siluman yang dipimpin lima keluarga jin. Mereka mengharamkan setiap makhluk lain memasuki kekuasaannya. Saking gawatnya, hutan itu mendapat sebutan jalma mara jalma mati, sato mara sato mati, siapa pun yang menjamah Mertani bakal sirna marga layu (lenyap). Singkat cerita, Pandawa kuasa membersihkan Mertani dan membebaskannya dari kungkungan jin beserta balanya. Puntadewa dan adik-adiknya secara mandiri pula mampu membangun istana dan negara yang kemudian kondang dengan nama Amarta alias Indraprastha.

Tijitibeh
Hikmah kisah singkat ini ialah bahwa Pandawa tidak pernah menyerah dan selalu bangkit dari setiap mala yang menghela. Semua lelakon dilaluinya dengan laku prihatin sehingga muaranya justru berkah. Dalam perjuangan hidup, Pandawa senantiasa menjaga kekompakan dan kesolidan. Semangat yang mereka junjung ialah sesanti tijitibeh, yakni mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, berjaya satu berjaya semua).

Makna ungkapan tersebut ialah bahwa persatuan dan kesatuan merupakan modal utama untuk mencapai tujuan. Dalam kearifan lokal kita, inilah wujud agung dari konsep gotong royong yang merupakan roh budaya bangsa. Nilai-nilai keguyuban demikian inilah yang rasanya pantas direnungkan kembali saat kita masih dalam suasana memeringati Hari Kebangkitan Nasional. (M-4)

Komentar