Features

Toleransi di Warung Dempet Gang Kauman Malang

Selasa, 23 May 2017 19:17 WIB Penulis: Bagus Suryo

MI/Bagus Suryo

KEDAI makanan berjajar rapi di sebuah gang Jalan Merdeka Barat 1 RT 04 RW 03 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Kampung itu tepat di barat Alun-Alun Malang.

Keberadaan kedai itu sudah ada sejak zaman kolonial, dan posisinya sampai sekarang belum berubah. Menariknya, pedagang makanan yang juga warga Kauman begitu akrab dengan lingkungan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, Malang, Jawa Timur. Padahal, nama Kauman erat hubungan dengan kaum beriman, yang menandai permukiman bagi warga muslim seiring dengan berdirinya Masjid Jamik Malang.

Permukiman penduduk di belakang masjid dan gereja itu saling berdekatan, hidup rukun dan damai. Kehidupan sehari-hari tanpa konflik serius hingga memecah hubungan antarwarga kendati beda agama.

"Kehidupan warga adem-ayem saja. Saling mengembangkan pemikiran terbuka dan kesadaran," tegas Slamet kepada Media Indonesia, Selasa (23/5).

Hari beranjak sore. Slamet, 60, dan Syamsul, 55, sedang cangkrukan. Mereka nongkrong di warung lantaran sesama pedagang makanan di gang sempit itu. Adapun yang mereka bicarakan ialah kondisi bangsa yang kian karut-marut digempur isu suku, ras, agama dan antargolongan (SARA). Kedua pria itu merasa prihatin, sebab masyarakat terus dicekoki oleh suasana nyaris mencemaskan kendati mereka sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi.

Dalam diskusi itu keduanya merasa prihatin dengan kondisi maraknya isu yang dinilainya sudah meresahkan. Kondisi di luar kampung mereka sungguh bertolak belakang dengan suasana di Kauman.

"Kehidupan keagamaan warga baik-baik saja, yang Islam dan Kristen hidup berdampingan dan rukun. Mereka menjalankan ibadah masing-masing, berjalan seperti air mengalir, tidak ada konflik," tegasnya.

Slamet sendiri sebagai warga asli Kauman merasa hidup di Malang sangat damai. Kendati warga kampung mayoritas beragama Islam, tapi masjid dan gereja berdiri berdampingan tidak pernah ada perselisihan.

"Warga hidup guyub, rukun. Kerja bakti sareng sedoyo (bersama-sama). Seluruh aktivitas warga dilakukan tidak ada yang berlebihan," ujarnya.

Ia mengamati sejak kecil hingga sekarang, tak pernah ada pertentangan antarumat beragama. Ketika ada kegiatan 17 Agustus, pengurus masjid dan gereja sama-sama gotong-royong membaur dengan warga lainnya. Kalau pun masjid ada kegiatan hari besar Islam, pengajian, salat Jumat, salat Idul Fitri dan salat Idul Adha, halaman barat Alun-Alun digunakan untuk ibadah. Memahami hal itu, pengurus GPIB Immanuel menghormatinya.

Bahkan, kerukunan itu tergambar dengan keberadaan warung makanan di gang Kauman. Warung-warung itu dempet dengan tembok pagar gereja. Sejauh ini, tidak ada masalah serius. Mereka hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Setidaknya ada delapan warung yang bangunannya berdempetan dengan tembok gereja yaitu milik Bu Farini, Slamet, Syamsul, Bu Mudrikah dan Bu Siami, mereka jualan nasi. Sedangkan Bu Minut membuka usaha jahit pakaian.

"Kedai makanan di gang Kauman ini sudah ada sejak zaman Belanda, dan kawasan sekitar digunakan untuk usaha warga setempat," kata Syamsul, pedagang bakso dan mi rebus yang mengaku sudah dua generasi berdagang di gang Kauman.

"Saat ada acara di gereja, pengurus gereja pesan makanan kepada kami," ujarnya.

Syamsul mengungkapkan ada sekitar 40 kepala keluarga bermukim di gang Kauman, mereka hidup rukun.

"Meskipun warung menempel tembok gereja, selama ini tidak ada perdebatan halal dan haram, apalagi konflik," tuturnya.

Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Malang Pendeta Richard Agung Sutjahjono mengatakan keberadaan warung makanan di gang Kauman yang bangunannya menempel tembok gereja itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Memang, awalnya jalan umum, tapi berkembang menjadi tempat usaha yang melayani pengunjung di Alun-Alun, takmir masjid, karyawan gereja, dan karyawan perkantoran sekitar.

"Mereka diizinkan secara otomatis tapi tidak ada perjanjian. Diizinkan karena kemudian bisa digunakan usaha sekaligus pemberdayaan ekonomi," kata Pendeta Richard Agung Sutjahjono.

Bahkan, ia sempat menggunakan jasa penjahit di kawasan itu, dan harganya lebih murah. Dengan begitu, keberadaan warung makanan yang seluruhnya beragama Islam dan bangunannya dempet gereja itu hidup saling menguntungkan.

Keberadaan warung tepat di tengah masjid dan gereja itu uniknya tidak mengundang reaksi keras para pemuka agama. Bahkan, para pedagang mengizinkan pihak pengurus gereja yang akan menambah bangunan.

"Kami akan menambah gedung, minta izin ke para pedagang, dan mereka mengizinkan melalui RT," ujarnya.

Sementara itu Wali Kota Malang Mochamad Anton menyatakan umat beragama di Malang hidup harmonis, rukun dan saling menghormati. Kendati Kota Malang memiliki 63 perguruan tinggi sehingga ada setidaknya 300 ribu masyarakat urban utamanya mahasiswa dan pencari kerja, tapi kondisi hingga sekarang sangat aman dan kondusif.

Banyaknya masyarakat urban, lanjut Wali Kota yang akrab disapa Abah Anton, maka Kota Malang menjadi miniatur nusantara karena keragaman suku, ras dan agama.

"Tentu hal itu akan berpotensi memunculkan konflik karena keragaman perbedaan, khususnya adat dan istiadat yang dimiliki oleh para pendatang dengan penduduk lokal," tegasnya.

Namun sejauh ini, konflik SARA itu tak pernah ada. Hal itu lantaran warga Kota Malang memiliki pemahaman sangat tinggi terhadap kebangsaan, toleransi, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Yang bisa menguatkan Kota Malang adalah masyarakatnya sendiri. Segencar apa pun tantangan termasuk hal-hal yang bisa mereduksi nilai-nilai moral, tak akan mampu menggoyahkan Kota Malang, selama warganya tiada henti berkreasi dalam pembangunan," tukasnya. (OL-2)

Komentar