Travelista

Cerita Gua di Tepi Kawasan Industri

Ahad, 21 May 2017 09:17 WIB Penulis: CS/M-1

Pengukuran di Gua Muara -- MI/Cikwan

ESOK harinya, setelah mendapatkan informasi dari warga, kami pun mulai menjelajah Karst Kuta Tandingan. Tim dibagi dua, yakni tim Caving dan tim Pendataan Permukaan Karst Kuta Tandingan.

Sasaran pertama, penelusuran gua-gua di Karst Kuta Tandingan untuk mendata kedalaman, luas, biota, kedalaman sungai bawah tanah, debit serta keunikan lainnya di dalam gua.

Tim Ekspedisi bergegas menyiapkan sejumlah perlengkapan kebutuhan seperti boots, helm, headlamp, senter diving, meteran tanah, kompas, peta, caramantel, dan golok.

“Informasi awal didapat dari Kang Emon dari organisasi Gurita yang pernah ekspedisi pada 2.000-an,” kata Nuraidah salah satu divisi Caving.

Dalam dua hari, kedua tim harus mampu menyelesaikan sejumlah pendataan gua, mata air, dan luas permukaan karst. “Doa dan kekompakan adalah kunci utama,” kata Siti Maesaroh, Manajer Ekspedisi.

Sumber air
Gua pertama yang kami kunjungi Gua Parigi. Dari kejauhan, desitan suara kelelawar terdengar dari gua setinggi 2 hingga 4 meter dan lebar sekitar 1 hingga 6 meter.

“Setelah kami hitung panjang lorongnya mencapai 240 meter. Populasi kelelawarnya sangat banyak. Di sini ada beberapa kubangan air, selain itu kami juga menemukan sejumlah ikan yang terperangkap,” ucap Siti.

Selanjutnya, tim melanjutkan ke Gua Berlian, mulutnya vertikal, memaksa tim turun menggunakan tali. Lorong-lorong gua sempit dengan stalaktit, batu tetes yang menggantung pada gua dan stalagmit, batuan gua dari bawah.

“Di sini kami masih menemukan ornamen gua yang masih sangat aktif. Selain itu, kami menemukan sungai air bawah tanah yang lumayan deras, debitnya 160 liter/detik,” ucapnya.

Gua Muara menjadi target selanjutnya, disusul Gua Jasman dan Gua Tenggelam yang memiliki air sungai bawah tanah melimpah. Ketinggiannya bisa mencapai 1,5 meter.

Pada hari ketiga, tim berhasil mengumpulkan data dan memetakan 6 gua dan mengidentifikasi 4 gua baru yang diberi nama Gua Panca, Gua Somawijoyo, Gua Dzuhur, dan Gua Tebing.

“Tim memperkirakan, luasan yang telah dijelajahi adalah 500 Ha dalam waktu 3 hari,” papar Siti yang bersama timnya mengolah hasil ekspedisinya dalam laporan penelitian ilmiah.

Serupa benteng
Karst Kuta Tandingan juga memiliki dinding tebing yang memutarinya. Warga menyebutnya Benteng Kuta Tandingan. Sebutan itu berkorelasi karena deretan dinding tebing tersebut seolah melindungi wilayahnya dari dunia luar.

Dinding tebing ini sepintas memang terlihat seperti tembok besar yang memanjang dan memagari suatu wilayah. Semoga derap pertumbuhan Karawang tak membuat dinding itu hancur!

Dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), kawasan ini masih berstatus sebagai hutan produksi. Namun, karena jaraknya tidak jauh dari kawasan industri, ancaman peralihan fungsi perlu diwaspadai.

Untuk itu, hasil kajian pendataan Ekspedisi Panca 2017 bakal diajukan kepada pemerintah agar bisa dijadikan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) sehingga konsep pembangunan berkelanjutan terjaga.

Arif Munawir, anggota tim ekspedisi, menegaskan pihaknya tidak menolak pembangunan, tapi harus memperhitungkan daya dukung lingkungan sehingga tidak menyebabkan bencana di kemudian hari.(CS/M-1)

Komentar