BIDASAN BAHASA

Kutemui Ribuan Kontaminasi

Ahad, 21 May 2017 07:05 WIB Penulis: HENRY BACHTIAR Staf Bahasa Harian Media Indonesia

KONTAMINASI ialah gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan keran­cuan (kekacauan). Kerancuan itu muncul karena susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Menurut JS Badudu, kerancuan dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam: kontaminasi bentuk kata, bentuk frasa, dan bentuk kalimat.

Dalam artikel ini penulis fokus mengupas kontaminasi bentuk kata atau kontaminasi imbuhan. Hal itu disebabkan kerancuan muncul dalam pembentukan kata baru atau dalam proses pemberian imbuhan (afiks). Selama hampir enam tahun bergelut dalam dunia pengeditan, penulis kerap kali menemukan bentukan kata yang rancu. Bentukan kata-kata itu seolah benar karena cukup intens muncul pada naskah atau artikel yang penulis edit. Berikut sejumlah bentukan kata yang akan penulis kupas.

Pertama, menyampingkan atau mengenyampingkan?
Akar kata dari bentukan kata tersebut ialah kata dasar samping. Ia kemudian mendapat afiks meN- + -kan. Fonem /s/ pada kata dasar samping luluh menjadi bunyi sengau /ny/. Dengan demikian, bentukan kata yang tepat ialah menyampingkan. Pembentuk­an kata pada menyampingkan sama halnya dengan pembentukan kata pada menyuarakan (meN- + suara + -kan), misalnya.

Kedua, mengegolkan atau menggolkan?
Sesuai dengan kaidah, meN- yang diimbuhkan pada kata bersuku satu (misalnya gol) akan mengalami perubahan bentuk menjadi menge-, bukan meng-. Dengan demikian, bentukan kata yang tepat ialah mengegolkan (menge- + gol + -kan).

Ketiga, mengebom atau membom?
Sama halnya dengan kasus kedua, kata bom juga bersuku satu. Karena itu, afiks meN- luluh menjadi menge-, bukan mem-. Bentukan kata yang tepat tentunya ialah mengebom (menge- + bom).

Keempat, mengecat atau mencat?
Dengan kupasan pada kasus kedua dan ketiga, kita bisa langsung menyimpulkan bentukan kata yang tepat ialah mengecat (menge- + cat). Kata cat juga bersuku satu seperti gol dan bom sehingga afiks meN- luluh menjadi menge-, bukan men-.

Kelima, mengotak-ngotakkan atau mengotak-kotakkan?
Umumnya banyak yang tahu bahwa fonem /k/, /p/, /s/, /t/ pada kata dasar yang mendapat afiks me- mengalami peluluhan. Misalnya fonem /k/ pada kata dasar korek sehingga menjadi bentuk kata baru mengorek. Fonem /p/ pada kata dasar poles sehingga menjadi memoles. Fonem /s/ pada kata dasar sebut sehingga menjadi menyebut. Fonem /t/ pada kata dasar tulis sehingga menjadi menulis. Lantas bagaimana bila bentuk dasar itu berupa kata ulang penuh, seperti kotak-kotak? Karena mengandung fonem /k/ dan berupa kata ulang penuh, kata kotak-kotak tentu mengalami peluluhan penuh pula. Dengan demikian, bentukan kata yang tepat ialah mengotak-ngotakkan, bukan mengotak-kotakkan. Hal serupa dapat kita jumpai pula pada kata dasar sebut, misalnya. Pastinya bentukan kata yang tepat ialah menyebut-nyebut, bukan menyebut-sebut.

Keenam, memperbarui atau memperbaharui?
Kata dasar dari bentukan kata itu ialah baru (adjektiva), bukan baharu. Kata dasar baru mendapat simulfiks memper- + -i sehingga menjadi bentukan kata memperbarui.
Masih banyak kerancuan lain dalam berbahasa Indonesia yang secara tidak sengaja kita temukan. Karena itu, pendalaman soal afiksasi cukup penting demi menghindari kontaminasi.

Komentar