PIGURA

Pertapaan Sapta Arga

Ahad, 21 May 2017 05:33 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok Mi

WAKIL Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta masyarakat meningkatkan fungsi masjid sebagai tameng gerakan intoleransi. Masjid juga mesti untuk dakwah damai. JK menyampaikan pesannya itu ketika meresmikan renovasi dan perluasan area Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Sabtu (13/5). Barangkali pernyataan JK, yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), tersebut untuk menyikapi fenomena masjid yang belakangan ini kerap digunakan sebagai tempat menebar fitnah, kebencian, dan permusuhan. Ini karena masjid dimanfaatkan untuk aktivitas politik praktis. Tentu, itu semua bukan saja mengudeta fungsi sejati masjid yang suci, tetapi juga menodai dan mengotori tempat mulia tersebut.

Terkait dengan ini, dalam konteks hiruk-pikuknya politik dan pragmatisme di suatu negara tetapi tempat ibadahnya tetap suci terkisahkan dalam cerita wayang. Contohnya pertapaan Sapta Arga. Selamanya tempat ini kalis dari politik berkat integritas ‘ulama’ Begawan Abiyasa, ‘imam besar’ pertapaan tersebut.

Menjadi raja Astina
Dari berbagai referensi, pertapaan Sapta Arga didirikan Resi Manumanasa yang dikenal pula sebagai leluhur para Pandawa dan Kurawa. Sapta berarti tujuh, arga artinya gunung. Pertapaan itu memang berada di gunung dengan tujuh puncak. Pertapaan Sapta Arga mencapai keagungannya ketika diimami Abiyasa pasca-lengser keprabon (turun takhta). Ia mewarisi wilayah yang indah dan subur tersebut dari bapaknya, Resi Palasara. Di situlah sejak kecil Abiyasa digulawentah ayahnya. Ia berpisah dengan ibu kandungnya, Dewi Durgandini, dalam drama yang memilukan.

Mengikuti darah bapaknya, Abiyasa gemar bersemadi. Namun, ia juga belajar ilmu tata negara dan pemerintahan. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, ia berkebun dan bercocok tanam. Kehidupannya yang sederhana dan religius itu merupakan fondasi karakternya. Semula, Abiyasa berketetapan menjadi ‘orang udik’, warga yang bukan siapa-siapa. Tidak pernah terlintas dalam benaknya menjadi ‘orang kota’. Hidupnya melulu akan ia abdikan untuk manembah (beribadah), mendekatkan diri ke Sanghyang Widhi. Aktivitas yang bergelut dengan dunia spiritual inilah impiannya.

Akan tetapi, kodrat membelokkan kehendaknya. Inilah yang dalam ungkapan peribahasa Kridhaning ati tan bisa mbedhah kuthaning pasti, budidayaning manungsa tan kuwawa ngungkuli garising kang Kuwasa (Gejolak hati tidak bisa mengubah kepastian, budi daya manusia tidak mampu melebihi takdir Yang Mahakuasa). Ibunda Dewi Durgandini ‘menyeret’ Abiyasa keluar dari jalur hidupnya. Dengan restu sesepuh dan dukungan sentana dalem, para nayaka praja, serta rakyat, Durgandini menobatkan Abiyasa sebagai raja Astina. Jalan pintas ini diambil karena terjadi kekosongan penguasa sepeninggal Raja Astina Prabu Senatu, suami terakhir Durgandini. Kekosongan itu terjadi karena dua anak keturunan Sentanu-Durgandini, Citraganda dan Wicitrawirya, meninggal ketika berusia muda dan belum memiliki keturunan. Menurut paugeran, bila tidak ada trah raja, hanya titah yang berjiwa suci yang pantas menduduki singgasana. Abiyasa dinilai memenuhi persyaratan tersebut.

Sebar ajaran luhur
Kesediaan Abiyasa menjadi raja di Astina sesungguhnya karena hormatnya kepada bunda. Bahkan, ketika ia menikahi janda saudara tirinya, Ambika dan Ambalika, pun itu karena desakan sang ibu. Begitu pula ketika mesti mempersunting dayang istana, Datri. Dari ketiga istrinya itu Abiyasa memiliki tiga putra, yakni Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Ketika anak-anaknya menginjak dewasa, Abiyasa yang bergelar Prabu Kresnadwipaya dan memiliki nama lain, Sutiknaprawa dan Rancakaprawa, meletakkan jabatan.
Abiyasa lalu pulang kampung ke Sapta Arga. Di sana ia melanjutkan cita-cita waktu muda, menggulawentah jiwa dengan senantiasa mendekatkan diri kepada yang Mahakuasa. Di pertapaannya itu pula, ia berpraktik sebagai begawan yang menebarkan ajaran-ajaran luhur.

Untuk itu, sang resi benar-benar menjaga kesucian Sapta Arga. Tempat ini bersih dari segala bentuk aktivitas politik praktis. Bagi Abiyasa, dunia politik masa lalunya. Ia tidak ingin bersentuhan lagi dengan segala bentuk penggembalaan nafsu duniawi. Keturunannya yang sering sowan ialah para cucunya, Pandawa, terutama Arjuna dan cicitnya seperti Abimanyu. Biasanya, urusan cucu dan buyutnya itu untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) spiritual dan bekal menyempurnakan jiwa kesatrianya. Atau, meminta tuntunan dan ajaran yang berkaitan dengan kualitas kepribadian.

Bagaimana dengan Kurawa, keturunannya yang lain? Selamanya tidak ada satu pun dari seratus anggota keluarga mereka yang pernah sowan ke kakeknya. Putra-putri Drestarastra-Gendari ini seperti ‘mengharamkan’ diri menginjak Sapta Arga. Mereka muak dengan ajaran sang kakek yang melulu tentang wejangan-wejangan luhur.
Abiyasa mengerti Astina yang ia tinggalkan menjadi warisan panas. Para cucunya, Kurawa-Pandawa, bertikai untuk menguasainya. Ia tahu Pandawa menjadi sasaran kezaliman Kurawa. Meski demikian, Abiyasa tidak ingin turun gunung mencampurinya. Itu karena masuk wilayah politik praktis. Oleh karena itu, Sapta Arga tetap terjaga kesuciannya.
Keteguhan Abiyasa merawat Sapta Arga dari pengaruh politik itulah yang membuat dunia kagum. Bukan hanya Pandawa dan anak-anaknya yang sowan, melainkan juga paranpara banyak negara yang berbondong-bondong nyantrik atau mondok di Sapta Arga.

Jaga muruah
Hikmah dari kisah itu ialah Abiyasa dengan tulus dan ikhlas merawat Sapta Arga sebagai tempat suci. Pertapaan yang kalis dari segala bentuk aktivitas politik praktis. Pun kegiatan lain yang tidak ada kaitannya dengan urusan ibadah. Tidak ada kasta di sana. Semua kedudukannya sama karena sama-sama titah yang tujuannya untuk tawadu beribadah. Sapta Arga hanya menjadi tempat bagi orang-orang yang mencari kemuliaan hidup.

Dalam konteks kebangsaan, seperti imbauan JK, siapa pun mesti bisa merawat dan menyuburkan masjid sebagai tempat ibadah. Jangan jadikan masjid sebagai sarana kegiatan yang tidak sejalan dengan muruahnya. Apalagi, untuk sekadar politik, kreasi asli manusia yang ‘roh’-nya hanyalah berurusan dengan perebutan kekuasaan.
Masjid mesti jadi tempat dakwah yang membawa berkah, yang menghadirkan kedamaian dan ketenteraman. Bukan ‘markas’ untuk menyebar virus nista yang memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. (M-4)

Komentar