Pesona

Berpadunya Kekacauan dan Harmoni

Ahad, 21 May 2017 04:30 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/PANCA SYURKANI

RITME kehidupan yang semakin cepat mengusik ide perancang Biyan Wanaatmadja untuk mentransformasikannya dalam sebuah karya busana. Biyan merasakan hiruk pikuk yang tumpang-tindih dan semakin tingginya dinamika kehidupan. Rasa itulah yang kemudian dituangkan pada 120 busana di label lini pertamanya, Biyan.

Dalam presentasi yang bertajuk Elsewhere di Jakarta, Senin (15/5), nuansa kontradiksi dan harmoni kehidupan tetap terwujud dalam busana-busana cantik berpotongan longgar, beraksen simpul, dan berhias motif bunga. Karena itu, sekilas tidak terlalu berbeda dengan gaya desain yang selama ini ditampilkan desainer senior tersebut. Namun, lain halnya soal palet warna. Pada koleksi kali ini, Biyan tampak lebih banyak bermain warna cerah, seperti merah koral, biru azure, kuning segar, hijau, dan oranye.

Kemudian, jika diperhatikan lebih saksama, nuansa segar dan fun muncul berkat permainan motif, seperti motif kotak, polkadot, dan garis yang dibuat agak tidak beraturan. Pada beberapa bagian, di atas motif-motif itu diberi aplikasi bordir. Tampaknya inilah 'bahasa' Biyan soal perpaduan harmoni dan chaos. Bagaimanapun, hasilnya tetap cantik.

"Chaos and harmony. Itu yang menjadi panduan dalam proses kreatif koleksi kali ini. Ada permainan aplikasi bordir kaya tekstur pada material crisp prinstripes fabric yang ringan, juga materi superfeminin berpadu dengan bahan yang penuh tekstur," ungkapnya.

Feminin dan maskulin
Beberapa artikel fesyen yang ditampilkan Biyan ialah atasan berwarna putih dengan lengan bervolume yang tampak bagai lilitan antara bagian sisi yang satu dan lainnya. Padanan bawahnya ialah celana berpotongan lurus dan menggantung yang kental nuansa maskulin tapi diberikan aplikasi bunga pada bagian depan.

Rangkaian busana yang memadukan sentuhan maskulin dan feminin juga terlihat pada padanan berwarna kulit, atasan yang tampak seperti potongan cape dengan simpul di bagian tengah, berpadu cantik dengan gaun pendek berbahan menerawang yang diberikan aplikasi detail bunga-bunga timbul.

"Setiap membuat koleksi harus berpikir untuk menawarkan sesuatu yang baru. Baik dalam penggunaan bahan, pewarnaan, maupun struktur. Kita harus terus bergerak, bisa mewakili jaman. Rangkaian komposisi, semisal dua baju dijadikan satu pun harus tetap mengacu pada aspek keterpakaian dan memiliki fungsi meskipun digunakan terpisah," jelas Biyan.

Pada koleksinya kali ini, Biyan menggandeng Rumah Asuh sebagai penerima donasi dari hasil penjualan yang didapatkannya. Rumah asuh bukanlah rumah bagi yatim piatu, tetapi program pemberdayaan bagi desa-desa adat di pedalaman. Biyan merasakan di dunia yang penuh dengan kesemrawutan, ada kecenderungan untuk memikirkan diri sendiri. Karena itu, ia tidak ingin berlaku demikian dengan cara memberikan donasi baik berupa materi maupun perhatian kepada masyarakat lain.(M-3)

Komentar