Humaniora

Tiga Kementerian Evaluasi Program USAID Prioritas

Jum'at, 19 May 2017 16:42 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

Ist

SETELAH berjalan selama lima tahun, dari 2012 hingga 2017, program USAID Prioritas yang didanai USAID senilai US$88.2 juta untuk meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas di sejumlah daerah di Indonesia resmi berakhir.

Program ini diluncurkan pada 3 Oktober 2012 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Duta Besar AS. Pada Mei 2017, semua kegiatan program USAID Prioritas di 9 provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Barat, 93 kabupaten/kota, serta 48 lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), dinyatakan berakhir. Program ini telah melatih 232.600 tenaga pendidik dan kependidikan, dan bermanfaat bagi lebih dari 34.700 sekolah dan 8,9 juta siswa di Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada USAID yang telah membantu meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas di Indonesia. Praktik-praktik yang baik dalam pembelajaran, manajemen, dan budaya baca di sekolah-sekolah mitra harus terus dilanjutkan dan menjadi contoh bagi sekolah lainnya,” kata Dirjen Pendidikan Dasar dan Menegah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hamid Muhammad, pada acara diskusi akhir hasil evaluasi program USAID Prioritas di Jakarta, Jumat (19/5).

Menurut Hamid, perubahan utama yang terjadi ialah pada kreativitas siswa. Anak-anak dari sekolah dan madrasah mitra USAID Prioritas berani tampil mempresentasikan apa yang dipelajarinya di kelas. Dia juga terkesan dengan program penataan guru yang dikerjakan bersama dengan kabupaten/kota.

“Banyak pemerintah daerah mitra USAID Prioritas juga telah menganggarkan APBD yang dimasukkan dalam Renstra (Rencana Strategis) dan Renja (Rencana Kerja) untuk melanjutkan pelatihan yang sudah dirintis program ini,” tambahnya.

Sementara Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyebut program USAID Prioritas telah membawa perubahan yang fundamental dalam pembelajaran aktif, manajemen, dan budaya baca di madrasah, termasuk dalam merintis reformasi LPTK.

“Komitmen kami adalah bagaimana program yang sudah baik ini, yang menjadi best practice di beberapa madrasah untuk kita kembangkan ke madrasah-madrasah dan LPTK lainnya. Reformasi LPTK juga sudah kita mulai khususnya di Fakultas Tarbiyah,” ujarnya.

Perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Hendra Suryanto, mengatakan, program ini telah menyiapkan sekolah laboratorium yang dipakai oleh LPTK untuk praktik guru prajabatan dengan lebih baik.

“Program di LPTK mitra dapat menjadi contoh yang baik untuk diterapkan LPTK lainnya,” katanya.

Selama ini, USAID Prioritas bekerja sama dengan LPTK untuk melatih para dosen dalam meningkatkan kualitas perkuliahan, workshop pendidikan profesi guru (PPG), program praktik lapangan (PPL), dan memfasilitasi kolaborasi dosen dan guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas.

Pada acara diskusi tersebut, tiga kementerian itu mendorong modul-modul pelatihan, video-video pembelajaran dan pelatihan USAID Prioritas dapat terus dimanfaatkan oleh para guru, kepala sekolah, dan dosen dalam meningkatkan kualitas kemampuan mereka dalam mengajar.

Modul dan video tersebut selama ini digunakan para fasilitator untuk melatih guru, kepala sekolah, pengawas, komite sekolah, dan dosen. Isinya terkait dengan pembelajaran aktif dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, IPA, IPS, matematika, literasi kelas awal, dan bahasa Inggris, manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca, yang dapat diunduh melalui tautan prioritaspendidikan.org.

Tautan ini juga memuat buku-buku praktik yang baik dalam pembelajaran, manajemen sekolah, budaya baca, perkuliahan di LPTK, dan tata kelola guru, yang ditulis oleh para guru, kepala sekolah, pengawas, staf pemkab/pemkot, dan dosen setelah menerapkan program yang didapatkan dari USAID Prioritas. (RO/OL-2)

Komentar