Jendela Buku

Orisinalitas Ditumbuhkan sejak Dini

Sabtu, 20 May 2017 06:35 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari retno@mediaindonesia.com

Dok MI

TIDAK ada sesuatu yang benar-benar orisinal, seluruh pemikiran dan ide kita dipengaruhi lingkungan sekitar. Begitulah sang penulis, Adam Grant, membuka paparannya dalam buku berjudul Originals. Bagi Adam, kita selalu me­minjam pemikiran-pemikiran baik secara senga­ja maupun tidak. Kemudian secara tidak sengaja mengingat ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Namun, bukan berarti kita tidak bisa menciptakan sesuatu yang berbeda asalkan kita mau menggali kreativitas sehingga menampilkan kebaruan pada hal yang lama. Warby Parker menjadi tempat bagi empat pemuda pengguna kacamata yang gusar lantaran harga alat bantu penglihatan mereka yang mahal. Bahkan salah seorang di antara mereka menggunakan penjepit kertas agar kacamata tetap bisa dipakai. Terinspirasi oleh semangat novelis Jack Kerouac, mereka mengambil nama dua tokoh ciptaan penulis tersebut dan berjanji untuk segera terbebas dari kekangan sosial.

Menjual kacamata bukanlah ide baru. Namun, empat sekawan ini berencana menggunakan media daring dalam proses penjualannya. Ide ini hampir saja runtuh dengan pemikiran tak ada yang mau membeli secara daring karena kacamata harus dicoba terlebih dahulu. Namun, nyatanya mereka berhasil mencapai target penjualan tahun pertama dalam waktu kurang sebulan. Bahkan, mereka terpaksa menempatkan 20 ribu pembeli dalam daftar tunggu. Jika pada pasaran toko harga kacamata dibanderol sebesar US$500, melalui toko daring, Warby Parker menjualnya seharga US$95.

Adam pun meganalogikan orang orisinal dengan mereka yang menggunakan browser bukan bawaan dari peranti komputer. Mereka mencari sudut pandang dan berusaha mendapatkan yang terbaik, bukan sekadar menerima apa yang sudah disediakan. Akan tetapi, sesuatu yang umum itu bukan ada dengan sendirinya, melainkan hasil pilihan sekelompok orang. Karena itu juga muncul sekelompok lainnya yang membuat pilihan alternatif, seperti Warby Parker yang kemudian melakukan riset terhadap industri kacamata, dengan pegangan pertanyaan mengapa harganya bisa begitu tinggi.

Menumbuhkan orisinalitas
Beberapa mitos juga dipaparkan Adam yang kemudian disertai dengan penelitian dan jawabannya. Seperti pada seringnya orang memilih untuk melepas pekerjaan yang sudah mapan agar bisa cepat mengembangkan usaha, menjadi tolok ukur keberhasilan. Banyak anggapan yang mengatakan orang yang terjun menjadi pengusaha purnawaktu adalah pengambil risiko dengan keyakinan yang kuat. Sementara itu, pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha dan tetap bekerja kantoran jauh lebih antirisiko dan tak percaya diri.

Adam menjawab pemikiran banyak orang tersebut melalui penelitian, hasilnya pengusaha yang tetap mempertahankan pekerjaan kantoran mereka berpeluang gagal 33% lebih kecil daripada yang berhenti kerja. Menjadi sukses bukan berarti harus mati-matian mengambil risiko, tetapi ada pemikiran visioner. Adam menyebut portofolio risiko seimbang, seseorang yang merasa aman di satu bidang maka akan memiliki kebebesan menjadi orisinal di bidang lainnya.

Buku ini juga memberikan beberapa kiat atau pemikiran lain tentang cara menumbuhkan orisinalitas sejak dalam lingkungan keluarga. Sudah menjadi hal umum, orangtua akan selalu memberikan banyak aturan kepada anak-anaknya dan meminta untuk menaatinya. Hasilnya tak selalu anak menjadi lebih mudah diatur, banyak di antara mereka yang menentang aturan saat dipaksa mengikuti dengan cara keras seperti bentakan juga ancaman hukuman.

Namun, jika seorang ibu menekankan banyak aturan dengan pemaparan yang rasional, pelanggaran yang dilakukan pun akan berkurang karena anak merasa paham dengan apa yang diminta sang ibu. Ketetapan aturan dengan penjelasan yang mengacu pada prinsip moralitas, moralitas, rasa ingin tahu, dan penghargaan akan mendorong anak secara sukarela untuk patuh dan mempertanyakan aturan yang tak sejalan. Melalui hal ini, orisinalitas dapat ditumbuhkan sejak dini karena anak dibebaskan untuk berpikiran serta menyampaikan berbagai pendapat dari sudut pandang yang berbeda.

Dobrakan mitos lain yang dipaparkan dalam buku terjemahan ini adalah perihal perilaku menunda-nunda dianggap sebagai bencana. Kenyataannya, menunda-nunda (menunggu) merupakan resep terukur untuk memprovokasi hasil lebih kreatif yang lebih banyak. Buku ini bisa dijadikan acuan ketika keinginan kita untuk bergerak berbeda dengan orang lain dan terhambat dengan paham lama yang sudah mengakar di masyarakat. Banyak kiat yang bisa diterapkan untuk menemukan hingga membina orisinalitas. (M-2)

Komentar