Internasional

Pilpres Iran Berlangsung Meriah

Jum'at, 19 May 2017 20:32 WIB Penulis: Irene Harty

AFP PHOTO / ATTA KENARE

IRAN melaksanakan pemilihan presiden pertamanya pada Jumat (19/5) di Teheran sejak kesepakatan pembatasan nuklirnya dengan dunia. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, paling berkuasa di Iran, secara simbolis menjadi suara pemilihan pertama.

Dia meminta warga Iran dalam jumlah sangat besar untuk mengikuti pemilihan tersebut."Pemilu sangat penting dan nasib negara berada di tangan semua orang," katanya.

Lebih dari 56 juta pemilih yang berhak memilih di 63.000 tempat pemungutan suara tanpa stan. Suasana terasa meriah saat ribuan orang berbaris untuk memilih. Banyak yang datang bersama keluarga dan teman untuk berdebat dan saling membantu mengarahkan pilihan.

Di Iran, pemungutan suara sering berubah menjadi aktivitas komunal karena orang mendiskusikan pilihan mereka secara terbuka dan saling membantu mengisi formulir yang harus ditulis dengan tangan.

Untuk pertama kalinya, warga Iran juga bergegas ke tempat pemungutan suara pada pagi hari, dengan alasan mereka ingin mendorong sebanyak mungkin jumlah pemilih.

"Kami datang lebih awal untuk mendorong orang lain untuk datang. Kami telah memotret diri kami dan mengunduhnya ke media sosial," kata dosen universitas, Mansoureh, 45.

Selain memilih antara Petahana Hasan Rouhani dengan ulama garis keras Ebrahim Raisi, 56, mereka juga harus memilih 21 anggota dewan lokal. Banyak yang membawa daftar anggota dewan yang diajukan oleh reformis atau konservatif di ponsel mereka.

Sekelompok perempuan, dengan jilbab ala Teheran sibuk mencari kode Rouhani di papan tulis di antara 2.700 kandidat dewan. Adapula yang berpakaian resmi mengenakan dasi kupu-kupu dan jas makan malam dan perempuan yang baru menikah muncul dalam gaun pengantinnya.

Menurut pantauan, warga Irak menimbang isu ekonomi dan manfaat dari kesepakatan nuklir untuk menentukan pilihan. Rata-rata warga Iran belum melihat manfaat dari kesepakatan nuklir selain pencabutan beberapa sanksi.

Padahal Rouhani menghadapi tantangan besar dari oposisi garis keras karena membuka jalan bagi kesepakatan nuklir pada 2015. Sebagian besar memandang pemilihan presiden itu sebagai referendum kebijakan ulama moderat berusia 68 tahun itu.

Namun jurnalis Associated Press di Teheran membentuk fondasi dukungan bagi Rouhani. Mereka menemukan pendukung yang lebih banyak di daerah sekitar tempat kemenangan Rouhani pada 2013.

Analis melihat jumlah pemilih yang tinggi akan membantu Rouhani dalam mengamankan masa jabatan keduanya. Secara historis Rouhani memiliki kesempatan memenangkan pemilihan kembali karena sejak 1981, tidak ada petahana yang gagal dalam pemilihan kembali.(OL-3)

Komentar