Internasional

Kongres Republik Mulai Pertimbangkan Pemakzulan Trump

Jum'at, 19 May 2017 19:18 WIB Penulis: Indah Hoesin

Perwakilan Partai Republik, Carlos Curbelo. (AP Photo/Cliff Owen)

POLITIK Gedung Putih semakin memanas. Wacana pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mencuat pada Jumat (19/5) setelah adanya laporan bahwa sang presiden meminta mantan Direktur FBI, James Comey membatalkan penyelidikan terhadap mantan penasihat keamanan, Michael Flynn.

Anggota kongres dari partai pengusung Trump, Justin Amash, mengatakan jika laporan tersebut dikonfirmasi maka sang presiden layak dimakzulkan. Perwakilan Partai Republik, Carlos Curbelo, juga mengatakan hal serupa dan menyebut Trump telah menghalangi sebuah proses hukum untuk mengungkap hubungan Flynn dengan Rusia.

"Hambatan hukum dalam kasus Nixon, dalam kasus Clinton di akhir tahun 90an, telah dianggap sebagai pelanggaran yang layak pemakzulan," ujar Curbelo mengacu pada kasus yang melibatkan mantan Presiden Richard Nixon dan Bill Clinton.

Kedua anggota kongres ini mengkritik Trump dan bahkan tidak memilih sang miliader dalam pemilihan 2016. Fakta bahwa Republikan saat ini mulai mempertimbangkan pemakzulan menunjukkan dampak meluas skandal Trump di AS.

Menurut New York Times, Comey, telah menulis sebuah memo yang berisikan perintah Trump, "Saya harap Anda dapat melihat jalan lebih jelas untuk membiarkan semua ini, membiarkan Flynn pergi".

Memo yang ditulis Comey tersebut menunjukkan Trump telah berusaha memengaruhi penyelidikan terhadap Flynn dan Rusia, sementara itu penyelidikan lebih luas terkait kemungkinan kolusi Rusia dengan Trump juga terus berlangsung.

Flynn mengundurkan diri pada Februari setelah tidak memberikan informasi yang sebenarnya pada Wakil Presiden AS, Mike Pence, dan pejabat Gedung Putih terkait percakapannya dengan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergey Kislyak.

Di lain pihak, Trump kembali menegaskan dirinya tidak mencoba menghentikan penyelidikan tersebut dan menyebut dirinya adalah korban 'perburuan penyihir terbesar' dalam sejarah politik AS.

"Semuanya telah menjadi perburuan penyihir," ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih. "Tidak ada kolusi antara saya dan tim kampanye saya, diri saya dan orang Rusia, nihil," imbuhnya.

Skandal yang melibatkan Trump itu mencuat, setelah ada dugaan bahwa Rusia terlibat dalam pemilihan presiden AS pada November 2016 yang akhirnya memenangkan Trump dari lawannya Hillary Clinton.(OL-3)

Komentar