Internasional

Kekaisaran Jepang, Menghadapi Krisis Pewaris Laki-laki

Jum'at, 19 May 2017 18:54 WIB Penulis: Irene Harty/AFP

AFP PHOTO / JIJI PRESS

CUCU Kaisar Akihito, Putri Mako, 25, baru-baru ini menjadi sorotan setelah dikabarkan akan bertunangan dengan rakyat biasa, kekasihnya di kampus, Kei Komuro, 25. Meski enggan membenarkan kabar yang diungkapkan NHK itu, Komuro mengaku berkomunikasi dengan Mako setelah kabar beredar.

"Saya berbicara dengannya di telepon pagi ini," ungkap mahasiswa pascasarjana yang bekerja di firma hukum itu. Pertunangan putri sulung Pangeran Akishino, putra kedua Akihito itu memang menjadi kegembiraan nasional sebelum akhirnya menjadi kekhawatiran.

Seperti semua anggota keluarga kekaisaran perempuan, Mako akan kehilangan status kerajaannya saat menikah dengan orang biasa di bawah undang-undang yang kontroversial.

Sementara itu, keluarga kerajaan sedang mempersiapkan penahbisan kekaisaran pertama dalam dua abad di tengah kekurangan ahli waris laki-laki. Undang-undang tersebut memang tidak berlaku bagi bangsawan laki-laki, Akihito dan kedua putranya menikahi orang biasa.

Namun putri bungsu Akihito, Sayako Kuroda meninggalkan istana pada 2005 setelah menikahi perencana kota, Yoshiki Kuroda dengan menerima lebih dari US$1 juta dari pemerintah. Kegelisahan itu telah menjadi berita menjelang pengumuman resmi dalam beberapa minggu mendatang.

Berita tentang pertunangan telah memicu perdebatan mengenai kemungkinan perubahan undang-undang sehingga perempuan yang lahir dalam keluarga kekaisaran dapat melanjutkan peran kerajaan mereka.

Hal itu dapat membantu meningkatkan jumlah calon ahli waris laki-laki. Kaum tradisionalis, termasuk Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dengan keras menentang perubahan tersebut walau Jepang pernah dipimpin perempuan pada masa lalu.

Harian Asahi Shimbun menyatakan untuk saat ini, ada tujuh anggota keluarga kerajaan berusia di bawah 30 tahun, enam di antaranya adalah perempuan. Satu-satunya laki-laki di bawah usia itu adalah saudara laki-laki Mako yang berusia 10 tahun, Hisahito.

Sebelum kelahiran Hisahito pada 2006, Jepang telah berdebat tentang potensi perubahan perempuan naik tahta dengan calon terdekat adalah Putri Aiko, cucu Akihito. Tapi konservatif berkeras itu akan memutus garis suksesi laki-laki yang tidak terputus selama 2.600 tahun.

Mantan Menteri Ekonomi dan Industri yang konservatif, Takeo Hiranuma dengan gambang mengecam panel yang mendukung seorang ratu. "Apakah panel mempertimbangkan bila Putri Aiko menikah dengan laki-laki mata biru setelah jatuh cinta saat belajar di luar negeri dan anak pertama mereka mungkin akan menjadi kaisar?"

Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang untuk mengizinkan Akihito, 83, untuk menyerahkan takhta ke Naruhito, putra tertuanya. Itu berarti Akishino menjadi berikutnya lalu Hisahito, putra Akishino, kemudian tidak ada lagi pewaris laki-laki jika Hisahito gagal memiliki anak laki-laki di masa depan.

Harian Sankei Shimbun menyebutkan opsi lain yakni pengembalian status kerajaan ke keluarga-keluarga yang dilucuti selama pendudukan AS di Jepang setelah Perang Dunia II. Sejarah 125 generasi suksesi laki-laki menjadi sorotannya.

"Karena jumlah bangsawan yang mendukung kaisar dan permaisuri semakin menurun, kita perlu serius memikirkan cara melindungi keluarga kekaisaran," isi editorial mereka. (OL-30)

Komentar