Polkam dan HAM

Kapolri Mesti Evaluasi Tradisi Kekerasan di Akpol

Jum'at, 19 May 2017 16:15 WIB Penulis: Astri Novaria

Politikus Partai Golkar, Ferdiansyah. M IRFAN

PADA Kamis (18/5) kemarin, seorang Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tingkat II Semarang, Jawa Tengah, bernama Brigadir Dua Taruna, Mohammad Adam, tewas diduga dianiaya seniornya.

Sehubungan dengan itu, politikus Partai Golkar, Ferdiansyah meminta Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian melakukan evaluasi tradisi di pendidikan kedinasan. Ia mengaku prihatin atas insiden tewasnya Taruna Akpol dengan nomor akademik 15.269 tersebut.

"Ini harus menjadi koreksi Kapolri agar tradisi balas dendam jangan ada lagi, seperti senior menyiksa yunior," ujar Ferdiansyah, Jumat (19/5).

Menurutnya, pendidikan kedinasan seharusnya bisa lebih diawasi. Lebih lanjut kata dia, kejadian tersebut tidak perlu terjadi bila mengikuti peraturan tata tertib yang ada.

"Sudah ada protabnya, misalnya ada kesalahan hanya beri push up. Tinggal pegawasan yang lebih ketat dan hukuman," pungkasnya.

Secara terpisah, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PAN, Muslim Ayub mengatakan Komisi III berencana meninjau Akademi Polisi di Semarang pada 24 Mei 2017 mendatang.

Muslim sepakat bahwa tradisi kekerasan dalam Akpol harus ditinggalkan. Ia pun meminta Gubernur Akpol bertanggungjawab atas insiden tersebut.

"Akan kita tegaskan, jangan ada lagi senior-senior itu lakukan pemukulan intimidasi terhadap yuniornya. Peristiwa ini bukan baru sekali. Ini harus kita tindak. Sudah direncanakan 24 Mei, kita akan ke Semarang untuk melihat apa situasi sebenarnya," pungkasnya. (X-12)

Komentar