Polkam dan HAM

Pangkostrad: Investigasi Insiden Meriam Segera Rampung

Jum'at, 19 May 2017 15:59 WIB Penulis: Cahya Mulyana

Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi. MI/ BARY FATHAHILAH

POLISI Militer Angkatan Darat (POM AD) akan segera menuntaskan investigasi insiden meriam 23mm/Giant Bow yang menewaskan 4 anggota TNI AD dari satuan Yonarhanud-1/K. TNI juga akan mengganti seluruh senjata pertahanan serangan udara itu jika memang penyebab insiden tersebut ialah kerusakan alat.

Hal itu dipaparkan Pangkostrad Letnan Jenderal Edy Rachmayadi. TNI AD, menurutnya, menyerahkan seluruh proses investigasi kecelakaan yang terjadi saat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) itu kepada tim investigasi.

"(Proses investigasi) tidak terlalu lama, dan sangat sederhana satu dua hari ini saya yakin itu selesai," terang Edy di sela-sela puncak acara PPRC, di Bukit Tinjau, Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (19/5) yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Menurut Edy, proses investigasi dipusatkan pada dua kemungkinan penyebab tidak terkontrolnya Meriam 23mm tersebut. Pertama kesalahan prajurit (human error) atau kesalahan alat. Salah satu dari dua kemungkinan penyebab tersebut akan segera diputuskan dua hari ke depan.

Ia menjelaskan, TNI AD akan patuh pada hasil investigasi yang sudah berlangsung satu hari setelah insiden terjadi. Ketika diputuskan kecelakaan akibat kesalahan alat, maka 18 Meriam 23mm/Giant Bow yang saat ini tersebar, termasuk di Bandara Soekarno Hatta, akan dipetikan.

"Kondisi alat kita memang sedang dikaji. Investigasi belum selesai, sehingga nanti kita ketahui apa penyebabnya. Termasuk (lima prajurit yang menggunakan senjatanya) juga belum bisa dihukum sebab kalau itu kesalahan senjata maka tidak bisa manusianya dihukum," paparnya.

Dia menyatakan tidak akan menuntut perusahan pembuatnya sebab Meriam 23mm/Gaint Bow yang diproduksi di Tiongkok tahun 2002 itu secara usia peralatan perang sudah tergolong usang.

"Senjata tahun 2002 sehingga panjang waktunya, ya mungkin karakteristik yang tidak sesuai dengan prajurit Indonesia dan persoalannya bukan dari mana, tapi kualitasnya," katanya.

Edy menjelaskan, Kostrad memiliki 18 Meriam 23mm/ Giant Bow dan sembilan di antaranya digunakan dalam latihan PPRC. "Tergantung kajian, kalau tidak bisa dipakai lagi ya diganti. Saya mau yang canggih tapi saya kan pemakai, dibelikan ini ya saya pakai. Kalau dikasih bambu runcing pun ya saya pakai," pungkasnya. (X-12)

Komentar