Internasional

Iran Kecam Sanksi Baru AS

Jum'at, 19 May 2017 10:09 WIB Penulis: Indah Hosein

Truk militer Iran membawa rudal saat parade peringatan Hari Angkatan Darat di Teheran, Iran---AFP/ATTA KENARE

IRAN mengkritik sanksi baru dari Amerika Serikat (AS) terkait dengan program rudal milik mereka pada Kamis (18/5) dan menyebut hal itu akan merusak kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015.

"Iran mengecam niat buruk AS untuk mengurangi hasil positif pelaksanaan komitmen Iran di JCPOA (kesepakatan nuklir) dengan menambahkan individu ke daftar sanksi ekstrateritorial yang sepihak dan ilegal," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran Bahram Ghasemi.

Iran membantah mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Ghasemi mengatakan program rudal Teheran ialah bagian dari hak mutlak dan legal untuk membangun kemampuan pertahanan negara.

Ghasemi juga mengatakan Iran akan membalas sanksi tersebut dengan menambahkan sembilan individu dan perusahaan AS dalam daftar sanksi.

Mereka dituding melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan terkait dengan dukungan untuk Israel atau kelompok teroris di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, bulan lalu, mengatakan Iran telah mematuhi sisi tawar-menawar. Namun, dia menuding negara itu merupakan sponsor utama terorisme.

Sebelumnya, pada Rabu (17/5), pemerintahan Presiden Donald Trump memilih tetap menjalankan kesepakatan nuklir dengan Iran. Namun, mereka memberlakukan sanksi baru untuk menghukum dua pejabat pertahanan Iran dan bisnis Iran di Tiongkok yang terkait dengan program rudal balistik Teheran.

AS menilai hal itu telah melanggar hukum internasional karena berpotensi menciptakan hulu ledak nuklir di masa depan. Trump selama kampanye sudah mengancam akan menghentikan kesepakatan nuklir yang ditandatangani Iran dan enam negara besar, termasuk AS, Tiongkok, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman pada Juli 2015 itu.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Presiden AS sebelumnya, Barack Obama, setuju menghapus sanksi untuk Iran dengan imbalan kontrol yang mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Sanksi jelang pemilu
Keputusan sanksi baru ini diberikan dua hari sebelum Iran menggelar pemilihan presiden pada Jumat (19/5). Pemilu itu akan mempertemukan Presiden Hassan Rouhani yang tengah berjuang untuk masa jabatan kedua dengan ulama garis keras Ebrahim Raisi.

Sanksi AS telah menjadi isu utama dalam pemilu Iran dengan kelompok garis keras Raisi yang menuding Rouhani terlalu banyak konsesi tanpa memperoleh keuntungan ekonomi.

Meskipun penjualan minyak telah pulih sejak kesepakatan mulai berlaku pada Januari 2016, Iran terus-menerus dikeluarkan dari sistem perbankan internasional yang mencegah Teheran untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dan investasi yang sangat diperlukan dari Asia dan Eropa.

Washington juga telah mempertahankan serangkaian sanksi lain yang terkait dengan HAM dan program rudal yang terus melumpuhkan upaya Iran dalam membangun kembali perdagangan luar negeri mereka.

Rouhani yang dipandang sebagai kandidat terdepan dalam sejumlah jejak pendapat telah berjanji untuk bekerja menuju penghapusan sisa sanksi dan meminta lebih banyak waktu untuk mewujudkan keuntungan kesepakatan tersebut demi menyentuh rakyat Iran.(AFP/I-2)

Komentar