Humaniora

Riset Harus Ditopang Regulasi

Jum'at, 19 May 2017 07:31 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA/M Risyal Hidayat

HASIL riset tidak bisa berhenti hanya sebatas publikasi, tetapi harus dapat menghasilkan inovasi dan diupayakan sampai pada tahap hilirisasi dan komersialisasi.

Sebabnya, penguatan riset merupakan kebangkitan dari industri dalam negeri.

Untuk itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) saat ini tengah mengupayakan penguatan riset dengan menambah dana.

"Selain anggaran, pemerintah perlu membuat kebijakan-kebijakan yang mendorong tumbuhnya riset-riset baru termasuk cara mengakomodasi hasil produk dari riset yang telah dikembangkan menjadi inovasi," kata Menristek Dikti M Nasir saat diwawancarai di Jakarta, kemarin.

Kebijakan, lanjutnya, sangat penting khususnya menggandeng Kementerian Perindustrian. Inovasi yang dihasilkan tanpa ada kebijakan sangat sulit.

"Contohnya, dalam menggerakkan kebangkitan riset, regulasi dapat dibuat dengan aturan pemakaian produk dalam negeri. Namun, diperlukan komitmen bersama dari semua pihak supaya inovasi hasil riset dapat berkembang," tambah Nasir.

Menristek Dikti mengakui ketatnya persaingan industri membuat pilihan diserahkan ke konsumen.

Karena itu, diperlukan regulasi yang berpihak pada industri hasil riset dalam negeri.

"Kalau persaingan pasarnya tidak sempurna, perlu didorong dengan kebijakan," imbuh dia.

Menristek tidak menafikan pasar akan merespons positif produk berkualitas baik dan harga yang sesuai.

Berkaitan dengan itu, sambungnya, Kemenristek berkomitmen mengawal produk-produk inovasi hasil riset dan memastikan terstandar baik pula.

"Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi penting. Harus kita kawal betul. Kalau selalu kita gunakan standar luar negeri, kapan kita bisa kembangkan produk karya anak bangsa," ujarnya lagi.

Perguruan tinggi negeri (PTN) pun terus menerus mendorong adanya penguatan riset.

Sementara itu, saat dihubungi secara terpisah, Rektor Universitas Tarumanagara (Untar) Agustinus Purna Irawan mengatakan target jangka panjang dari Untar ialah dapat menjadi salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) papan atas di Indonesia.

Untuk mewujudkan itu, Untar berupaya meningkatkan kapasitas dosen dan penguatan riset.

"Masuk peringat 20, tapi tentunya bertahap. Kami juga harus mempersiapkan SDM, jumlah doktor, profesor, riset, ini sedang kami siapkan terus perangkat itu sehingga proses pemeringkatan bisa dilaksanakan dengan baik," terangnya.

Perkuat link dengan industri

Sebagai upaya penguatan riset, lanjutnya, saat ini status yang diraih universitasnya sudah cukup baik dan telah mendapatkan peningkatan di bidang riset, dari semua berstatus madya kini menjadi utama.

Namun, Untar tidak ingin berhenti sampai di situ.

"Target kami tentu menjadi mandiri sehingga bisa menyelenggarakan riset sendiri dengan biaya dari pemerintah, seperti PTN kelas baik di Indonesia. Bukan hanya sebatas riset, melainkan juga implementasinya di industri," tutur Agustinus.

Dia meyakini universitas yang dipimpinnya siap dalam menghadapi perkembangan industri yang kini maju cepat.

PT, sambungnya, harus berupaya memperkuat link dengan industri agar riset yang dihasilkan dapat dikomersialisasi.

Sebagai salah satu upaya menjembatani hasil riset, Untar telah mempunyai direktorat riset dan PKM, dan kini tengah menyiapkan direktorat entrepreneurship, inkubator bisnis, dan kerja sama.

Menurut Agustinus, perkembangan industri dan PT kadang tidak sejalan dengan perkembangan industri yang cepat.

Permasalahan ini yang harus diatasi perguruan tinggi dengan memperkuat koneksi dengan industri.

"Tripartit antara pemerintah, industri, dan PT harus sejalan. Riset-riset yang dihasilkan PT harus ditunjang regulasi pemerintah sehingga menarik industri. Kini Untar juga tengah berupaya mengembangkan kapasitas dosen dengan memberikan kesempatan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi dalam rangka mempekuat riset nantinya," ujar Agustinus.

Di tempat terpisah, pengamat pendidikan Doni Koesoema menilai salah satu sebab rendahnya budaya riset di PT ialah kegagalan pendidikan dasar yang belum mampu menumbuhkan minat serta kemampuan membaca dan menulis.

Padahal, hal itu merupakan dasar untuk menciptakan hasil riset yang berkualitas.

"Riset kan mengandalkan kemampuan membaca, menulis, dan menganalisis. Ini masuk pola pikir tingkat tinggi. Kalau ini gagal ditumbuhkan di sekolah, PT akan tetap kesulitan dalam meningkatkan riset," cetusnya.

Karena, lanjutnya, riset di PT akan dapat lebih ditingkatkan dengan cara membangun sistem yang terintegrasi dengan kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

Selain itu, PT harus lebih serius dalam mereformasi penerimaan mahasiswa baru.

Ia pun menekankan jangan sampai perguruan tinggi sekadar mengejar kuantitas guna memenuhi kuota, tetapi harus berdasarkan pada penguasaan pengetahuan yang objektif dan meritokratis agar memperoleh mahasiswa berkualitas.

(Mut/X-7)

Komentar