Internasional

Krisis Serius di Venezuela Kini Jadi Perhatian Serius DK PBB

Kamis, 18 May 2017 10:25 WIB Penulis: Antara

AP

UNTUK pertama kalinya, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa mengalihkan perhatiannya pada krisis yang terjadi di Venezuela sebagai tindaklanjut atas peringatan Amerika Serikat terhadap konsekuensi 'ketidakstabilan serius' di negara tersebut.

Ratusan ribu orang, dalam minggu ini telah turun ke jalan di negara yang berada di Amerika Selatan dan berpenduduk 30 juta orang itu. Mereka marah karena kekurangan makanan, krisis obat-obatan dan inflasi yang melonjak.

Setidaknya 42 orang telah tewas dalam kerusuhan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu itu. "Kami mulai melihat ketidakstabilan serius di Venezuela," kata duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley kepada wartawan setelah rapat tertutup Dewan Keamanan, yang penyelenggaraannya digagas oleh Amerika Serikat.

"Maksud dari pembahasan ini adalah untuk memastikan semua orang menyadari situasinya ... kami tidak berniat mengeluarkan resolusi dewan keamanan," tambahnya.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam menyikapi kondisi negaranya menyalahkan pihak oposisi atas krisis negara yang telah terjadi pada semua sisi. Dia menuduh lawan-lawan politiknya mencoba melengserkannya dalam sebuah kudeta dengan dukungan Washington.

Dalam perkembangan terakhir, pengunjuk rasa menuntut pemilihan umum, pembebasan bagi para aktivis yang dipenjara, bantuan luar negeri untuk mengimbangi krisis ekonomi danotonomi untuk badan legislatif yang dikuasai oposisi.

Seorang pejabat tinggi urusan politik PBB memberi penjelasan terkait situasi di Venezuela tersebut kepada 15 anggota Dewan Keamanan. Duta Besar Uruguay untuk PBB Elbio Rosselli mengatakan bahwa pada saat ini Uruguay percaya bahwa krisis Venezuela harus ditangani di dalam wilayah (secara internal).

Sedangkan Duta Besar Venezuela untuk PBB Rafael Ramirez menuduh Amerika Serikat mendorong elemen kekerasan di Venezuela untuk berusaha menjatuhkan pemerintah Maduro. Namun Haley membantahnya dengan mengatakan bahwa Washington tidak mengusulkan rapat dewan untuk mengganggu urusan dalam
negeri mereka.

"Campur tangan AS mendorong aksi kelompok-kelompok kekerasan di Venezuela," kata Ramirez, setelah menunjukkan foto vandalisme dan kekerasan yang ia salahkan sebagai aksi kelompok oposisi.

Duta Besar Bolivia untuk PBB Sacha Sergio Llorentty Soliz, setuju dengan pendapat Ramirez. "Pertemuan ini, alih-alih membantu memecahkan masalah, malah benar-benar akan menjadi kendala," ujarnya.(OL-3)

Komentar