Internasional

Rouhani dan Raisi Berebut Suara

Kamis, 18 May 2017 07:21 WIB Penulis: Indah Hoesin

AFP

PENDUDUK Iran akan menjadi penentu nasib Presiden Hassan Rouhani yang moderat dan pro-Barat dalam pemilihan umum (pemilu) ketika menghadapi ulama garis keras, Ebrahim Raisi.

Pemilu yang akan digelar pada Jumat (19/5) itu akan menjadi pertarungan dua kuda setelah tokoh konservatif, Wali Kota Teheran Mohammad Bagher Ghalibaf, mengundurkan diri pada Senin (15/5) dan mendukung Raisi.

Pertarungan semakin mengerucut ketika Selasa (16/5), Wakil Presiden Eshaq Jahangiri menarik diri dari pertarungan dan menyatakan mendukung Rouhani.

Rouhani telah berjuang mengeluarkan Iran dari isolasi global selama empat tahun ini dan berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri beberapa sanksi terkait dengan program nuklir mereka pada 2015.

Bagi Rouhani, dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk membangun perekonomian Iran yang telah hancur akibat terkena sanksi selama bertahun-tahun.

"Pada titik tengah, kita tidak akan kembali," ujarnya.

Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan membatalkan kesepakatan tersebut dan mengunjungi rival Iran di kawasan, Arab Saudi.

Hal tersebut membuat kebijakan Rouhani yang moderat dan pro-Barat dalam bahaya.

Presiden Iran itu telah berusaha membingkai pemilu sebagai tempat memilih antara kebebasan sipil dan ekstremisme yang lebih luas.

Sejumlah jajak pendapat tidak resmi pun menempatkan ulama berusia 68 tahun itu di posisi puncak.

Namun, beberapa bulan lalu, Rouhani harus menghadapi kampanye yang ketat ketika kelompok garis keras mengupas catatan ekonomimereka dan menyebut upaya diplomatiknya tidak membantu mengatasi kemiskinan dan pengangguran di negara tersebut.

Sementara itu, lawan Rouhani, Raisi, lebih banyak dikenal di balik layar sebagai jaksa dan Kepala Yayasan Amal Imam Reza yang berkuasa.

Sekutu dekat dan mantan murid pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ini menawarkan keamanan berkelanjutan yang tangguh dan mendorong ekonomi resistansi yang lebih mandiri daripada mengandalkan pihak asing.

Pria 56 tahun itu berusaha menarik suara kelas pekerja dengan menjanjikan lebih banyak dukungan finansial dan memainkan statusnya sebagai 'sayed' yang berarti keturunan langsung Nabi Muhammad.

"Saya mewakili buruh, petani, dan perempuan miskin," ujarnya sambil berjanji akan memberikan tiga kali uang tunai.

Raisi pun mendukung kesepakatan pengangkatan sanksi dengan AS tetapi menuding Rouhani terlalu percaya pada pihak asing.

"Kami seharusnya tidak menunjukkan kelemahan dalam menghadapi musuh," tegas Raisi dalam sebuah acara debat di televisi.

Ancaman apatis

Ketika sebagian besar penduduk Iran menyambut baik penurunan tekanan dari Barat, kemerosotan ekonomi yang tengah berlangsung telah membawa dampak pada moral mereka.

"Cek saya terus terpental. Saya mungkin memilih, tapi saya tahu. Itu tidak akan mengubah apa pun," ujar Babak, penduduk Teheran Selatan.

Pengangguran secara resmi telah mencapai 12,5%, bahkan hampir 30% di kategori kalangan muda.

Banyak kaum muda yang masih banyak belum bekerja atau tengah berjuang mendapat pekerjaan.

Rouhani mengatakan ini merupakan kekacauan finansial yang diwariskan presiden sebelumnya, Mahmoud Ahmadinejad.

Banyak pemilih kelas pekerja yang terjebak retorika duniawi dan janji uang tunai dari kebijakan Ahmadinejad.

Pemilih apatis itu menjadi ancaman bagi rezim Islam yang mempertaruhkan legitimasinya pada jumlah pemilih tertinggi setiap empat tahun.

"Rezim membutuhkan partisipasi. Yang paling penting ialah jumlah pemilih, bukan hasilnya," ujar Clement Therme, dari International Institute for Strategic Studies.

(AFP/I-2)

Komentar