Kesehatan

Hindari Kecacatan akibat Charcot Foot

Rabu, 17 May 2017 05:00 WIB Penulis: Eni Kartinah

DANIEL, 53, kini berlega hati. Luka di kaki yang sempat membuatnya amat minder akhirnya sembuh. Walau kini kakinya tak lagi sempurna dan jalannya sedikit pincang, dirinya tetap bersyukur. "Bersyukur saya masih bisa jalan dan yang penting luka di telapak kaki saya sembuh sehingga saya tidak malu lagi bergabung sama kerabat dan teman-teman," ujar laki-laki asal Jakarta Barat itu. Ia berkisah masalah kedua kakinya sudah berlangsung berbulan-bulan. Awalnya 'hanya' bengkak kemerahan. Karena tak ada nyeri, ia biarkan saja bengkak-bengkak di kakinya meski tak kunjung reda.

Namun, lama-kelamaan ada yang aneh dengan bentuk kakinya. Bagian telapak yang seharusnya cekung justru menonjol. Kalau diraba, seperti ada tonjolan tulang di sana. Ia mulai kesulitan berjalan. Masalah terus berlanjut, timbul luka yang makin lama makin dalam dan lebar. Bentuk kakinya pun makin aneh. "Luka kaki itu membuat saya minder, takut orang lain jadi jijik," ungkap wirausaha itu. Singkat cerita, setelah sempat minta tolong tukang urut dan 'orang pintar', akhirnya ia menempuh jalur medis. Hasilnya membuat ia terkejut. Rupanya, problem di kakinya berasal dari penyakit diabetes melitus yang keberadaannya selama ini tak disadarinya.

"Saya terlambat. Baru tahu mengidap diabetes setelah timbul komplikasi di kaki ini. Dokter bilang saya kena charcot foot. Namun untunglah semua bisa diatasi. Luka sudah sembuh, kaki juga sudah dioperasi sehingga bentuknya lebih baik," tuturnya. Apa yang dialami Daniel mungkin mewakili banyak penderita diabetes lainnya. Data International Diabetes Federation menyebut 50% penderita diabetes tak menyadari penyakit itu hingga timbul komplikasi, termasuk komplikasi di kaki. Tercatat, sepertiga dari total angka penderita diabetes melitus memiliki faktor risiko ataupun keluhan di area kaki dan pergelangan tangan. Salah satu masalah kaki pada penderita diabetes ialah charcot foot seperti yang dialami Daniel.

"Charcot foot perlu ditangani secara tepat dan tuntas karena akan menimbulkan pelemahan tulang yang berujung pada kerusakan sendi dan deformitas (perubahan bentuk) kaki hingga menyebabkan cacat permanen," ujar dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Pondok Indah-Puri Indah, Jakarta, Ihsan Oesman, pada diskusi kesehatan di Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan gejala awal charcot foot ditandai dengan bengkak di kaki tanpa nyeri, kulit kaki terus-menerus berwarna kemerahan, ketika diraba terasa hangat, dan denyut nadi di area tersebut meningkat. Lama-kelamaan terjadi perubahan bentuk kaki karena tulang melemah, bahkan patah, dan sendi-sendi menjadi rusak.

Bagaimana charcot foot terjadi belum diketahui secara pasti. Namun, ada teori yang menjelaskan bahwa kerusakan pada sistem saraf penderita diabetes menyebabkan terjadinya percepatan sirkulasi darah ke tulang dan peningkatan resorpsi (pelepasan) mineral tulang. "Percepatan sirkulasi darah membuat darah tidak sempat untuk memberikan zat-zat yang diperlukan tulang, sendi, dan jaringan sekitarnya. Lama-kelamaan terjadi kerusakan," imbuh dokter konsultan foot and ankle itu.

Operasi
Kerusakan tulang dan sendi yang terjadi, lanjut Ihsan, membuat bentuk kaki jadi tak normal. Pada kondisi lanjut, penderita menjadi sulit berjalan. Bahkan ada pula yang tulangnya menembus jaringan otot dan kulit hingga timbul luka. Luka juga bisa mudah timbul jauh sebelum deformitas parah itu terjadi. Luka tersebut timbul karena deformitas tulang dan sendi kaki di tahap awal sudah menimbulkan pergeseran titik-titik tumpu pada telapak kaki. Jadi, ketika penderita berdiri ataupun berjalan, titik-titik tumpu pada telapak kaki tidak lagi berada pada posisi yang normal. Akibatnya, telapak kaki mudah kapalan dan mengalami luka.

Berbeda dengan luka pada orang normal, pada penderita diabetes luka sulit disembuhkan. Jika tak ditangani dengan saksama sedari awal, luka tersebut akan semakin parah. Penanganan charcot foot, lanjutnya, meliputi perawatan luka, menghindarkan kaki dari kegiatan berdiri apalagi berjalan, serta penggunaan perangkat total contact cast, yakni semacam balutan gips khusus dengan bantalan tebal. Tujuannya untuk menormalkan kembali struktur tulang dan posisi titik-titik tumpu di telapak kali. "Namun, untuk kondisi yang lebih parah, diperlukan tindakan operasi untuk meminimalkan deformitas yang terjadi. Mungkin hasil operasi tidak akan mengembalikan bentuk kaki seperti semula. Akan tetapi, setidaknya mengurangi deformitas yang terjadi." Tentu saja, lanjut Ishsan, semua penanganan itu juga diiringi dengan upaya pengobatan terhadap penyakit diabetes dan modifikasi gaya hidup untuk mengendalikan kadar gula darah. (H-2)

Komentar