Properti

Bisnis Rumah Tua juga Menguntungkan

Selasa, 16 May 2017 01:45 WIB Penulis: Iqbal Musyaffa

Ilustrasi

BISNIS rumah tua sama menguntungkan dengan rumah baru.

Sudah banyak pelaku investasi model ini meskipun tidak sebanyak investor yang membeli rumah baru.

Pelaku investasi pada rumah tua umumnya ialah orang yang sudah berpengalaman dan paham mengenai kondisi rumah yang bisa direnovasi untuk dijual lagi.

"Biasanya pelakunya adalah agen properti yang berpengalaman. Ketika dia menemukan rumah tua yang potensial, dia langsung membelinya daripada dijual ke orang lain untuk kemudian dia perbaiki," ujar Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung ketika dihubungi, Senin (15/5).

Sebenarnya, membeli rumah tua sangat menguntungkan baik untuk investasi maupun untuk dihuni. Yang terpenting harus diperhatikan ialah struktur bangunannya apakah masih kukuh atau tidak.

"Kalau mau pusing sedikit, cari rumah jangan yang bagus banget. Yang penting strukturnya masih kuat. Biasanya rumah tua dijual hanya dengan menghitung harga jual tanah saja atau jual rugi karena penjualnya mengira rumahnya dibeli pasti untuk dibongkar," lanjutnya.

Struktur bangunan biasanya memiliki komposisi 40% dari total biaya konstruksi.

Selama struktur bangunan masih bagus, rumah tua tinggal direnovasi seperlunya, dan ketika dijual pun akan sangat menguntungkan.

Sebagaimana dirasakan Untung yang pernah meraup keuntungan dari praktik ini.

Keuntungan lain membeli rumah tua, menurutnya ialah karena secara struktur dan material bangunan, rumah tua jauh lebih bagus daripada rumah baru.

Hal itu menjadi nilai lebih bagi konsumen yang membeli rumah tua.

"Selain itu, kalau pintar mencari, banyak rumah tua di Jakarta yang harganya lebih murah daripada rumah baru di luar Jakarta. Saya pernah membandingkan harga rumah di Serpong dengan fasilitas dan lingkungan sekitar yang sudah matang sekitar Rp20 juta/m2. Tapi harga rumah tua di Rawamangun sekitar Rp12 juta/m2," urainya.

Untung mengatakan masyarakat perlu diedukasi terkait dengan cara pembelian rumah karena sebenarnya banyak opsi agar bisa meraih keuntungan.

Meskipun pembelian rumah tua mulai marak, tidak terlalu mengganggu pasar rumah baru secara signifikan karena segmen pembelinya agak berbeda.

Pembeli rumah baru biasanya mementingkan lingkungan dan lebih memilih rumah cluster.

Sementara itu, pembeli rumah tua memang mencari rumah saja.

"Kalau pembeli rumah pertama biasanya tidak berani beli rumah tua karena tidak tahu kelengkapan surat-suratnya, dan DP rumah tua tidak bisa dicicil. Kalau rumah baru banyak penawaran kemudahan DP. Sebenarnya, value rumah tua tidak kalah dari rumah baru," katanya.

Butuh kepiawaian

Pada kesempatan terpisah, Direktur Housing Urban Development Zulfi Syarif koto mengatakan investasi rumah baru ataupun rumah bekas butuh kepiawaian pelakunya.

"Untuk investasi rumah bekas, pelakunya harus menguasai produk serta sasaran konsumen yang dituju ketika akan menjual nantinya. Sementara, untuk investasi rumah baru tergantung pada kekuatan si pelaku menahan rumah yang dibelinya sebelum kembali dilepas ke pasar."

Menurutnya, kedua pola investasi properti dengan membeli rumah baru ataupun rumah lama sama-sama menguntungkan.

"Bagi pelaku investasi rumah bekas, ketika ingin merenovasi rumah kan butuh izin renovasi ke pemda. Selama proses renovasinya benar dan juga membayar pajak penghasilan serta kewajiban pajak lainnya serta surat-suratnya lengkap, tentu tidak ada masalah dalam praktik investasi rumah bekas." (S-1)

Komentar